Kau di mana? Aku selalu menunggu kau pulang ke rumah kita. Aku menyibak tirai jendela. Melamun memandang ke jalan sempit di lantai bawah. Kala itu tak ada airmata yang jatuh menitik. Aku tidak paham maknanya pedih. Aku hanya ingin kau hadir. Namun kau tak ada, kau kayu rapuh yang dimakan rayap. Kau buah segar yang digigiti ulat. Terus berkeliaran kampung tanpa mengingatku.
Kini aku beranjak dewasa. Kenangan termanisku denganmu, saat kau menggendongku, membelikanku es lilin. Mengajakku menangkap capung. Menyabit rumput di hutan. Mencari ubi di ladang. Dan tak akan pernah terlupakan saat jemarimu membelai ubunku seraya mengulurkan bunga hutan yang sering dijuluki "KEMBANG GENI" oleh penduduk. Kau menyelipkannya di telinga. Lantas tubuh ini riang berlari keluar rumah melanjutkan mainanku membangun gedung tinggi dengan menumpuk tanah.
Ayah! aku memanggilmu dalam sunyi. Aku ingin kau memelukku seperti dulu lantas kau berkata bahwa aku cantik jelita. Ayah! Tanpamu aku tak sanggup berbuat apa-apa. Empat tahun kau meninggalkanku, empat tahun pula aku terpuruk. Aku menjadi kurus, tak cantik. Ronaku gelap. Mataku kusut sebab setiap malam aku sering mengingatmu, bersama jatuhnya airmataku. Aku pun sakit. Sering tersungkur tak berdaya setengah sadar di pembaringan. Bahkan langkahku pun nyaris hilang. Pribadiku mendadak rapuh. Sebab, kau semangat hidupku. Aku ingin membuatmu bangga dengan apa yang aku lakukan. Sayang, kau datang dengan kabar tanpa nyawamu. Januari empat tahun lalu kau dimakamkan. Selama itu pula hidupku kosong. Berkali-kali aku mencoba untuk bangkit. Belajar mengikhlaskan. Namun itu justru membuatku semakin terluka. Kau di mana sekarang, Ayah? Apakah kau tahu jika saat ini aku terluka? Lihatlah jemariku yang kurus seolah tak sanggup lagi merangkai kata-kata rindu padamu. Seharian ini pula aku tak nafsu menelan nasi, sebab aku merindukanmu. Aku belum beranjak dari pembaringan.
I MISS YOU, DAD!
Komentar
Posting Komentar