Langsung ke konten utama

Postingan

Apa Salahku?

Jika ia punya otak...... Aku melihatnya!             Sebuah makhluk kata Adam, titisan keindahan leluhur yang selalu disanjung-sanjungkan alam. Ia tercipta berbeda dari yang lain. Kemelokan jiwa menjadi intan. Rupawan wajah adalah kelebihan. Pandai menikam lawan dalam kedengkian. Nafsu dicipta dengan keseimbangan akal pikiran. Jika kau tak percaya, tanyalah kepada Elang yang hari ini melayang di permukaan langit tak bertiang. Beberapa kawan burung baru saja lari menembus awan. Keriangannya dibaurkan oleh tangis kabut yang bersembunyi di balik selimut mentari. Cakrawala ini menghampar biru cerah memukau pemandangan takjub, sayang makhluk itu buta.             "Tapi, ia membuat jantung ini malas berdetak!" jiwaku menyeringai tersambut buliran airmata.             Kusingkap ujung daun di tengah rerimbunan semak-se...
Postingan terbaru

Pelangi di Malam Hari

Pelangi di Malam Hari             Di otak yang masih belum dipoles noda. Ia selalu berpikir bahwa akan sanggup terbang memetik bunga di batas senja. Menggapai bintang. Meniup bola api mentari. Duduk di pangkuan rembulan. Meluncur di cekungan pelangi. Khayalannya kaya akan keindahan surgawi. Tak pernah memperpusingkan dosa. Tidak tahu makna cinta remaja. Tak memahami tiupan angin topan membawa bencana.             Sejelasnya jikalau keinginannya meminta boneka, meminta ice cream, meminta mainan wanita, meminta uang saku lebih, tak diberikan. Menurutnya Bumi telah meledak. Luapan danau airmata pun akan ia semburkan membasahi jagat raya. Teriakannya akan mengganggu kedamaian malam. Tangisnya menjelegar layaknya maut yang tak bisa ditunda kemauannya memangsa nyawa, jika sudah dititahkan untuk mencabutnya. Inilah dia otak sang belia. Tidak ada sesuatu yang tidak mungkin d...

Kado Spesial

Pisbon.blogspot.com      Kasih Ibu kepada Beta, tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, bagaikan surya menyinari dunia. Kasih ibu sepanjang jaman. Kasih anak sepanjang penggalan. Mentari menyeruak dalam balutan kabut. Di ufuk Timur itu, bolamnya dunia menerangi awan yang kalang kabut. Cicit burung yang bersenda gurau di tiang-tiang listrik mengendar di daun telinga. Nuansa gedung penembus langit kembali  memantulkan cahaya mentari yang tak terlalu terik karena terhalau laju kabut. Sesekali nampak, sesekali tak memeta jejak. Namun walaupun begitu, tetap saja pagi menjadi awal mula bagi kehidupan.             Di sudut kota, tepat di balik gedung-gedung yang menerobos langit ke tujuh. Pemuda berambut gondrong dan awut-awutan itu, memerosotkan tubuhnya di dinding tembok. Sudah tiga minggu dia tidak pulang ke penaungan ibunda. Lantaran kantong sakunya belum tertimbun logam untuk...