Jika ia punya otak...... Aku melihatnya! Sebuah makhluk kata Adam, titisan keindahan leluhur yang selalu disanjung-sanjungkan alam. Ia tercipta berbeda dari yang lain. Kemelokan jiwa menjadi intan. Rupawan wajah adalah kelebihan. Pandai menikam lawan dalam kedengkian. Nafsu dicipta dengan keseimbangan akal pikiran. Jika kau tak percaya, tanyalah kepada Elang yang hari ini melayang di permukaan langit tak bertiang. Beberapa kawan burung baru saja lari menembus awan. Keriangannya dibaurkan oleh tangis kabut yang bersembunyi di balik selimut mentari. Cakrawala ini menghampar biru cerah memukau pemandangan takjub, sayang makhluk itu buta. "Tapi, ia membuat jantung ini malas berdetak!" jiwaku menyeringai tersambut buliran airmata. Kusingkap ujung daun di tengah rerimbunan semak-se...
Pelangi di Malam Hari Di otak yang masih belum dipoles noda. Ia selalu berpikir bahwa akan sanggup terbang memetik bunga di batas senja. Menggapai bintang. Meniup bola api mentari. Duduk di pangkuan rembulan. Meluncur di cekungan pelangi. Khayalannya kaya akan keindahan surgawi. Tak pernah memperpusingkan dosa. Tidak tahu makna cinta remaja. Tak memahami tiupan angin topan membawa bencana. Sejelasnya jikalau keinginannya meminta boneka, meminta ice cream, meminta mainan wanita, meminta uang saku lebih, tak diberikan. Menurutnya Bumi telah meledak. Luapan danau airmata pun akan ia semburkan membasahi jagat raya. Teriakannya akan mengganggu kedamaian malam. Tangisnya menjelegar layaknya maut yang tak bisa ditunda kemauannya memangsa nyawa, jika sudah dititahkan untuk mencabutnya. Inilah dia otak sang belia. Tidak ada sesuatu yang tidak mungkin d...