Kasih Ibu kepada Beta, tak terhingga
sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, bagaikan surya menyinari
dunia.
Kasih ibu sepanjang jaman. Kasih
anak sepanjang penggalan.
Mentari
menyeruak dalam balutan kabut. Di ufuk Timur itu, bolamnya dunia menerangi awan
yang kalang kabut. Cicit burung yang bersenda gurau di tiang-tiang listrik
mengendar di daun telinga. Nuansa gedung penembus langit kembali memantulkan cahaya mentari yang tak terlalu
terik karena terhalau laju kabut. Sesekali nampak, sesekali tak memeta jejak.
Namun walaupun begitu, tetap saja pagi menjadi awal mula bagi kehidupan.
Di
sudut kota, tepat di balik gedung-gedung yang menerobos langit ke tujuh. Pemuda
berambut gondrong dan awut-awutan itu, memerosotkan tubuhnya di dinding tembok.
Sudah tiga minggu dia tidak pulang ke penaungan ibunda. Lantaran kantong
sakunya belum tertimbun logam untuk membuah tangankan kado istimewa bagi
seseorang yang amatlah dicintainya. Dihisapnya berkali-kali, sebuah tubuh mulus
yang berbalut kertas putih, bermerek Sampoerna
Mild. Dia lalu memainkan asapnya
menjadi huruf O. Sejenak bibirnya membulat lalu mengatup seperti semula.
Dari
kemarin dia hanya mengenakan pakaian kaos berlukis tengkorak, dengan warna
hitam kelam sepadan dengan rambutnya. Celana pendek dan sepatu butut pun
menempel di kakinya. Bibirnya sekering jalan yang dijejakinya. Matanya sendu,
pucat dan menyembunyikan pedih yang hampir tak berujung. Bau tubuhnya bacin,
hampir selama itu pula dirinya tak tersiram air, tapi tak pernah telat wajahnya
yang kusam itu, berpucat pasi akibat deraian airmata.
Bisa
dikata dia seorang lelaki, tapi hatinya rapuh bak perempuan lemah tak berdaya.
Jikalau dia mengingat sosok ibu yang dulu mengandungnya. Sosok ibu adalah orang
yang sangat dimuliakannya. Menyadari kesibukan ibunya selama ini, semuanya demi
diriya. Ibu hanya memberi dan memberi, tak pernah mengharapkan imbalan kecuali
hal indah bagi putranya sendiri. Hidupnya hampa tanpa seorang ibu. Angin pagi
itu membawa anganya ke masa silam yang telah dilaluinya. Klise kasih ibu yang
telah tertimbun waktu, seolah tampak di layar lebar wajahnya.
Ibunya
membangunkan mimpinya dengan lembut. Menghidangkan makanan lezat di meja bundar
rumah makannya. Kala sakit ibunya juga yang menemani. Hampir seharian penuh
ibunya bekerja banting tulang, jungkir balik. Pagi bersih-bersih rumah,
belanja, memasak, mencuci, malamnya jika sempat masih menjahit dan mengajarinya
belajar. Bukan main kesetiaan ibunda kepada anak yang sekarang malah tengah
terpekur di balik tembok raksasa para berdasi biru itu.
"Ibu...
kenapa kaukorbankan segala-galanya untukku?" tanyanya kala malam merangkak
dalam desah napas angin kerinduan kepada sang suami yang telah lama
meninggalkannya sebatang kara. Mereka berdua menikmati malam di balkon rumahnya
yang tak terlalu luas. Ravid anak semata wayangnya hanya bersandar di pangkuan
kakinya menatap langit, usai sejenak menatap binar wajah ibunya yang
mencerminkan kerentaan.
"Lihat
ke atas, Nak." Pinta beliau yang belum menyadari bahwa Ravid telah
menatapnya lebih dulu, lautan biru yang menggelap dengan kemilauan bintang itu.
Beliau
menunjuk seribu bintang-bintang itu dengan telunjuknya.
"Kaupaham
makna bintang itu, Nak?" tanya Sulastri yang tak lain adalah ibundanya. Ravid
yang waktu itu baru berumur 11 tahun hanya menggelengkan lehernya.
"Bintang
adalah simbol keindahan untuk dunia ibu. Ibu sangat mengagumi bintang daripada
rembulan, karena bintang memancarkan cahayanya sendiri, sementara rembulan bisa
terpancar karena pantulan sinar Matahari. Ibu ingin kamu seperti bintang,
Nak." Ungkap Sulastri dengan binaran mata yang kaya akan harapan.
"Tapi
Ibu, bagaimana aku bisa menjadi bintang? Aku tidak punya cahaya dan aku hanya
manusia biasa yang hanya bisa menyusahkan Ibu," terangnya lalu bangkit
menatap wajah Sulastri. Ravid duduk di depan Sulastri.
"Caranya
mudah Nak, belajarlah sungguh-sungguh dan berpikirlah yang dewasa. Jangan suka
menggantungkan hidup kepada orang lain! Seperti rembulan yang menggantungkan
hidupnya kepada Matahari. Berilah
keindahan kepada orang lain dengan jerih payahmu sendiri. Oke, Nak?" kata
Sulastri dengan mantap.
Ravid
yang waktu itu belum terlalu paham, hanya mengangguk. Tak tahu bahwa
anggukannya menyimpan makna harapan yang terdalam bagi Sulastri.
Enam
tahun kemudian, saat umurnya menginjak garis tujuh belas. Semburat kekecewaan
menghajar sanubari Sulastri. Dia dikatakan tidak lulus karena sering membolos
dan berkelahi. Ravid memang anak pandai dan bisa dibilang cerdas. Nilainya
selalu di atas angka tujuh. Hanya saja, kesibukan orangtuanya yang membuat
perilakunya tidak terlahir budiman. Mungkin di depan Sulastri dia bertindak
lemah lembut dan penurut, tapi di belakang dirinya dia tak pernah telat membuat
onar.
"Kau
anak satu-satunya ibu, Nak. Kenapa kamu tak bisa membanggakan hati ibu? Hah?" bentak Sulastri usai pulang
dari sekolahan, menghadiri pengumuman kelulusan.
Ravid
hanya menunduk menatap lantai kamarnya yang tak berubin. Tanah merah menempel
di kakinya yang terbungkus sepatu usang. Tubuhnya masih terbalut kain putih dan
celana abu-abu. Bibirnya dikunci rapat-rapat, tak berani membantah Sulastri
sedikit pun.
"Kau
sebenarnya anak yang pandai dan cerdas, lantas mengapa tak kaugunakan
kecerdasan otakmu itu?" hardik Sulastri.
"Kenapa
hanya diam saja?" Sulastri mengguncang-guncangkan bahu Ravid. "Jawab
pertayaan ibu, Nak! Ibu lelah bertahun-tahun mencukupi sekolahmu, tapi kamu
malah tidak lulus seperti ini..." keluh Sulastri dengan aliran butir hujan
dari matanya yang menua.
"Maafkan
aku, Bu." Kali itu Ravid berani membuka mulut, tapi wajahnya masih
menunduk.
"Apa
maumu, Nak? Apa maumu! Hingga kamu tak mau berjuang menjadi bintang dan
mengamalkan kebaikan?" Sulastri jongkok di depan tubuh Ravid. Dia
memandang paras Ravid yang berkaca-kaca.
"Ravid
ingin disayang Ibu, Ravid benci Ibu, karena Ibu selalu sibuk bekerja siang
malam. Pagi beres-beres rumah, siangnya kerja sampai jam 12 malam. Itu yang
membuat Ravid emosi dan kesal, Ravid ingin berkumpul dengan Ibu. Tapi... Ibu
selalu tidak ada waktu. Oleh sebab itu..." Ravid diam sejenak.
"Apa,
Nak? Katakan!"
"Ravid
sering bolos dan mencari kesenangan dunia luar, Bu." Terang Ravid dengan
penuh penyesalan.
Plaaakkkk.... "Kesenangan kamu bilang?"
hardiknya usai melesatkan satu tamparan di pipi Ravid. "Ibu susah payah
bekerja mati-matian malah kamu mencari kesenangan?" bentak Sulastri dengan nada serak.
Meluluskan putra semata wayangnya dari SMK ternama di
kotanya adalah impiannya sejak Ravid berusia 5 tahun. Dari dulu Sulastri selalu
memberikan hal terbaik untuk putranya. Mulai dari memilihkan
sekolahan-sekolahan favorit dan menyediakan alat-alat belajar seperti;
komputer, kamus elektrik, buku-buku bacaan, dan mengikutkannya les piano di
luar jam belajarnya sewaktu SMP. Tapi ternyata hal yang diyakininya akan
berakhir indah, kini telah sia-sia. Semuanya hanya berbalut kenang-kenangan
menyedihkan. Lantaran di balik semua itu, Ravid malah suka kluyuran tanpa
sepengetahuan Sulastri. Dia pun menyesal karena tak bisa mendidik buah hatinya dengan
kasih sayang yang diharapkan Ravid. Padahal selama ini Sulastri rasa sudah
memberikan kasih sayang yang dipikirnya cukup. Kalau tidak untuk siapa lagi,
dia membanting tulang, jika bukan demi anaknya.
Pihak
negara sebenarnya meluluskannya, karena nilai ujian nasionalnya memuaskan mata.
Tapi pihak sekolah tak meluluskannya, lantaran perilakunya tidak baik dan
sangat tercela. Terpaksa dia harus mengulang setahun lagi di SMK, baru ijasah
akan diberikan tahun depan.
"Kamu
ini sudah dewasa! Sudah tujuh belas tahun! Seharusnya kamu mengerti mengapa ibu
seperti ituuuu!!!" Sulastri kembali menggoncang-goncangkan tubuh Ravid.
"Ibu!
Tapi... selama SMP aku belum cukup dewasa untuk memikirkan itu, aku masih
seperti anak kecil yang ingin juga dikasihi seperti anak lain. Apa aku salah
kalau aku menuntut hal itu?"
"SMP
itu kamu sudah dewasa! Ibu nggak menyangka kalau ternyata kamu malah sebodoh
ini, ibu tak mengira di balik nilai-nilaimu yang memelok mata, jiwamu malah tak
terurus sama sekali," kata Sulastri penuh kekecewaan.
Ravid
berpaling melangkah menuju kamarnya yang sederhana. Di sana ia membanting
tubuhnya di atas kasur tua. Matanya menatap lurus ke langit-langit yang
mengusam. Penyesalan berkecamuk di dalam dada. Selama ini, dia selalu berusaha
menjadi yang terbaik untuk Sulastri, tapi ego jiwanya yang miskin akan kasih
sayang selalu membuatnya marah dan mudah emosi kepada sesama. Dalam diam
Sulastri mengikuti langkahnya.
"Maafkan
ibu, Nak. Ibu tidak bisa mengurusmu dengan baik, ibu hanya bisa memberimu makan
dan mengajarimu belajar, itu saja seminggu sekali di hari Minggu. Kalau tidak!
Ibu selalu memintamu memasak sendiri, maafkan ibu Nak... ibu memang
pengecut!" Kata Sulastri yang berdiri di mulut pintu dengan genangan
airmata. Ravid pun bangun dari pembaringannya, ia menghampiri tubuh Sulastri
dengan penuh penyesalan.
Semenjak kepergian ayahnya dia menjadi anak
yang brutal dan suka kluyuran. Dia hanya akan pulang saat jam kerja Sulastri
usai.
Batin
Ravid terpukul palu teramat pahit. Ayahnya adalah penopang langkahnya yang
sangat berharga. Hanya beliau pula yang membuat Ravid tersenyum dan selalu
bersemangat menjalani hidupnya. Dia selalu berusaha agar nilai akademi dan non
akademi di sekolahnya sempurna. Tentunya demi sang ayah, tapi... pukulan khodam
yang tak diinginkan menghajarnya. Malaikat maut telah mencambuk nyawa ayahnya.
Dia pun menjadi pribadi yang resah dan gelisah. Tanpa ayah apa yang bisa
diperbuatnya? Sementara Sulastri hanya bekerja menjadi pelayan toko supermarket
yang tak jauh dari rumahnya.
Dia
membuang putung rokoknya ke pinggir trotoar. Disibakkan rambutnya yang gondrong
itu ke belakang. Lensanya menatap ke langit.
"Tiga
minggu telah berlalu, tapi aku belum bisa berpikir bagaimana caranya aku
membahagiakan Ibuku. Sementara besok adalah ulang tahun Ibuku..." katanya
iba sambil menatap awan yang berendar di angkasa.
Yah, tepatnya dia kabur dari rumah untuk
memberikan kejutan indah di hari ulang tahun ibunya yang ke 38. Setelah tiga
bulan lalu ia menombak hati ibunya dengan kekecewaan yang teramat dalam. Ia
merasa tak berguna dengan kesemua pribadi buruknya, yang hanya suka begadang
dan menjadi perokok aktif. Lihat sejam saja dia sudah menghabiskan sepuluh
batang rokok.
Selama
dia kabur dari rumah tiga minggu itu, ia tak sempat memikirkan bagaimana
kondisi tubuhnya yang semakin memburuk karena kebanyakan zat nikotin yang telah
dihisapnya bertahun-tahun semenjak SMP, belum lagi tubuhnya yang awut-awutan.
Pikirannya hanya terfokus pada sosok ibu yang telah melahirkannya dari dulu. Apa
yang harus ia perbuat untuk membanggakan ibunya? Apa? Apa? Apaaaaaa...??? Dalam
batin ia menjerit dan menahan airmata.
Sejenak
dia melihat bungkus rokok yang ada di depannya. Ia mengambilnya. Lalu
memandanginya dengan seksama bungkus rokok Sampoerna
Mild itu.
"Selama
ini hidupku hanya habis untuk menghisap tubuhmu, aku belum pernah memberikan
hal indah untuk Ibuku... aku adalah pecundang!" ecoh dirinya sendiri.
Dilemparnya bungkus itu dengan penuh emosi.
Langit
cerah namun harinya tetap keruh. Malam berputar lebih cepat dari sebelumnya.
Hari pun kembali beranjak pagi. Waktu itu Ravid menuntun langkahnya dengan
gontai menyusuri jalan menuju rumahnya, sambil menendang-nendang kaleng sprite yang sudah tak berisi.
Bagaimanapun rindunya sudah berkecamuk di dalam dada.
Mendadak
terbesit dalam benaknya tentang kado spesial yang tak pernah dibayangkannya
sama sekali. Dia mengambil kaleng itu, dan mengusap kotoran yang ada di
sekeliling tubuhnya.
*****
Sesampainya
di depan pintu rumahnya tak dijumpa manusia agung yang dirindunya. Dia masuk ke
dalam ruang tengah, barulah di situ dia menemukan Sulastri yang sedang
terbaring di kursi panjang ruangan itu, sembari mendekap foto dirinya. Dengan
pelan dia menepuk pundak Sulastri agar wanita itu terbangun dari tidurnya.
Sejenak mata Sulastri terkuak. Beliau nampak berkedip-kedip menetralisir alam
sadarnya, lalu mendudukkan tubuhnya.
"Ibu,"
kata Ravid dengan kelembutan.
"Raviiiiiiddddd...."
Sulastri langsung mendekap putranya dengan penuh kasih. "Maafkan ibu Nak, ibu selama ini egois, ibu tak akan
pernah sibuk bekerja lagi, ibu akan terus menjagamu sampai dewasa. Ibu janji...
ibu telah menabung untuk usaha gado-gado di depan rumah kita! Ibu akan selalu
di rumah menemanimu, Nak! Maafkan ibu..." isakan Sulastri tumpah di
bahunya.
"Ibu
tidak salah..." ujar Ravid setengah menahan isakan.
"Ibu
sangat menyayangimu, jangan tinggalkan ibu lagi. Ibu akan di rumah dan mencari
nafkah di rumah saja...!" terang Sulastri.
"Ibu...
maafkan aku! Selamat ulang tahun, Ibu..." Kilah Ravid sambil membalas
pelukan Sulastri. Ravid sengaja memperpendek percakapan.
"Makasih
Nak, kamu ingat ulang tahun ibu," Sulastri sangat terharu.
"Ibu..."
panggilnya sambil melepas pelukan Sulastri.
"Ravid
ingin memberikan kado ini, Bu." Tuturnya seraya mengulurkan benda silinder
dengan berbungkus kertas batik.
"Apa
ini, Nak?" tanya Sulastri.
"Itu—"
Ravid tak berani mengatakan yang sejujurnya.
Akhirnya
Sulastri membuka kado itu dengan pelan. Dan ternyata isinya kosong, tak ada
apa-apanya.
"Kaleng
kosong? Tak apalah ibu senang mendapat hadiah ini darimu..." kata Sulastri
walau rautnya menyimpulkan kekecewaan.
"Hari-hariku
selalu kosong tanpa Ibu. Seperti kaleng itu Ibu... Hariku hampa Bu, jika Ibu
tidak ada di sisi Ravid... Ravid menjadi keras dan seperti gembel begini karena
Ravid selalu merasa hampa dan merindukan belaian kasih sayang, Ibu. Entah
bagaimana lagi Ravid melampiaskan kehampaan itu, kalau tidak dengan cara
mencari kesenangan di dunia luar." Kata Ravid sambil sesenggukan. Hatinya
benar-benar pahit dan dihunus perasaan sakit yang amat dalam. Bisa dipeluk dan
mendengar bahwa ibunya sekarang akan bekerja di rumah adalah hal yang baginya
sangat membahagiakan.
"Anakku...
kaleng ini adalah kado terspesial yang ibu dapatkan seumur hidup! Kaleng ini
menyadarkan ibu akan arti sebuah kasih sayang dalam keluarga. Maafkan ibu,
Nak."
Mulai
hari itu Ravid selalu menghabiskan waktunya di rumah untuk membantu berjualan
kecil-kecilan. Walau hasilnya tidak seberapa, mereka tetap mensyukurinya. Dan dari
detik itu pula, Ravid rajin membaca. Buku yang dulu dibelikan Sulastri dibaca
dengan memahaminya sampai sedetail-detailnya. Akhirnya dia nekat membuka les
privat seluruh pelajaran.
Sosok
Ravid yang dulu gondrong dan mengerikan itu telah berubah menjadi sosok guru
privat rupawan yang dipersibuk oleh mata-mata pelajaran muridnya. Sampai
sekarang ia masih aktif menjadi seorang guru tanpa ijazah SMK. Dan tentunya itu
membuat Sulastri amatlah bangga.
Tahun
2014 Ravid mendapat panggilan dari lembaga bimbingan pelajaran anak-anak SD dan
SMP. Dengan kemampuan yang dimilikinya pun dia berani melangkah menuju gerbang
ilmu yang semakin luas. Dia ingin mengisi kekosongan otaknya dengan pelbagai
pengetahuan kepada murid didiknya. Karena baginya, dengan mengajar dia akan
dituntut untuk belajar. Semua itu pun tak luput karena dia ingin membanggakan
Sulastri.
Ravid
telah memberikan hal indah untuk ibundanya. Anda????
Hanya
satu yang mulia, IBU—ku.

Komentar
Posting Komentar