Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2016

Don't Cry!

Mungkin dua kata itu yang hendak disiulkan batin. Jiwaku merana, melihat mereka menggenggam kepercayaan. Sayang, mungkin aku telah menghancurkan. Wajah-wajah lugu itu membuat batinku tersiksa. Aku ingin menjerit, menelan bintang, melempar rembulan, kutiup kabut, kuinjak bumi. Pada akhirnya jiwa juga raga ini kan tenggelam, lantas menghilang. Biarkan pinta maafku yang melayang. Aku ingin bertekuk lutut di hadapan kawan juga para tetangga. Meminta maaf yang senantiasa diberikan dengan percuma. Kau meyakinkanku bahwa aku tak melakukan kesalahan yang fatal.  "Setidaknya ada yang tampil dari RT kita, itu sudah cukup bagus!" Kata-katamu masih membekas dalam ingatan. Dan aku akan berusaha untuk tidak melupakan.  Kawan, inilah salah satu kisahku yang sanggup kau nilai menggelikan. Tujuh belas Agutus hari ulang tahun kemerdekaan Indonesiaku yang tercinta. Negara di mana aku mengembangkan pemikiran, tempat tingggal yang kujadikan sandaran dalam berkeluh kesah membasmi ...

K.A.U.

Sudahkah kau tidur, Sayang? Hmmmm... mungkin kau akan tertawa, sebab aku tak pernah mengungkapkan kata indah itu. Bahkan di tulisan mana pun. Langka. Amat sangat tidak ada.Torehanku kau kenal kaku, bermakna dingin, terkadang buas. Mungkin_ aku hanya menafsirkan. Ada satu hal yang membuat dua mataku malam ini enggan terpejam. Perjuanganmu! Oh manis! Kau menghargaiku.Ucapanku tak kau acuhkan. Saat aku menyuruhmu membuka akun blogerku. Lantas, meskipun kantongmu kering bahkan kau sedang kesukaran membeli bensin, kau sempatkan  menukarkan rupiah terakhir. Untuk mendapatkan data internetan! Inilah kau adanya dalam hidupku. Sosokmu yang jauh dari kata hangat, namun menghangatkan. Karaktermu yang bertolak belakang dengan jalur lembut, namun perbuatanmu melunakkan. Jiwaku yang gersang mendadak subur. Karenamu, aku tersenyum. Sebabmu, aku merangkai imajinasi untuk membanggakanmu kelak.  Selamat malam. Semoga mimpi indah! Aku harap tak akan pernah ada masalah berat yang menimpa...

Senyum ini!

Senyum ini... Senyum yang mekar kaya dengan impian-impian. Pikiranku menerbangkan sejuta kisah yang tak akan pernah terlupakan. Kukikis waktu yang mungkin teranggap habis. Meski jarak kelak akan memisahkan, namun aku tak pernah sekali pun membayangkan kau di dekat lembaran j.a.u.h. Bagiku kau di sini, di sisi, mengukir cita yang nyaris remuk ditelan asa. Dan mengingatmu, adalah salah satu motivasi dalam hidupku. Kawan! Aku tak akan pernah mengecewakanmu. Aku menuliskan namamu dalam dinding hatiku. Zaman dan cintaku tak akan mampu menggerogoti untuk membuatnya punah. Tanpamu aku maju, sayang langkahku layu. Memoar.16 Agustus 2016.

WHERE ARE YOU, DAD?

Kau di mana? Aku selalu menunggu kau pulang ke rumah k ita . Aku menyibak tirai jendela. Melamun memandang ke jalan sempit di lantai bawah. Kala itu tak ada airmata yang jatuh menitik. Aku tidak paham maknanya pedih. Aku hanya ingin kau hadir. Namun kau tak ada, kau kayu rapuh yang dimakan rayap. Kau buah segar yang digigiti ulat. Terus berkeliaran kampung tanpa mengingatku.  Kini aku beranjak dewasa. Kenangan termanisku denganmu, saat kau menggendongku, membelikanku es lilin. Mengajakku menangkap capung. Menyabit rumput di hutan. Mencari ubi di ladang. Dan tak akan pernah terlupakan saat jemarimu membelai ubunku seraya mengulurkan bunga hutan yang sering dijuluki "KEMBANG GENI" oleh penduduk. Kau menyelipkannya di telinga. Lantas tubuh ini riang berlari keluar rumah melanjutkan mainanku membangun gedung tinggi dengan menumpuk tanah.  Ayah! aku memanggilmu dalam sunyi. Aku ingin kau memelukku seperti dulu lantas kau berkata bahwa aku cantik jelita. Ayah! Tanpamu aku ...

RINDU

Aku menyebutm u !                  Apakah judul dari tulisan ini? Tak tahu! Dan seperti biasanya aku hanya akan mengatakan kata. ‘Entahlah!’ Hanya saja, di sini ada sebuah kisah yang ingin aku ceritakan. Aku ingin bernostalgia denganmu!                 Malam itu, kau menelponku. Mengganggu separuh waktu tidur lelapku. Mataku yang telah berpandangan sayup, terpaksa harus aku bukakan lebar untuk membantu akal berkosentrasi. Temaram. Itulah kesan tempat tidurku yang hanya disekat anyaman bambu. Angi n di luar rumah, mengacaukan keheningan malam. Tak ada raungan aktivitas tetangga. Sesekali kudengar dengkuran adik kcilku yang tertidur di sebelahku. Rumahku dibunuh sepi, keadaan yang biasanya kau lukiskan ramai, penuh dengan tawa anak-anak kampung, mendadak menyedihkan bak kuburan tanah gersang yang jauh dari pedesaan.  ...

Cahaya Kebenaran.

Untukmu, Kau selalu merasa bersalah karena merasa belum mampu memberiku apa-apa. Sementara aku, cukup diam dengan kesenanganku pada perasaan bersalahmu yang tak sanggup memberiku apa-apa. Bukan pada apa-apa yang aku harapkan, tapi pada rona wajahmu yang penuh penyesalan itu, kau lukiskan sebuah cinta yang jarang dimiliki oleh orang lain. Mungkin— Kau acuh. Lebih egois, bagimu jauh dari kata romantis. Memberiku bunga adalah khayalan tingkat tinggi. Bahkan kau akan membiarkanku dipeluk dingin, enggan memakaikan jaket di tubuhku tatkala hujan menjamahku. Kau sering membuat bibirku tertekuk maju. Suaramu terkadang terdengar hambar. Saat aku marah, kau bahkan mengabaikan. Seolah, aku tak pernah menjadi apa-apa di hidupmu. Itu membuatku terpuruk, jatuh pada lubang perasaan yang menyakitkan. Kau membuatku membencimu. Aku kesal dibuatmu. Tak jarang pula, kau mengacuhkan pesanku. Mungkin itu hanya pesan biasa bagimu. Tapi aku? Aku selalu menunggumu mengirimiku pesan. Dari malam samp...

JUST YOU!

Just You! Hanya kau yang membuatku  bertindak sebodoh ini. Mengenangmu dalam kata-kata, aku menghabiskan waktuku untuk menenun memori perjalanan hidup yang panjang bersamamu. Karenamu, aku tahu cara untuk bangkit usai tumbang dan enggan menuangkan semangat ke dalam cawan yang kedaluarsa dengan impian. Kau menerangiku, merengkuh asaku, menyembunyikan resahku, menenggelamkan sunyiku. Karenamu hidupku yang terasa tiada menjadi ada. Aku menyayangimu, sebagaimana aku menyayangi ke dua orangtua dan impian-impian yang teranggap mustahil. Sebabmu, aku dapat menulis ini. Karya romantis yang akan aku persembahkan untuk motivatorku, FITRIA ANIK MAGHFIROH. Aku tak tahu kapan ia akan singgah dalam tulisanku kembali. Mungkin ia pernah menganggap aku melupakannya. TIDAK. Aku bukan pelupa, aku hanya sedang berpikir keras bagaimana caranya agar sanggup menulis dengan caraku, bukan dengan orang lain. Jadi, inilah aku adanya, menulis kisah cintaku, juga tetap menulis tentang perj...

RAIN

                Langit hitam pekat. Kabut mengigit siang menjadi kelam. Sejauh mataku memandang hanya ada kabut yang hinggap di rongga pernapasanku. Bibirku kaku hingga terpaksa bungkam tanpa aku kehendaki. Tubuhku bergetar hebat. Wajahku tentulah pucat. Napasku sudah tak beraturan. Dingin yang diberikan oleh hujan satu jam lebih membuatku sekarat. Ini adalah siksa terhebat yang diberikan alam pada awal bulan desember. Ingin segera menyudahi penderitaan ini, namun takdir memaksaku menuntun langkah menuju desa terpencil yang jauh dari keramaian demi melunasi hutangku kepada orang asing untuk menebus nootebook biru.                 “Kau tahu alamatnya, Dek?” suaramu memecah riak air yang mengalir di selokan tepi ladang. Sampah-sampah ikut hanyut, entah di mana muaranya aku pun tak tahu. “Jam berapa dia ada di rumah?”  ...