Mungkin dua kata itu yang hendak disiulkan batin. Jiwaku merana, melihat mereka menggenggam kepercayaan. Sayang, mungkin aku telah menghancurkan. Wajah-wajah lugu itu membuat batinku tersiksa. Aku ingin menjerit, menelan bintang, melempar rembulan, kutiup kabut, kuinjak bumi. Pada akhirnya jiwa juga raga ini kan tenggelam, lantas menghilang. Biarkan pinta maafku yang melayang. Aku ingin bertekuk lutut di hadapan kawan juga para tetangga. Meminta maaf yang senantiasa diberikan dengan percuma. Kau meyakinkanku bahwa aku tak melakukan kesalahan yang fatal. "Setidaknya ada yang tampil dari RT kita, itu sudah cukup bagus!" Kata-katamu masih membekas dalam ingatan. Dan aku akan berusaha untuk tidak melupakan. Kawan, inilah salah satu kisahku yang sanggup kau nilai menggelikan. Tujuh belas Agutus hari ulang tahun kemerdekaan Indonesiaku yang tercinta. Negara di mana aku mengembangkan pemikiran, tempat tingggal yang kujadikan sandaran dalam berkeluh kesah membasmi ...