Langsung ke konten utama

K.A.U.

Sudahkah kau tidur, Sayang? Hmmmm... mungkin kau akan tertawa, sebab aku tak pernah mengungkapkan kata indah itu. Bahkan di tulisan mana pun. Langka. Amat sangat tidak ada.Torehanku kau kenal kaku, bermakna dingin, terkadang buas. Mungkin_ aku hanya menafsirkan.

Ada satu hal yang membuat dua mataku malam ini enggan terpejam. Perjuanganmu! Oh manis! Kau menghargaiku.Ucapanku tak kau acuhkan. Saat aku menyuruhmu membuka akun blogerku. Lantas, meskipun kantongmu kering bahkan kau sedang kesukaran membeli bensin, kau sempatkan  menukarkan rupiah terakhir. Untuk mendapatkan data internetan! Inilah kau adanya dalam hidupku. Sosokmu yang jauh dari kata hangat, namun menghangatkan. Karaktermu yang bertolak belakang dengan jalur lembut, namun perbuatanmu melunakkan. Jiwaku yang gersang mendadak subur. Karenamu, aku tersenyum. Sebabmu, aku merangkai imajinasi untuk membanggakanmu kelak. 

Selamat malam. Semoga mimpi indah! Aku harap tak akan pernah ada masalah berat yang menimpa perjalanan  kisah kita menuju altar suci yang diidamkan oleh pasangan jiwa. 

16 Agustus 2016.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kado Spesial

Pisbon.blogspot.com      Kasih Ibu kepada Beta, tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, bagaikan surya menyinari dunia. Kasih ibu sepanjang jaman. Kasih anak sepanjang penggalan. Mentari menyeruak dalam balutan kabut. Di ufuk Timur itu, bolamnya dunia menerangi awan yang kalang kabut. Cicit burung yang bersenda gurau di tiang-tiang listrik mengendar di daun telinga. Nuansa gedung penembus langit kembali  memantulkan cahaya mentari yang tak terlalu terik karena terhalau laju kabut. Sesekali nampak, sesekali tak memeta jejak. Namun walaupun begitu, tetap saja pagi menjadi awal mula bagi kehidupan.             Di sudut kota, tepat di balik gedung-gedung yang menerobos langit ke tujuh. Pemuda berambut gondrong dan awut-awutan itu, memerosotkan tubuhnya di dinding tembok. Sudah tiga minggu dia tidak pulang ke penaungan ibunda. Lantaran kantong sakunya belum tertimbun logam untuk...

WHERE ARE YOU, DAD?

Kau di mana? Aku selalu menunggu kau pulang ke rumah k ita . Aku menyibak tirai jendela. Melamun memandang ke jalan sempit di lantai bawah. Kala itu tak ada airmata yang jatuh menitik. Aku tidak paham maknanya pedih. Aku hanya ingin kau hadir. Namun kau tak ada, kau kayu rapuh yang dimakan rayap. Kau buah segar yang digigiti ulat. Terus berkeliaran kampung tanpa mengingatku.  Kini aku beranjak dewasa. Kenangan termanisku denganmu, saat kau menggendongku, membelikanku es lilin. Mengajakku menangkap capung. Menyabit rumput di hutan. Mencari ubi di ladang. Dan tak akan pernah terlupakan saat jemarimu membelai ubunku seraya mengulurkan bunga hutan yang sering dijuluki "KEMBANG GENI" oleh penduduk. Kau menyelipkannya di telinga. Lantas tubuh ini riang berlari keluar rumah melanjutkan mainanku membangun gedung tinggi dengan menumpuk tanah.  Ayah! aku memanggilmu dalam sunyi. Aku ingin kau memelukku seperti dulu lantas kau berkata bahwa aku cantik jelita. Ayah! Tanpamu aku ...

Senyum ini!

Senyum ini... Senyum yang mekar kaya dengan impian-impian. Pikiranku menerbangkan sejuta kisah yang tak akan pernah terlupakan. Kukikis waktu yang mungkin teranggap habis. Meski jarak kelak akan memisahkan, namun aku tak pernah sekali pun membayangkan kau di dekat lembaran j.a.u.h. Bagiku kau di sini, di sisi, mengukir cita yang nyaris remuk ditelan asa. Dan mengingatmu, adalah salah satu motivasi dalam hidupku. Kawan! Aku tak akan pernah mengecewakanmu. Aku menuliskan namamu dalam dinding hatiku. Zaman dan cintaku tak akan mampu menggerogoti untuk membuatnya punah. Tanpamu aku maju, sayang langkahku layu. Memoar.16 Agustus 2016.