Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

Cahaya Kebenaran 2

Dari gadis yang sering mengenal kata putus asa, namun ia tak pernah berputus asa. Aku selalu mengenangmu dalam hujan. Aish... Kenapa aku harus mengingatmu di sini? Kau tahu? Aku akan mengecewakan banyak orang! Karenamu, aku menelan liur yang pernah aku muntahkan. Tak ada yang lebih pahit, saat aku melihat emosimu di ujung tanduk. Lantas sukmamu kalut, hendak menelan wajahku dalam barzah. Kuterangkan langkah gelapmu. Sekali lagi kukatakan padamu, aku tak pernah sanggup bermain-main dengan ucapan yang pernah aku luncurkan di hadapan batinmu.                  Ada ribuan tetes air hujan yang menjadi saksiku menatap parasmu. Kau menggigil, aku kedinginan. Kita tak berpelukan, aku tahu ada jarak yang menghalangi untuk melakukan hal tersebut. Namun kau tak menunduk saat airmataku bercucuran, meski kau tak menyadari sebab cairan itu dileburkan oleh titik-titik hujan yang mengalir bebas di pipik...

Tersenyumlah, Asta!

Tersenyumlah seperti itu selamanya! Hapus airmatamu, adikku Sayang! Jangan pernah kau suburkan pedih yang mengakar dalam sanubarimu. Cabutlah ia sekuat tenagamu, jika memang di kemudian hari akan tumbuh kembali, jangan biarkan ia berkembang biak bebas. Buatlah ia menderita, jangan pernah membuatnya bangga dengan perasaanmu yang hancur. Segala aura negatif akan mencintaimu jika kau terus memanjakannya dengan sikapmu yang mengeluh.  Sayang, kemarilah, mendekatlah di bahuku, bayangkan jika kau berada dalam posisi ribuan anak jalanan Indonesia yang bermata sayu. Langkah layu tertatih-tatih di emperan kota. Mengaduh kesakitan jika perut belum diisi oleh makanan. Pernahkah kau melihat anak ecil mengosek-ngosek sampah? Atau mereka yang menjual koran dan majalah di lampu merah. Kulit hitam, keringat bercucuran. Di mana Ibu dan Ayah? Sempatkah memikirkan ego mereka untuk bermain-main? Bahkan teman pun belum tentu semenyenangkan yang kau milliki. Bukankah di sekelilingmu kau banyak...

MAAF

Cahaya Kebenaran aku merindukanmu. Airmataku bukan sesuatu yang dapat membuat nadi ini melupakan senyummu. Ia justru menjadi bentuk yang akan mengekalkan kasih sayangmu. Aku terluka, namun aku tak pernah berpikir untuk pergi menjauh dari sisi hatimu. Semakin dalam aku menggali jejak cintamu, semakin tak kuasa aku menahan perasaanku yang terlanjur mengharapkanmu. Aku mencoba mengenang sesuatu yang manis, agar semuanya tak menjadi amarah sesaat. Maafkan bibirku, jika selalu membuat batinmu kelu. Aku seperti ini, sebab aku takut kau meninggalkanku. Aku telah menjadikanmu pelindung jiwaku yang rapuh, kau penyemangatku dalam meraih impian, kau senyumku yang manis, kau pula kebanggaan yang aku miliki, kau kekuatan langkahku yang tumbang. Karenamu aku merasa berharga, tanpamu aku sia-sia. Aku menderita dengan egoku sebab aku tak kuasa menhan rinduku padamu.  Jangan jadikan semuanya berlalu seperti angin! Kau pun bukan debu bagiku, Tak usah kau pendam perasaan bersalahmu p...

ENOUGH HERE! (MAR'A QONITA)

Jangan Pernah Menyesal! Ini untuk yang terakhir! Aku tak akan pernah menjadi diriku lagi jika di hadapanmu! Dan aku tak akan pula membicarakan hal-hal yang besar. Satu hal yang ingin aku sampaikan kepadamu! Jangan pernah berharap impianmu akan terwujud jika kau tak mau mengorbankan sesuatu untuk meraihnya. Kau takut! Selalu takut dan bingung! Padahal BERKALI-KALI aku bilang, jika besar impian yang akan kita raih jalan yang perlu ditempuh tidak akan pernah mudah. Menurutku itu sudah menjadi hukum alam! Kau mungkin selalu berpikir aku memperjuangkan impianku pada jalan yang aku kehendaki. TIDAK! Semua yang aku lakukan terkadang bertolak belakang dengan keinginanku. Tapi dari situlah jalan yang indah terbuka. Siapa yang menyangka? TAK ADA! Bahkan aku merasa aku sedang bermimpi di tempat tidur! Asalkan kamu tahu, Nita! Aku tidak pernah mengharapkan kamu menjadi seperti diriku! Aku hanya mengusahakan agar kamu menemukan jalan dengan caraku! Dengan lingkungan yang aku miliki...

AYAH

Hujan, izinkan aku menitip rindu dengan perangko keabadian yang kutulis menggunakan tinta airmata. Sampaikan padanya, bahwa aku tak sanggup membendung perasaan ini. Dua tahun ia pergi dari tempat yang dijadikan surga sesaat, dua tahun pula aku masih menangis. Keputusan takdir ini tak dapat aku terima. Aku setia berharap ia akan hadir dalam impianku.  Ia membuatku merasa sangat bersalah. Aku belum pernah membuatnya bangga. Selalu menyusahkannya. Namun, ia tabah dalam mendidikku. Bagaiamana mungkin aku sanggup melupakan perhatian orang yang aku anggap hebat di dunia ini? Ia adalah seseorang yang tak pernah menuntutku, bahkan saat aku mendapatkan nilai buruk sekali pun, ia senantiasa melindungiku, Selama ini bukannya aku sukar menangkap pengetahuan, hanya saja aku tidak suka dengan suasana di dalam ruangan. Aku bosan, itu membuat kosentrasiku buyar. Aku akan melamun di dalamnya. Semakin lama terkurung, mataku tak lama kemudian pasti terjebak dalam kantuk. Orang lain akan memberi...

Don't Cry!

Mungkin dua kata itu yang hendak disiulkan batin. Jiwaku merana, melihat mereka menggenggam kepercayaan. Sayang, mungkin aku telah menghancurkan. Wajah-wajah lugu itu membuat batinku tersiksa. Aku ingin menjerit, menelan bintang, melempar rembulan, kutiup kabut, kuinjak bumi. Pada akhirnya jiwa juga raga ini kan tenggelam, lantas menghilang. Biarkan pinta maafku yang melayang. Aku ingin bertekuk lutut di hadapan kawan juga para tetangga. Meminta maaf yang senantiasa diberikan dengan percuma. Kau meyakinkanku bahwa aku tak melakukan kesalahan yang fatal.  "Setidaknya ada yang tampil dari RT kita, itu sudah cukup bagus!" Kata-katamu masih membekas dalam ingatan. Dan aku akan berusaha untuk tidak melupakan.  Kawan, inilah salah satu kisahku yang sanggup kau nilai menggelikan. Tujuh belas Agutus hari ulang tahun kemerdekaan Indonesiaku yang tercinta. Negara di mana aku mengembangkan pemikiran, tempat tingggal yang kujadikan sandaran dalam berkeluh kesah membasmi ...