Langsung ke konten utama

Don't Cry!



Mungkin dua kata itu yang hendak disiulkan batin. Jiwaku merana, melihat mereka menggenggam kepercayaan. Sayang, mungkin aku telah menghancurkan. Wajah-wajah lugu itu membuat batinku tersiksa. Aku ingin menjerit, menelan bintang, melempar rembulan, kutiup kabut, kuinjak bumi. Pada akhirnya jiwa juga raga ini kan tenggelam, lantas menghilang. Biarkan pinta maafku yang melayang. Aku ingin bertekuk lutut di hadapan kawan juga para tetangga. Meminta maaf yang senantiasa diberikan dengan percuma. Kau meyakinkanku bahwa aku tak melakukan kesalahan yang fatal. 

"Setidaknya ada yang tampil dari RT kita, itu sudah cukup bagus!" Kata-katamu masih membekas dalam ingatan. Dan aku akan berusaha untuk tidak melupakan. 


Kawan, inilah salah satu kisahku yang sanggup kau nilai menggelikan. Tujuh belas Agutus hari ulang tahun kemerdekaan Indonesiaku yang tercinta. Negara di mana aku mengembangkan pemikiran, tempat tingggal yang kujadikan sandaran dalam berkeluh kesah membasmi kebodohan. Di sini, aku mengenal tanah air. Bangsa yang porak-poranda pun tak mau lepas dari kehidupanku. Ia bagaikan napas yang melengkapi penderitaan masyarakat bawah. Saat tanggal itu terlahir, semuanya bersorak riang, menyambut kemerdekaan yang entah faktanya sudah merdeka, atau hanya omong kosong belaka. 

Beberapa hari lalu aku ditugaskan untuk menjadi pembaca Tata Upacara. Napasku kacau, suaraku jauh dari kata merdu apalagi anggun nan syahdu. Kau mungkin akan membayangkannya cempreng! Itu menggelikan sekali.Upacara berjalan lancar sampai akhir. Meski aku sudah putus asa, sebab teman seperjuangan denganku yang diberi amanat untuk mengurusi upacara membuat nyaliku menciut. Aku pasrah. Peringatan tujuh belas Agustus meriah. Setiap perwakilan RT di kampungku, diwajibkan mengirimkan sebuah tampilan di Balai Desa. Aku tak diberi tugas, namun aku menawarkan diri kepada ketua RT.
Hari ini, aku ingin berlari dari keramain. Ingin kukubur tatapa puluhan pasang mata yang membuatku berdiam diri bagaikan tubuh  mati. Tak bergerak, bukan lagi tewas, namun nasibnya enjadi lebih mengenaskan, aku lebur dalam malam yang kupikir hancur. 
 Seseoorang, yang kupikir berdedikasi membuatku tersungkur. Ia meremukkan semangatku. Dan rasanya aku ingin menampar pemikirannya yang belum mampu menghargai usaha orang lain. Di depan podium. Aku melirik teman seperjuanganku dari RT 2 RW 4, kelu bibirku, saat keberanianku mendadak surut. Pada akhirnya aku salah mengucapkan angka, 4 menjadi 2.
"Baik, di sini saya perwakilan dari RT 4 RW 2 akan membacakan Puisi yang saya beri judul INI BUKAN PUISI!" Aku mengharapkan orang-orang tertawa. Tidak! Semuanya diam. Memandangku dengan tatapan mencekam. Teman-temanku di belakang memerhatikan tajam. Bola mataku merunduk. Operator tak kunjung menyalakan musik pengiring naskahku, ia juga tak mendengarkan intruksiku untuk mematikan lampu. KACAU! Perasaanku binasah! Semangatku menyisakan puing-puing! Aku kebingungan, sejenak. 


"Ayo, Pak!" Bisikku pada operator dari pusar podium. Aku meliriknya. Wajahnya pias. Ia memberi isiyarat bahwa lagunya tak mampu diputar. Aku mendengus muram. Perlahan kutarik napas, mengembuskannya perlahan. Hingga kubacakan tulisan yang aku rangkai dengan jemariku di negeri atas awan. Aku tak hirau meski orang enggan mendengarkan. Namun, batinku serasa menggigil. Aku gemetar membayangkan negeriku yang carut-marut, sementara di bawah sana, mata-mata kurang pengertian itu tersiksa dengan kehidupan hedonisme. Lagu MATA AIR INDONESIA mengiringi batinku yang terluka. Beberapa orang yang memoles ponsel seolah mengkhianatiku. Mungkin aku patung yang terpajang di atas podium sebagai penghias. Aku acuh! PERSETAN! Ayah di dalam kubur, setia mendengarkanku dari balik tanah. Dan kau sahabatku, aku yakin, suaraku kau rekam kuat-kuat di gendang telingamu. Untuk tetanggaku, maafkan aku jika mungkin aku terlalu egois.Kudekatkan microfon. Bibirku mulai membuka suara. Sesekali aku menatap ke arah teman-temanku. Aku menggigit bibir. Sedih. Aku pesimis untuk memberikan sesuatu yang indah. Namun aku akan berusaha, meskipun mentalku seperti sudah gugur di medan perang! Aku tetap membacakan PUISIKU!

Ini Bukan Puisi!

Karya 

Titin Widyawati

Aku melihat bangkai di balik ranah
Kucium aroma kafan yang bertahun-tahun tak terjamah
Mendung mengigit senyum
Sorak berkumandang, Tujuh belas Agustus menjadi saksi bisu, di hadapan nisanmu, aku menggenggam rindu. Juga karenamu aku mengecup mimpiku yang sendu.
AYAH Aku ingin bercerita padamu....tentangmu namun lain DIRIMU,
Bendera berkibar, airmata merembas, aku berjanji nadiku untuk denyut pertiwi
Hormatku tak takzim, namun janjiku bersemayam di dalam hati yang lazim
Kawan, kenanglah, dahulu pahlawan menembus jantung penjajah dengan bambu runcing
Merdeka kau ungkap, namun tak mampu menyadarkan diri tentang cinta pada bangsa
Angin pengangguran membuat banjir kemiskinan mengarus ke perumahan kumuh di pinggiran
Sampah kebodohan menyumbat otak-otak pemuda yang bernafsu liar
Kau kata narkoba dilarang, namun pantatmu justru mendudukinya, malam tatkala rembulan berkabut, kau menyetubuhinya.
Kau bilang adil ditegakkan, nyawa dikurung dideruji berkarat tak keluar-keluar, sementara yang tersembunyikan hanya sebutir telur milik tetangga... Kau sendiri? Penjaramu laksana istana. Revisi keluar setiap dunia mempunyai momen agung....
Aku dengar negara kita aman, dan pelajar di sebelah sekolahku tawuran, kerikil berhamburan, mulut membusukkan umpatan.
PENDIDIKAN! Di mana KEADILAN, bersembunyikah KESEJAHTERAAN?
Yang kutahu MERDEKA disorakkan! Idialisme bangsa masih berantakan! MERDEKA! Bendera dikibarkan, perjuangan pahlawan tinggal menjadi kenangan..masyarakat re
Kawan, adakah pahlawan di meja judi? Kenalkanlah aku kepadanya, akan kuberikan ia mas kawin sebagai tanda cintaku pada bangsa....
Kau tahu aku berdiri di sini, kau pikir aku sedang membacakan PUISI, BUKAN SAYANG! Ini bukan PUISI, ini realita! Sesuatu yang kupikir menyedihkan jika tiba di kerongkongan cita-cita. PANCASILA! Apakah hanya semboyan?

Prampelan. 19 Agustus 2016. Di hadapan nisanmu! AYAH!



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kado Spesial

Pisbon.blogspot.com      Kasih Ibu kepada Beta, tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, bagaikan surya menyinari dunia. Kasih ibu sepanjang jaman. Kasih anak sepanjang penggalan. Mentari menyeruak dalam balutan kabut. Di ufuk Timur itu, bolamnya dunia menerangi awan yang kalang kabut. Cicit burung yang bersenda gurau di tiang-tiang listrik mengendar di daun telinga. Nuansa gedung penembus langit kembali  memantulkan cahaya mentari yang tak terlalu terik karena terhalau laju kabut. Sesekali nampak, sesekali tak memeta jejak. Namun walaupun begitu, tetap saja pagi menjadi awal mula bagi kehidupan.             Di sudut kota, tepat di balik gedung-gedung yang menerobos langit ke tujuh. Pemuda berambut gondrong dan awut-awutan itu, memerosotkan tubuhnya di dinding tembok. Sudah tiga minggu dia tidak pulang ke penaungan ibunda. Lantaran kantong sakunya belum tertimbun logam untuk...

WHERE ARE YOU, DAD?

Kau di mana? Aku selalu menunggu kau pulang ke rumah k ita . Aku menyibak tirai jendela. Melamun memandang ke jalan sempit di lantai bawah. Kala itu tak ada airmata yang jatuh menitik. Aku tidak paham maknanya pedih. Aku hanya ingin kau hadir. Namun kau tak ada, kau kayu rapuh yang dimakan rayap. Kau buah segar yang digigiti ulat. Terus berkeliaran kampung tanpa mengingatku.  Kini aku beranjak dewasa. Kenangan termanisku denganmu, saat kau menggendongku, membelikanku es lilin. Mengajakku menangkap capung. Menyabit rumput di hutan. Mencari ubi di ladang. Dan tak akan pernah terlupakan saat jemarimu membelai ubunku seraya mengulurkan bunga hutan yang sering dijuluki "KEMBANG GENI" oleh penduduk. Kau menyelipkannya di telinga. Lantas tubuh ini riang berlari keluar rumah melanjutkan mainanku membangun gedung tinggi dengan menumpuk tanah.  Ayah! aku memanggilmu dalam sunyi. Aku ingin kau memelukku seperti dulu lantas kau berkata bahwa aku cantik jelita. Ayah! Tanpamu aku ...

Senyum ini!

Senyum ini... Senyum yang mekar kaya dengan impian-impian. Pikiranku menerbangkan sejuta kisah yang tak akan pernah terlupakan. Kukikis waktu yang mungkin teranggap habis. Meski jarak kelak akan memisahkan, namun aku tak pernah sekali pun membayangkan kau di dekat lembaran j.a.u.h. Bagiku kau di sini, di sisi, mengukir cita yang nyaris remuk ditelan asa. Dan mengingatmu, adalah salah satu motivasi dalam hidupku. Kawan! Aku tak akan pernah mengecewakanmu. Aku menuliskan namamu dalam dinding hatiku. Zaman dan cintaku tak akan mampu menggerogoti untuk membuatnya punah. Tanpamu aku maju, sayang langkahku layu. Memoar.16 Agustus 2016.