Langsung ke konten utama

ABU ROKOK

  • Abunya berserakan ke mana-mana. Menodai lantai dengan lukisan petir itu. Saat kudorong pintu lipat toko pakaian, mereka berterbangan ke penjuru arah, sebab angin dari luar lancang masuk tanpa sopan. Dua putung rokok tergeletak di pusarnya. Aku termangu memandanginya. Ekor mataku mengenang bibir merah yang menghisap nikotinnya. Bersaksikan kursi plastik merah dan meja kasir cokelat yang didiami tumpukan buku, novel, juga kisah Nabi Muhammad. Tubuh ini reflek jongkok di depan sampah abu rokok, yang seharusnya sudah tak menjadi berarti. Bangkai dari kenikmatan sesaat yang tersisa di tempat kerjaku, rupanya menyimpan sebuah alur cerita.

    Pelan, wajahmu menyembul di balik abu-abu rokok itu. Tersamarkan oleh aura bimbangmu yang kalut memandangku. Lantas lenyap, disambut kecut oleh dua foto gadis jelita di layar ponselmu. Lemas, sekujur tubuhku retak. Bibirku tertekuk datar. Pandanganku tak lagi menyenangkan. Ada pedih yang menggantung di sudut hatiku. Jelas, seketika napasku sesak. Ulu hatiku nyeri.

    "Masih ingin di sini, tapi sudah sore." Suara layumu kembali kudengar. Aku tergerak menyentuh abu rokok tersebut. Gambaran wajahmu kian menajam. Hari ini, Minggu. Kau masih di rumah, namun sibuk dengan urusanmu, senja lelah, pagi berangkat kerja mencari nafkah. Kisahmu kemarin yang masih kukenang.
    "Aku merindukanmu." Tuturku. Lalu wajahku kutekuk malu. Genggaman kuremas di atas permukaan meja. Beberapa buku yang berserakan memandangku heran. Senyummu lantas mengembang. Bahkan aku sanggup menangkap kekehanmu yang lirih.

    "Tapi aku tidak merindukanmu!" Kugebrak meja. Posisi dudukku berubah seketika. Reflek kursi mundur ke belakang. Kilatan cahaya kekecewaan tampak sadis di mataku. Aku memandangmu geram. "Aku tak peduli!" Suaraku naik beberapa oktaf. Kendaraan di luar yang hilir mudik tak mampu menelannya. Ia tetaplah nyaring membuat suasana menjadi beku. "Yang penting aku merindukanmu!" Geretakku sekali lagi. Lalu kuatur napas agar ke luar dengan tenang.

    Kau tatap wajahku. Seperti ada sesuatu yang kau harapkan. Tersenyum tanpa kuketahui apa artinya. Memundurkan wajahmu sebentar. Menoleh ke luar toko, seakan bosan dengan wajahku yang mungkin tak kau sebut elok ini. Mengembuskan asap yang menurutmu adalah kenikmatan. Sementara abunya, kau biarkan melayang tanpa penampungan.

    "Lelaki ceroboh!" Aku mengumpat. "Apakah hari ini kau tak mengepel lantai?" Sebuah kalimat yang ke luar dengan cacian. Aku melotot menatapmu. Kepala sedikit kumiringkan ke kiri. "Kau bilang apa?" Aku ingin kau mengulangi kalimat yang baru saja terucap. "Aku tidak ngepel? TADI PAGI AKU NGEPEL! NYAPU JUGA!"
    Lagi-lagi kau hanya terkikik mengamati ekspresiku yang sedang dilumat geram. Santai sekali kau berucap. "Banyak abu rokok di lantaimu!"
    Ingin sekali aku sumpal mulutmu dengan kain-kain yang terpajang di belakang tubuhmu. Biar kau diam dan tak banyak berkicau seperti burung kelaparan. Semakin aku marah, maka kau akan semakin bertingkah. Seakan kau sengaja membuatku melakukan tindakan konyol.

    "Yang merokok siapa?" "Mungkin orang gila—" Akhirnya aku tertawa. Kesalku terkubur kelucuanmu. "Baguslah, jika kau sadar bahwa dirimu gila." "Buat apa aku jauh-jauh dari tempat tinggalku, kurelakan datang kemari, jika bukan karena merindukanmu!" Sengaja kau alihkan pembahasan.

    Kau kembali menatapku. Putung rokok kau buang. Ia tergeletak menjadi bangkai di atas lantai. Mengotori toko pakaianku. Kau tak menghiraukan akhir dari kisah putung tersebut, siapa yang akan menguburnya? Bukan! Maksudku menyapunya ke tempat peristirahatan.
    Kau putar-putar ponselmu yang layarnya retak. Jari telunjukmu tak kenal arah memainkannya di atas meja. Aku tak punya kalimat indah untuk membahas ucapanmu. Yang jelas, hatiku sedikit bergetar mendengar penuturanmu. Ponselmu mengingatkanku pada kejadian malam lalu. Tatkala aku menabrak angin menuju konter di pinggir pasar Kaliangkrik untuk membeli kartu, sekaligus membeli vocer pulsa three. Kupinta kau yang mengisinya.
    "Sudah kau isikan vocer yang kukirim lewat sms?" "Belum, isi saja punyamu." "Memangnya pulsamu masih berapa?" "Seribu."

    Lantas kita berdua terbahak. Obrolan kita memang tak berarti. Namun, sebuah kebersamaan setelah berminggu-minggu dipisahkan oleh jarak dan waktu. Membuat segalanya berasa indah di mata kita. Hal remeh pun seakan sangat menarik untuk dibicarakan. Terkadang masalah sosial, agama, negara, juga ilmu sering menjadi perdebatan kita berdua di balik telepon. Suara yang memadukan argumen tak jelas sering tersaring oleh malam yang diintip langit tak bertuan. Namun, saat kita berhadapan, seakan tak ada pembicaraan berbobot yang perlu dilontarkan. Cukup aku dan kau, sesekali mencuri pandang, hal yang membuat waktu muram, bahkan neraka mengancam. Tak peduli! Tetap semuanya kita anggap menyenangkan. Tak hirau setan bertengger di atas ubun merayu kita yang seharusnya berpisah untuk tetap bersama.

    "Coba pinjam hapemu!" Aku mengambil ponselmu. Kuusap-usap layarnya. Membuka pesan yang masuk. Sedikit tercengang saat kudapati sosok gadis manis dan cantik kau gunakan sebagai cover inbox. Aku menelan air liurku. Hatiku serasa disambar petir. Belum berkutik, kulanjutkan jemariku menyentuh album-album foto. Banyak wajah gadis yang serupa dengam cover inbox, bukan cover, tepatnya background! Aku tertegun. Ada getir yang kutelan pedih. Kutatap wajahmu. Kau sedang asik menghisap rokok yang baru saja kau sulut menggunakan korek api. Kembali kugeser-geser albummu. Bertambah satu gadis dengan jilbab cokelat, berkulit putih berseri-seri, amatlah jelita, tak kalah saing dengan background inbox-mu, yang rambutnya tergerai lurus, bibirnya merah merekah, tampak sekali jika pipinya dilapisi bedak, matanya menggunakan eyeliner dan maskara, memakai kaos ketat yang menumbuhkan gairah. Ia tersenyum manis sekali. "Ini siapa?" "Itu—" kau tergagap. Kutunjukkan rupa gadis dengan rambut panjang itu di hadapanmu. Bibirmu kelu beberapa saat. "Aku tidak mengenalnya!" "Hmmm... begitu," desahku kecil. Lalu aku tertunduk lesu. Badanku mulai melemah. Jemari-jemariku bergetar. "Aku tidak percaya. Katakan, siapa gadis ini?"

    "Bukan siapa-siapa!" "Kenapa kau buat background? Tidak mungkin kau tidak mengenalnya!" Aku tak mau kalah. Juga tak peduli dengan suaraku yang kembali meninggi.
    "Itu adikku yang membuatnya, aku—" suaramu seakan mengambang. "Tidak tahu." Kelanjutan yang tak masuk akal!

    "Cepat, katakan! Siapa gadis itu? Kumohon katakan dengan jujur!" Suaraku mulai parau. Aku menahan tangis yang akan meledak.

    "Bukan siapa-siapa. Percayalah. Dia hanya gadis maya!" "Aku tak peduli! Katakan adakah gadis lain selain aku?" "DEMI ALLAH! HANYA KAU YANG ADA DI HATIKU!" suaramu menggema keras. Dinding tokoku pun seolah akan retak. Kau buang putung rokokmu kasar. Memandangku dengan tajam. "Percayalah, dia bukan siapa-siapaku." "Bagaimana dengan gadis yang memakai kerudung ini?" Aku tunjuk foto yang lainnya. "Jujur, dulu aku pernah menyukainya, tapi sekarang tidak! Aku pernah menceritakannya kan kepadamu? Dia gadis sombong, dan aku tak suka itu!" Pembelaanmu yang terakhir kuanggap masuk akal. Aku percaya untuk ucapanmu mengenai gadis berjilbab itu, tapi yang satunya. Aku kehilangan kendali untuk tidak cemburu.

    "Jangan marah!" Pintamu memohon. "Dia bukan siapa-siapa. Biar aku hapus foto-fotonya," kau merebut ponselmu dengan paksa. "UNTUK APA KAU HAPUS FOTO ITU JIKA SUDAH SUSAH PAYAH MENYIMPANNYA?" "Ada beberapa wanita yang tak rela jika kekasihnya menyimpan kontak gadis lain juga foto lain!" "Sayangnya, aku tidak seperti itu. Simpan saja foto-foto gadis itu, jika itu berharga dalam hidupmu." Kucoba tegar, meski jiwaku luluh lantah.
    "Tidak! Akan aku hapus." "Biarlah itu jadi kenang-kenanganmu, jangan kau hapus!" Aku berontak. Kuambil paksa kembali ponselmu namun kau menghalangiku.

    "Sudah kuhapus!" Katamu. Lalu menunjukkan albumnya kepadaku. "Kau hapus lalu kau ambil lagi nanti di BBM, sama saja. Malah melelahkan pekerjaanmu, lebih baik jika kau terus menyimpannya." Nadaku ke luar seperti sindiran. Kau diam beberapa saat. Hening. Kuhentak-hentakkan kakiku di atas lantai. Karena bosan, kugayuh pena dan menggoreskan kata asal di punggung tanganku. "Siapa gadis lain yang ada di hatimu, katakan!"
    "Tidak ada! Demi Allah! Dia itu hanya gadis maya!"

    Jika memang begitu kenyataannya, berarti kau tipikal lelaki yang takhluk dengan kecantikan seseorang. Kutelungkupkan kepalaku di atas meja. Pena pun tertidur sembarang.
    "Jauh-jauh aku kemari, tapi kau tinggal tidur. Lebih baik aku pulang—" "Pulanglah! Aku tidak menyuruhmu kemari," kataku memberi jeda. "Aku sedang sakit hati, tidak ngantuk." Lanjutku memberi alasan.

    "Apakah kau sudah tak percaya denganku lagi?" "Entahlah, aku ragu." Aku mendongak menatapmu. "Gadis apa yang kau sukai, yang seksi? Yang cantik? Yang pintar? Yang salehah? Atau yang biasa-bisa saja?" Aku menuntun laju hatiku yang sedang kalut. Kau memandangku heran.

    "Kenapa bertanya seperti itu?" "Menurutmu jika ada gadis yang bertanya seperti itu, apakah ia ingin bertindak sesuai yang dikatakan kekasihnya?" Aku membuat kepalamu pening dengan perkataan.

    "Entahlah, mana aku tahu." Aku mendengus kesal. Penangkapanmu memuakkan. "Aku tidak punya selera!" "TAK PUNYA PENDIRIAN! BODOH!" Bentakku. "Jika kau ingin gadis yang seksi bukan aku, jika kau ingin gadis pintar bukan aku, jika kau ingin gadis yang cantik bukan aku—"

    "Terus kau masuk tipikal gadis apa? Salehah?" Kau memotong kalimatku yang belum selesai. "Tidak." "Lantas?" "Tidak semuanya, aku hanya gadis yang sedang berusaha menjadi gadis yang baik." "Kau memberi pertanyaan suka pisang atau jeruk? Tapi jawabannya suka nanas, tak masuk akal dan tak nyambung!" Gerutuanmu tak membuatku luluh. Meski sempat kulihat bibirmu tersungging sedikit. Aku masih cemburu.

    Seorang pria separuh baya masuk ke dalam toko. Ia mencari celana pendek olahraga. Mendadak tertegun saat mendapatimu sedang duduk di hadapanku dengan pembatas meja kasir. Rupanya ia mengenalmu. Kau pun mengobrol ke sana kemari. Lama sekali, membuatku merasa seolah menjadi patung. Usai pria itu ke luar, tak lama kemudian kau pamit pulang. Sempat kulihat kau bimbang. Ada keraguan untuk melangkah pergi. Lalu menatapku sebentar dari ambang pintu masuk. "Jangan cemburu, tak ada apa-apa dengan gadis itu." Lantas kau benar-benar melesat pergi mengendarai sepeda motormu. Lari meninggalkan kotoran di atas lantai yang berserakan. Abu rokok, tempat menyimpan kenangan perjumpaan kita kemarin. Kini, kukenang dirimu saat kutatap abu-abu itu. Tak mau aku berlama-lama menahan sakit sebab foto di albummu. Kusapu abu rokok tersebut, dan tanpa ragu bayanganmu pun ikut berlalu.

    "Aku percaya, semuanya telah diatur oleh Tuhan." Desisku pada waktu yang bisu.
    Devita Fashion's, 27 September 2015. 10:31. Mengenangmu


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kado Spesial

Pisbon.blogspot.com      Kasih Ibu kepada Beta, tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, bagaikan surya menyinari dunia. Kasih ibu sepanjang jaman. Kasih anak sepanjang penggalan. Mentari menyeruak dalam balutan kabut. Di ufuk Timur itu, bolamnya dunia menerangi awan yang kalang kabut. Cicit burung yang bersenda gurau di tiang-tiang listrik mengendar di daun telinga. Nuansa gedung penembus langit kembali  memantulkan cahaya mentari yang tak terlalu terik karena terhalau laju kabut. Sesekali nampak, sesekali tak memeta jejak. Namun walaupun begitu, tetap saja pagi menjadi awal mula bagi kehidupan.             Di sudut kota, tepat di balik gedung-gedung yang menerobos langit ke tujuh. Pemuda berambut gondrong dan awut-awutan itu, memerosotkan tubuhnya di dinding tembok. Sudah tiga minggu dia tidak pulang ke penaungan ibunda. Lantaran kantong sakunya belum tertimbun logam untuk...

WHERE ARE YOU, DAD?

Kau di mana? Aku selalu menunggu kau pulang ke rumah k ita . Aku menyibak tirai jendela. Melamun memandang ke jalan sempit di lantai bawah. Kala itu tak ada airmata yang jatuh menitik. Aku tidak paham maknanya pedih. Aku hanya ingin kau hadir. Namun kau tak ada, kau kayu rapuh yang dimakan rayap. Kau buah segar yang digigiti ulat. Terus berkeliaran kampung tanpa mengingatku.  Kini aku beranjak dewasa. Kenangan termanisku denganmu, saat kau menggendongku, membelikanku es lilin. Mengajakku menangkap capung. Menyabit rumput di hutan. Mencari ubi di ladang. Dan tak akan pernah terlupakan saat jemarimu membelai ubunku seraya mengulurkan bunga hutan yang sering dijuluki "KEMBANG GENI" oleh penduduk. Kau menyelipkannya di telinga. Lantas tubuh ini riang berlari keluar rumah melanjutkan mainanku membangun gedung tinggi dengan menumpuk tanah.  Ayah! aku memanggilmu dalam sunyi. Aku ingin kau memelukku seperti dulu lantas kau berkata bahwa aku cantik jelita. Ayah! Tanpamu aku ...

Senyum ini!

Senyum ini... Senyum yang mekar kaya dengan impian-impian. Pikiranku menerbangkan sejuta kisah yang tak akan pernah terlupakan. Kukikis waktu yang mungkin teranggap habis. Meski jarak kelak akan memisahkan, namun aku tak pernah sekali pun membayangkan kau di dekat lembaran j.a.u.h. Bagiku kau di sini, di sisi, mengukir cita yang nyaris remuk ditelan asa. Dan mengingatmu, adalah salah satu motivasi dalam hidupku. Kawan! Aku tak akan pernah mengecewakanmu. Aku menuliskan namamu dalam dinding hatiku. Zaman dan cintaku tak akan mampu menggerogoti untuk membuatnya punah. Tanpamu aku maju, sayang langkahku layu. Memoar.16 Agustus 2016.