Perjalanan hidup yang tak akan pernah diperhatikan oleh orang lain. Mengenai caraku berpikir dan kemampuanku dalam mengaplikasikannya. Sangat sedikit yang memahami. Aku batu yang teranggap menghancurkan, air yang menghanyutkan, juga angin yang memporak-porandakan. Entah aku ini sebenarnya apa. Yang jelas, aku benyawa.
Kawan, begitulah aku hendak memanggilmu. Malam lalu, kepalaku pening juga menyakitkan. Kelu jika kau membayangkan rasanya. Tengkuk bersentuhan dengan bantal, serasa dipukul palu kayu. Oksigenku yang seharusnya melintasi jalan menuju otak, justru bermain-main dengan maut. Muak! Namun, kata guru ngajiku, kita tidak boleh protes dengan keputusan takdir, sebab kita adalah debu, yang pasrah ke mana angin akan membawanya.
Sanggar Kegiatan Belajar, Salaman Agustus 2016
Kawan, begitulah aku hendak memanggilmu. Malam lalu, kepalaku pening juga menyakitkan. Kelu jika kau membayangkan rasanya. Tengkuk bersentuhan dengan bantal, serasa dipukul palu kayu. Oksigenku yang seharusnya melintasi jalan menuju otak, justru bermain-main dengan maut. Muak! Namun, kata guru ngajiku, kita tidak boleh protes dengan keputusan takdir, sebab kita adalah debu, yang pasrah ke mana angin akan membawanya.
Sanggar Kegiatan Belajar, Salaman Agustus 2016
Komentar
Posting Komentar