Langit hitam pekat. Kabut
mengigit siang menjadi kelam. Sejauh mataku memandang hanya ada kabut yang
hinggap di rongga pernapasanku. Bibirku kaku hingga terpaksa bungkam tanpa aku
kehendaki. Tubuhku bergetar hebat. Wajahku tentulah pucat. Napasku sudah tak
beraturan. Dingin yang diberikan oleh hujan satu jam lebih membuatku sekarat.
Ini adalah siksa terhebat yang diberikan alam pada awal bulan desember. Ingin
segera menyudahi penderitaan ini, namun takdir memaksaku menuntun langkah
menuju desa terpencil yang jauh dari keramaian demi melunasi hutangku kepada
orang asing untuk menebus nootebook biru.
“Kau tahu alamatnya, Dek?”
suaramu memecah riak air yang mengalir di selokan tepi ladang. Sampah-sampah
ikut hanyut, entah di mana muaranya aku pun tak tahu. “Jam berapa dia ada di
rumah?”
“Aku sudah suruh kirimi
alamatnya, siang jam satu dia ada di rumah.” Balasku saat masih duduk di kursi
ruang tamumu. Kau lantas tersenyum. Membuang raut letih semalaman yang tak
tidur. Aku sendiri acuh tak acuh. Seolah tak memedulikan ekspresimu yang sama
sekali tak menarik.
“Nanti aku antarkan kamu naik,
Dek,” janji itulah yang membuatku kini terjebak dalam gigil yang memukul
paru-paruku. Aku dihantam runtuhan hujan dari atas langit yang menjilat ganas.
Petir sesekali menjerit menyeramkan. Langit berkilat-kilat retak. Untung angin
tak berembus kencang, jika itu terjadi entah mau jadi apa aku ini. Dan di jalan
hanya kendaraanmu yang menggerus aspal. Penduduk lebih memilih menyerutup teh
hangatnya di rumah masing-masing ketimbang bermain-main dengan air hujan yang
sedang balas dendam akan kejahatan musim kemarau lampau.
Kulihat jemarimu yang membiru memegangi stang motor. Tubuhmu basah
kuyup. Jaket tebal yang kau andalkan untuk melindungi fisikmu sama sekali tak
berguna. Air menembus masuk sampai menusuk pori-pori kulitmu. Kau ingin protes kepada mereka yang lancang
membuatmu kedinginan, namun kau tak punya senjata yang ampuh. Jas hujan tak kau
bawa, aku sendiri kau biarkan kehujanan tanpa sweater apalagi jas hujan. Jalanan yang turun menukik curam membuat
tubuhku meringkuk ingin memelukmu. Namun aku tak punya keberanian untuk
melakukan itu. Pepohonan yang menyimpan butiran air dari langit memandang kita
berdua amat iba. Dedaunan hijaunya melambai ke arah kita agar sejenak berteduh
di bawah kerindangannya.
Ah, sayang, hujan malah bertambah dasyat mengamuk siang mendekati
petang. Maka kau terus melanjutkan perjalanan. Gubuk yang bertengger di tepian
ladang menggodamu berheti sejenak menunggu hujan reda. Namun, tak enak hati
jika sampai ada orang luar yang tahu kita berada dalam naungan atapnya. Mereka
akan berpikir negatif mengenai diriku. Tentulah itu akan menimbulkan
malapetaka.
Suasana bertambah mencekam saat
arus di selokan meluap. Airnya cokelat keruh muntah ke pusar jalan. Jika jalan
yang dilalui ini datar, maka sudah pastilah akan banjir. Aku takut bukan main. Bibir kugigit menahan perasaan, napas
berkali-kali kuatur agar keluar dengan lancar. Perlahan pening yang tak
diundang datang. Aku menitikkan airmata menahan sakit. Dada kiriku perih
seperti dicabik-cabik oleh kuku yang runcing. Atau anggap sedang ditusuk-tusuk
pisau yang tumpul.
“Mas, kita berteduh sebentar,
ya? Aku tidak kuat dingin!” emisku padamu yang juga kedinginan.
“Langsung pulang saja ya, Dek!
Dingin sekali!” Mungkin pikiranmu sudah basah lebih baik basah sekalian. Tapi
aku? Pernahkah kau memikirkanku? Barangkali sejenak menoleh ke belakang,
lihatlah raut wajahku yang benar-benar tak sanggup dipermainkan air hujan. Aku
butuh istirahat. Aku lelah! Emosi berkecamuk di dalam dadaku sebab kemauanku
tak dituruti. Ingin melampiaskannya langsung menggunakan perkataan. Sayang, aku
tak terbiasa marah dengan suara mengerikan. Cukup diam dan airmata akan
mengeluarkan panas jiwaku yang membakar naluriku untuk sabar. Derasnya air
hujan akhirnya menyamarkan airmataku yang jatuh berceceran di atas pipi. Bagaimana
jika sampai aku sakit di tengah-tengah jalan?
Ah, aku tak boleh seegois ini! Perjuanganmu yang mau mengantarkanku
sampai kampung ini perlu kupertimbangkan untuk meredam amarahku. Secara tidak
langsung, akulah yang jauh lebih tega membiarkanmu hujan-hujanan seperti ini.
Andaikan saja aku tak punya masalah dengan impianku yang ingin membeli netbook
dalam keadaan tak punya uang cukup, tentulah kau tak akan terjebak di mulut
hujan yang saat ini menganga lebar.
***
“Ambil sendiri, Dek!” Kau
meletakkan dompet kusammu di hadapanku. Aku melirik sejenak sebelum pura-pura
menenggak air panas yang dihidangkan oleh pemilik rumah. Kutelan getir yang
menyiksa ulu hatiku. Wajahku tertunduk meratapi kerapuhan fisikku yang tak bisa
berbuat apa-apa, hingga menarikmu ikut menyelesaikan perekonomianku yang
menyebalkan. ‘Maafkan aku, Mas!’ kataku dalam hati yang tak sanggup kau dengar.
Kau tangkupkan dua tanganmu di badan gelas. Menyeringai dengan memandangku usai
menenggaknya. “
“Adek! Lihat! Aku bisa minum air
panas!” Wajahmu tampak cerah meski rambutmu basah dan bibirmu biru pucat. Sekali
lagi kau menenggaknya. Aku mengamatimu dengan tatapan bodoh. “Coba diminum,
tidak panas kok!”
Tak masuk akal! Bagaimana
mungkin air yang masih mengepulkan asap kau kata tidak panas? Benar-benar
menggelikan. Dan betapa polosnya aku yang mau saja menuruti perintahmu. Lidahku
tertarik ke belakang dengan paksa, aku memekik. “PANAS!” Kau akhirnya tersenyum.
Seakan senang karena melihatku kesusahan.
“Ini, berikan sendiri!”
Lama aku tak merespon dompet
cokelatmu yang tergeletak di sisiku, kau pun akhirnya menyerah, mengambilkan
uangnya untukku. Aku menerimanya dengan perasaan sakit yang tak mampu kukisahkan
dengan kata-kata. Hanya jiwaku yang berjanji pada waktu, jika setelah ini aku
akan lebih giat belajar meraih impianku yang amat mulia.
Kutelan air liurku dalam-dalam untuk mengubur pedih yang menyiksa
batinku. Kupalingkan wajahkku sejenak mengamati luar jendela yang penuh kabut,
aku mengedipkan mata, cairan panas membuat sudut mataku hangat. Ladang nan
berkelok-kelok disirami hujan yang mengamuk ganas. Tak satu orang petani pun
yang tampak mencnagkul tanah. Hening. Hanya rintikan hujan yang menjadi melodi
waktu ini. Dan pada garis khayal di atas bentanga alam yang menyedihkan itu
kuukirt mimpiku yang kau anggap setinggi langit. Langit mengajariku untuk
menangis. Perlahan butiran itu menetes tanpa ada yang menyuruh. Akalku saja yang
sedang terbang jauh menjemput takdir yang bingung di mana akan menentukan
langkah hidupku.
“Buk, di sini udaranya dingin sekali, ya?” Suaramu memantul pada
dinding kusa yang menjadi gubuk tuan rumah. Ubin kotor tak disapu menyimpan
tanah bekas injakan sandal penghuninya. Seperti gedung suram yang tak terawat.
Kain tersampir di bifet dan di kursi
secara sembarangan. Tatanan ruang tamu tak rapi, menyimpan filosofi orang
pegunungan yang lebih mengutamakan pekerjaan alam ketimbang mengurus rumah
sendiri. Gelap memberikan kesan horor jika aku terjebak dalam ruang itu
sendirian.
“Iya Mas, bahkan kami sampai sering tidak mandi satu minggu kalau
tidak turun ke Kaliangkrik. Airnya seperti es.”
Unik. Manusia yang jarang mandi. Aku terkekeh dalam hati menahan
geli. Secepat mungkin aku menyekanya lalu memandangmu dengan kuluman senyum.
Kau sibuk memantik rokokmu
dengan korek api yang juga sekarat kedinginan hingga sama sekali tak mau hidup.
Aku menggelengkan kepalaku tak tega melihat nasibmu yang sungguh malang. Asap
yang kauembuskan dari nikotin itu setidaknya akan mengurangi penderitaan
tubuhmu yang kedinginan stadium tiga. Rupanya takdir sedang tak memihak
kepadamu. Lalu aku sang gadis polos ini menyerobot korekmu usai memberikan uang
notebook kepada pemilik rumah.
“Terima kasih, Bu. Sudah mau
membantu saya, maaf tapi uangnya kemarin kurang.” Kataku berbasa-basi seraya
menggerakkan jemariku untuk menghidupkan korek api.
“Iya, Mbak. Ndak papa kok.” Kalimat
itu yang aku dengar terakhir, selanjutnya aku tak mau mendengarkannya. Aku hanyut
dalam pekerjaanku yang ingin menghidupkan api untukmu. Susah sekali, aku tak
tahu apa masalahnya. Kau yang kuperjuangkan
malah mengabaikanku, memebiarkanku bermain dengan korek api renta itu.
Sementara bibirmu berbincang ke sana kemari entah membahas apa. Jemariku sampai
mati rasa karena kelelahan menggesek-gesek kepala korek, aku akhirnya menyerah
tanpa hasil yang memuaskan.
“Sudah dibilangin tidak bisa kok
ngeyel!” Ledekmu.
Aku hanya terkekeh tanpa merasa
bersalah sedikit pun.
Jika mengingat apa yang kau
lakukan tadi, tentang ketulusanmu yang mau mengeluarkan ratusan uang untukku
dan mau mengantarkanku sampai rumah orang yang baru satu kali bertemu dengaku
itu, rasanya aku tak berhak menuntutmu untuk ini itu. Dan kemauanmu yang ingin
segera pulang memang keputusan yang benar. Ibumu akan marah jika tahu anaknya
kehujanan sampai basah kuyub seperti itu, seperti ibuku yang selalu naik darah
ketika mendapati ubun kepalaku penuh dengan embun hujan.
“Kamu itu tidak boleh kedinginan
malah hujan-hujanan! Apa kamu senang membuat orangtuamu kesusahan dan khawatir
lagi?” hardikan Ibuku terdengar keras di samping telingaku. Ia mengetuk
kesadaran akalku yang nyaris limbung karena dingin. Oksigen serasa tak sanggup
aku hirup. Aku ingin rebah namun masih duduk di atas sepeda motormu. Aku tak
boleh jatuh sakit atau Ibuku akan amat gelisah memikirkan kondisiku yang buruk.
Lalu pelan aku tarik bibirku untuk tersenyum sendiri. Kunikmati hidupku yang
berliku ini. Perjuangan demi perjuangan terus menemani, mereka tak pernah mau
pergi meninggalkanku sendirian.
“Maaf ya, Mas. Aku membuatmu
kehujanan seperti ini.” Bisikku di sisi telingamu. Aku tak tak tahu kau
mendengarkan kalimatku atau tidak. Yang kutahu, tiba-tiba kau mengerem laju
sepeda motormu, siap-siap turun meninggalkanku.
“Mau apa?”
“Kencing!” Jawabmu asal. Kau
lantas melirik kanan kiri. Ladang dengan pepohonan rindang di depan tubuhmu.
Hujan masih menyembur dengan deras. Selokan meluap-luap.
“Kenapa tidak berhenti saja di
musola? Terus apa Mas nggak mau cebok?”
“Pakai air hujanlah, Dek!”
“Konyol!” Aku menepuk bahumu. “Cari musola, aku juga mau buang air
kecil!” Kau akhirnya menarik gas motor. Aku tersenyum menahan geli. Sakitku
tertimbun kepolosan jalan pikirmu yang sedang sempit. Aku tak terlalu memikirkan
nasib pernapasanku lagi. Pasrah adalah jalan keluar. Toh, mengeluh padamu tak akan pernah menjadi berarti. Kau angkuh
dan jarang percaya jika aku sedang mengeluh sakit. Mungkin jika suatu saat
nanti aku tak kuat dan tersungkur di pembaringan selama berhari-hari dengan
bantuan selang oksigen barulah kau akan percaya bahwa aku mempunyai sakit yang
serius. Dan tentu kau tak akan meremehkan keluhanku lagi. Terkadang aku kesal
dengan kepedulianmu yang timbul tenggelam, namun apa pun yang terjadi aku tetap
menyayangimu, Mas.
Tak pernah aku menduga jika penyelesaian dari masalah kebelet ini
adalah di pinggiran sungai kecil di dekat jembatan. Kalau bukan sebab kau
yang menyuruh, mungkin aku sudah menolak
dengan umpatan kasar. Muak rasanya! Tapi aku tak punya pilihan. Kesal bercampur
aduk dengan kepedihan melepaskanmu pergi jauh merantau ke Jakarta. Rasanya ada
palu yang menumbuk batinku hingga remuk. Semangatku pun berserakan di atas
permukaan tanah yang dipenuhi oleh genangan air hujan, diubah dengan paksa menjadi kegetiran yang tiada bandingannya dengan apa
pun. Ingin kuhanyutkan ke sungai yang arusnya mengalir deras, saying ia setia
memandangmu dalam bayangan keruh.
Aku turun dari motormu,
berdiri mematung menatap parasmu yang membeku. Aku tahu kau amat kedinginan,
namun sorot matamu tak mampu membohongi penilaianku bahwa kau pun berat melepas
kebersamaan ini. Bahkan mungkin hatimu melolong penuh harap kepada takdir agar
tak membentengi pandangan pupil mata kita. Mengkhayalkan kebersamaan yang kekal
sampai maut datang menjemput ruh masing-masing. Saling suap canda dalam pedih
yang sedang melanda. Duduk bersandingan di depan muka senja hari-hari nanti.
Atau menangis berdua di bawah siraman airmata langit seperti saat ini. Kau diam
seperti tak ada kalimat yang pantas dikeluarkan. Apakah karena kedinginan?
“Benarkah kita akan berpisah?”
Aku berharap
kalimat yang baru saja kukeluarkan adalah halusinasi kepergianmu. Sampai kapan
pun tak akan rela aku melepaskanmu jauh dari sisiku. Dan matamu yang merah
sebab tamparan titik-titik hujan yang ganas membuatku hancur berantakan. Tak
tega aku membiarkanmu menderita seperti itu. Seharusnya aku mengizinkanmu
singgah di rumahku, lantas akan kuhidangkan segelas teh manis untukmu. Namun
kau boleh menganggapku kekasih terbejatmu sebab aku tak punya nyali
memasukkanmu ke rumahku, dengan alasan aku tak mau terima resiko buruk menjadi
gosip-gosip tetangga yang bermulut
busuk. Sementara kau sendiri telah mengenalkanku kepada orangtuamu. Menjaga
nama baik dari lingkungan desa bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Perumpamaannya seperti
menelan bara yang masih menganga.
“Jaga
dirimu baik-baik di sini, Dek!” Balasan
kalimatmu yang tidak nyambung adalah
pertanda kau benar akan meninggalkanku. Lalu aku menunduk sejenak. Kucium
punggung tanganmu penuh ketulusan. Dalam hati aku menggumam, semoga kelak kita
dipertemukan dalam keadaan yang amat baik, karena pengakhiran jumpa kita sudah
amat menyakitkan.
***
Mas, apa kabarmu saat ini. Masihkah kau setia mengingat paras
gadis yang tak elok ini? Seorang hawa
yang tega kau biarkan menggigil di bawah milyaran titik hujan beberapa hari
lalu. Sebuah momen yang kan kujadikan keabadian untuk mengenang dirimu sebelum
kau benar pergi jauh dari sandingku. Kini, di sini aku sendiri, memahat rindu
yang entah kapan akan terselesaikan. Meski hari demi hari aku mengerjakannya
dengan penuh semangat, tetap saja, rindu itu bukannya hilang malah bertambah
liar. Ia adalah benalu yang menggerogoti semangatku. Aku menjadi sosok lemah
yang tersenyum menyimpan kegersangan jiwa yang sunyi. Maka dengan menulis,
mungkin akan membuatku sanggup melupakan parasmu barangkali sejenak. Sayang
sepertinya itu tak mempan, jelas ingatanku malah semakin gila memikirkanmu.
Just You!
Hanya kau yang membuatku bertindak sebodoh ini. Mengenangmu dalam kata-kata, aku menghabiskan waktuku untuk menenun memori perjalanan hidup yang panjang bersamamu. Karenamu, aku tahu cara untuk bangkit usai tumbang dan enggan menuangkan semangat ke dalam cawan yang kedaluarsa dengan impian.
Kau menerangiku, merengkuh asaku, menyembunyikan resahku, menenggelamkan sunyiku. Karenamu hidupku yang terasa tiada menjadi ada. Aku menyayangimu, sebagaimana aku menyayangi ke dua orangtua dan impian-impian yang teranggap mustahil.
Komentar
Posting Komentar