Aku
menyebutmu!
Apakah
judul dari tulisan ini? Tak tahu! Dan seperti biasanya aku hanya akan
mengatakan kata. ‘Entahlah!’ Hanya saja, di sini ada sebuah kisah yang ingin
aku ceritakan. Aku ingin bernostalgia denganmu!
Malam
itu, kau menelponku. Mengganggu separuh waktu tidur lelapku. Mataku yang telah
berpandangan sayup, terpaksa harus aku bukakan lebar untuk membantu akal
berkosentrasi. Temaram. Itulah kesan tempat tidurku yang hanya disekat anyaman
bambu. Angin
di luar rumah, mengacaukan keheningan malam. Tak ada raungan aktivitas
tetangga. Sesekali kudengar dengkuran adik kcilku yang tertidur di sebelahku.
Rumahku dibunuh sepi, keadaan yang biasanya kau lukiskan ramai, penuh dengan
tawa anak-anak kampung, mendadak menyedihkan bak kuburan tanah gersang yang
jauh dari pedesaan.
Suaramu
terdengar begitu jelas. Jernih dan menenangkan. Ada kesan rindu yang mendadak
aku tumbuhkan. Meluap-luap mengamuk jantungku. Ingin aku merengkuhmu hanya
dalam khayalan. Aku melukismu berdiri di karidor gedung lantai tiga. Menatap ke
bawah jalan raya dan rumah-rumah megah yang ada di sekitar bangunan garapanmu.
“Tadi Ibu nelpon, Dek. Dia tanya aku masih
menghubungimu, tidak?”
Lantas aku tersenyum. Rinduku padamu menggebu.
Kusibak selimut yang menutupi keseluruhan tubuhku. Aku bersemangat mendengar suaramu. Kantukku lenyap. "Lalu beliau bilang pa, Mas?"
"Tanya kamu kerja apa begitu,"
"Aku di toko, Mas."
"Iya."
"Lalu Ibu bilang apalagi?"
"Sudah hanya itu tak ada yang lain," aku mengenangmu. Beberapa hari sebelum kau berangkat ke Jakarta aku bermain ke rumahmu. Mencium telapak tangan Ibumu yang senyumnya menentramkan. Di ruang tamu sederhana itu aku ingat dengan jelas, kau duduk di sisiku, berkata padaku. "Adek, jangan pernah tinggalkan aku ya? Aku sayang padamu, tapi aku tidak tahu bagaimana cara untuk mengungkapkannya!" Kau ingat itu bukan? Hari itu wajahmu kusut. Matamu sinarnya redup. Baru saja kita melaksanakan perjalanan keluar kota, dari Yogyakarta. Kuhabiskan waktu istirahatu di rumahmu. Kau suguhi aku dengan segelas teh manis namun aku tak segera meminumnya, hingga akhirnya kau mengambilkanku air mineral. Dan hari itu pula kau membayarkan kekurangan nootebokku. Kita terobos hujan lebat bersamaan. Memerangi gigilnya dingin hingga ke puncak kampung. Kau yang pucat, ya itu, semenjak itu aku amat menyayangimu. Aku merangkak maju, menggandeng lenganmu menaiki jalan menanjak menuju sebuah rumah penduduk yang sederhana, namun kau menolakku dengan mentah.
"Ih manja banget sih, aku enggak suka!" Katamu dulu seraya mengibaskan tanganku. Aku pasrah. Sempat menggerutu sebelum akhirnya aku tersenyum mengejar langkah kecilmu.
Kau memang selalu seperti itu.
Kurang peduli. Melatihku mandiri, namun aku terlalu manja dan ingin selalu di bawah naungan kepedulianmu.
Jika mengingat itu, sungguh aku amat merindukanmu. Kita pernah duduk di bawah milyaran titik hujan Bandongan, di depan toko, saat mendung menghancurkan manisnya pesona bintang. Aku berkaca tentang banyak hal. Kau berbicara secukupnya, aku menyimak memandang wajahmu yang tampak kelelahan. Senja sebelum kita bertemu, kau bilang ikut voli dengan sahabat-sahabatmu.
Aku ingin kau selalu di sisiku saat aku sedih. Aku merindukanmu sebagaimana aku merindukan AYAHKU.
"Tanya kamu kerja apa begitu,"
"Aku di toko, Mas."
"Iya."
"Lalu Ibu bilang apalagi?"
"Sudah hanya itu tak ada yang lain," aku mengenangmu. Beberapa hari sebelum kau berangkat ke Jakarta aku bermain ke rumahmu. Mencium telapak tangan Ibumu yang senyumnya menentramkan. Di ruang tamu sederhana itu aku ingat dengan jelas, kau duduk di sisiku, berkata padaku. "Adek, jangan pernah tinggalkan aku ya? Aku sayang padamu, tapi aku tidak tahu bagaimana cara untuk mengungkapkannya!" Kau ingat itu bukan? Hari itu wajahmu kusut. Matamu sinarnya redup. Baru saja kita melaksanakan perjalanan keluar kota, dari Yogyakarta. Kuhabiskan waktu istirahatu di rumahmu. Kau suguhi aku dengan segelas teh manis namun aku tak segera meminumnya, hingga akhirnya kau mengambilkanku air mineral. Dan hari itu pula kau membayarkan kekurangan nootebokku. Kita terobos hujan lebat bersamaan. Memerangi gigilnya dingin hingga ke puncak kampung. Kau yang pucat, ya itu, semenjak itu aku amat menyayangimu. Aku merangkak maju, menggandeng lenganmu menaiki jalan menanjak menuju sebuah rumah penduduk yang sederhana, namun kau menolakku dengan mentah.
"Ih manja banget sih, aku enggak suka!" Katamu dulu seraya mengibaskan tanganku. Aku pasrah. Sempat menggerutu sebelum akhirnya aku tersenyum mengejar langkah kecilmu.
Kau memang selalu seperti itu.
Kurang peduli. Melatihku mandiri, namun aku terlalu manja dan ingin selalu di bawah naungan kepedulianmu.
Jika mengingat itu, sungguh aku amat merindukanmu. Kita pernah duduk di bawah milyaran titik hujan Bandongan, di depan toko, saat mendung menghancurkan manisnya pesona bintang. Aku berkaca tentang banyak hal. Kau berbicara secukupnya, aku menyimak memandang wajahmu yang tampak kelelahan. Senja sebelum kita bertemu, kau bilang ikut voli dengan sahabat-sahabatmu.
Aku ingin kau selalu di sisiku saat aku sedih. Aku merindukanmu sebagaimana aku merindukan AYAHKU.
Komentar
Posting Komentar