Untukmu,
Kau selalu merasa bersalah karena merasa belum mampu memberiku apa-apa. Sementara aku, cukup diam dengan kesenanganku pada perasaan bersalahmu yang tak sanggup memberiku apa-apa. Bukan pada apa-apa yang aku harapkan, tapi pada rona wajahmu yang penuh penyesalan itu, kau lukiskan sebuah cinta yang jarang dimiliki oleh orang lain.
Mungkin—
Kau acuh. Lebih egois, bagimu jauh dari kata romantis. Memberiku bunga adalah khayalan tingkat tinggi. Bahkan kau akan membiarkanku dipeluk dingin, enggan memakaikan jaket di tubuhku tatkala hujan menjamahku. Kau sering membuat bibirku tertekuk maju.
Suaramu terkadang terdengar hambar. Saat aku marah, kau bahkan mengabaikan. Seolah, aku tak pernah menjadi apa-apa di hidupmu. Itu membuatku terpuruk, jatuh pada lubang perasaan yang menyakitkan. Kau membuatku membencimu. Aku kesal dibuatmu. Tak jarang pula, kau mengacuhkan pesanku. Mungkin itu hanya pesan biasa bagimu. Tapi aku? Aku selalu menunggumu mengirimiku pesan. Dari malam sampai malam kemudian. Setiap waktu tak pernah aku berselingkuh dengan waktu. Di sini, aku setia menunggu balasanmu, juga sosokmu. Aku belajar untuk tidak lelah dengan karaktermu yang dingin. Aku bersabar pada dirimu yang tidak sanggup menemaniku setiap saat seperti teman-temanku. Aku tak marah kau belum meluangkan waktu mengajakku mengelilingi dunia. Juga rela mendengarkan mulutmu yang berkicau dengan kata-kata kotor. Aku bersabar. Amat bersabar. Hingga pada titik akhir. Lelah itu datang dengan sendirinya.
"Kapan kita putus?" Sebuah kata yang terucap tanpa kesadaran berarti. Aku berbaring menatap atap rumah lusuhku. Kau yang jauh di seberang sana, sedang berpikir hal-hal yang tidak mungkin terlaksanakan.
"Kamu ngomong apa, Dek? Serius?" Entahlah. Aku pun masih meragukan kata-kata tersebut. Jika perasaan sayangku tidak besar, jelas kata-kata itu tidak akan terucap, dan aku tak akan pernah sakit hati. Kau tahu mengapa? Sebab aku tidak akan mempedulikan hidupmu. Aku mencintaimu, itu sebabnya aku marah karena merasa tidak dipedulikan olehmu. Aku ingin menjadi orang yang senantiasa menghiasi hari-harimu, ingin menjadi hal yang berharga dalam hidupmu, terakhir aku ingin menjadi bagian hidupmu, Mas.
"Kalau memang itu pilihan yang terbaik, dan kamu memang menginginkan hal itu, Mas diputus juga tidak papa." Jawabmu enteng. Aku menarik napas. Sesak rasanya. Pesanku kau balas lamban. Ucapanku selalu kau bantah. Terakhir aku minta putus pun kau membiarkanku begitu saja!
"Jadi kau benar tidak mencintaiku?" "Lalu, aku harus bilang apa? Melarang? Tidak mungkin, aku orang buruk. Terkadang aku merasa kasihan karena kau mendapatkan orang buruk yang tidak tahu apa-apa sepertiku ini, Dek."
"Kau benar-benar tidak mencintaiku?" "Dek, aku sayang. Tapi kalau memang kau menyudahi hubungan ini, apalagi yang sanggup aku perbuat? Kau yang memutusku!" "Aku tidak mau putus! Aku sayang sama kamu, Mas. Aku hanya merasa tidak dipedulikan! Kalau ditelpon, mas selalu berbicara dengan orang lain, bercanda dengan teman-temanmu, padahal aku sudah meluangkan waktu untukmu, aku lelah, aku kirimi pesan, kau lama sekali membalasnya, padahal aku memberimu pesan di jam-jam istirahat, terkadang aku iri dengan teman-temanku yang setiap saat diberi kabar oleh kekasihnya, aku? Apa karena aku miskin lalu aku diabaikan? Apakah aku tidak penting bagi hidupmu?" Batinku menjerit menahan sakit.
Begitulah yang aku rasakan. Tatkala embusan angin di pepohonan pinus yang rindang menyerap tubuhku. Pada hamparan tanah lembab yang kita injak bersaksikan kegagahan gunung Sumbing aku memahat wajahmu. Wajah tertekuk datar, dengan perasaan yang hambar. Kaos birumu. Celana panjangmu. Terakhir sepeda motormu yang kujatuhkan hingga stangnya menggerus tanah. Kau tak menolongku. Hanya menghampiri mendirikan sepeda motormu. Aku merasa, sepeda itu lebih penting daripada nyawaku. Kau bahkan tak bertanya manakah yang sakit. Padahal jantungku berasa mau putus karena takut. Kau tak memerhatikanku! Mungkin— aku tidak tahu sebenarnya kau berpikir apa. Lalu tawamu meledakkan hening yang mengelilingi lapangan.
"Majulah, aku mau bilang sesuatu." Katamu membuat tubuhku tertarik mendekatimu. Kau duduk di atas motormu. "Lihat, tanganku gemetaran!" Aku merajuk. Suaraku lirih manja. Bak anak kecil yang meminta diperhatikan usai jatuh saat berlatih jalan. Kau mengatupkan dua tanganku. Membelainya lembut.
"Hanya jatuh dari sepeda motor begitu saja gemeteran! Jadi anak kok berlebihan!" "Aku TIDAK BERLEBIHAN! AKU KAGET!" Geretakku seraya memukul bahumu. Kau berkelit. Menggeliat seperti ulat kepanasan. Reflek kau turun dan jongkok begitu saja. "Sebenarnya Ayahku pernah bilang—" kau gantung kalimat di urat lehermu. Aku jongkok di hadapanmu. Kau menatapku, namun aku memalingkan wajah. Sepeda motormu berdiri tegak di belakang tubuhmu. Angin mengobrak-abrik lipatan kerudungku. Tangan kugunakan untuk menggurat-gurat tanah dengan ranting kering untuk mengusir suasana kaku.
"Bilang apa?" "Setelah pulang dari rumahmu, Ayah menanyakan suasana rumahmu, lantas aku menceritakannya dengan jujur."
Tanda buruk akan terjadi. Rambu-rambu telah memperingatkan dengan jelas. Aku harus menabahkan batin jika lampu menyala merah.
"Lalu?" "Tapi adek jangan sakit hati, ya?" Aku mengangguk. Penyataan pahit jelas akan membuatku terluka.
"Janji?" "Tenang saja, aku tidak akan kenapa-napa." Kataku berbohong. Jika hal itu menyakitkan, tentu aku pun akan merasakan sakit. Realitas terkadang membuatku harus berkata busuk dengan kebohongan.
"Ayah meresponinya dengan kalimat, 'kenapa kau bisa mencintainya? Jika kenyataanya dia benar-benar orang tidak punya, dan sama sekali tidak mempunyai rumah! Dengan apa kalian akan hidup kelak nanti?'"
Hatiku luluh lantah. Nyawaku serasa binasah. Aku diam sejenak memandang langit. Berdiri menguatkan hati. Jemariku rapuh gemeteran. Kakiku menghendaki lari dari hadapanmu. Aku hanya sanggup menjauh beberapa langkah darimu, membelakangi tubuhmu. Berusaha sekuat tenaga menyembunyikan airmata yang tumpah dasyat. Aku menyalahkan diriku, mengapa aku harus menangis di hadapanmu. Sungguh, aku tak sanggup menutupi kenyataan pilu yang menyesakkan dadaku. "Dek, jangan menangis. Aku bilang, "aku mencintainya bukan menginginkan hartanya, Yah!" Jangan salah paham, Dek!"
"Ya! Itu tidak salah, semua orang tua ingin memberikan hal yang terbaik untuk anak-anaknya. Orang miskin sepertiku hanya akan memberikan beban untuk hidup orang lain, aku tidak kaget dengan pernyataan itu, tapi, entah mengapa aku tidak sanggup kebal dengan takdir yang aku hadapi."
"Ayahku hanya ngetes aku, Dek!" Aku masih memunggungimu. Kau berdiri di belakangku. Angin masuk ke celah batinku. Suasana bertambah hening. Hutan pinus di sekitar memandang iba. Dengung kendaraan di jalan raya seberang di bawah lapangan menginstrumeni kegetiran jiwa.
"Kau bohong!" "Tidak, Dek. Ayahku cukup mendapatkan menantu yang sanggup mengaji," "Tapi, apa-apa membutuhkan uang! Ingin sekolah dengan uang, hidup dengan uang, bahkan cinta pun dengan uang! Sementara aku tak punya persyaratan itu!"
"Apakah kau pikir aku ini orang berada?" "TIDAK!" Aku menjawab lantang. 'Kau sama sekali tidak punya apa-apa! Rumah kau tak punya, itu hanya milik ayahmu, dan milik ayahmu adalah miliknya Allah! Jadi salah, jika cinta dikaitkan dengan uang, sementara zat yang menciptakan perasaan adalah Tuhan semesta alam. Kita tidak lebih hanyalah sebuah boneka yang tidak akan bergerak, jika Ia tidak meridhoinya!' Batinku memekik. Namun suaraku bungkam.
"Tahu kau akan menangis, aku tidak akan menceritakan kata-kata Ayahku, apa pun yang terjadi aku tetap mencintaimu, Dek! Aku akan berjuang untukmu!" "Aku sanggup mencari uang sendiri! Aku akan membuktikan kepada Ayahmu dan juga semua orang, jika hal yang amat berguna bukan hanya uang," kalimatku masih digiring sembilu. Airmata tak henti memeras pilu. "Jangan berkata seperti itu, itu akan melukaiku!" Katamu. Aku tak tahu apa yang kau maksudkan. Kau menarik tubuhku lembut. Mendekapku sejenak. "Jangan menangis, hatiku sakit melihatmu seperti ini."
Kenyataan menjadi orang miskin selalu menyakitkan! Haruskah aku meninggalkanmu? Ada pembatas yang menyekat perasaan ini. Dan sikapmu! Sikapmu terkadang membuat emosiku jinak!
"Aku juga sayang sama kamu, Dek. Tapi aku tidak tahu, harus dengan apalagi aku meyakinkan perasaan ini," katamu di balik telpon. Kau akhirnya diam. Sejenak aku luluh. Hatiku terenyuh. "Jika aku disuruh jujur, aku tidak ingin kehilanganmu, sangat tidak ingin! Aku ingin hidup bersamamu!" Kemudian kata-kata itu mendinginkan emosiku yang sebelumnya panas. "Kau paham bukan sekarang Mas di mana, bekerja dengan siapa, dan tentu kau juga paham waktuku amat terbatas, maaf jika aku tak pernah sanggup meluangkan waktu untukmu!"
Maafkan aku, aku selalu membuat batinmu menderita. Aku selalu membuatmu bersalah. Aku hanya takut kau meninggalkanku, sebab aku adalah gadis miskin! Jika aku mengingat egomu pada raut wajahmu yang menyematkan penderitaan, aku enggan memaknai perasaanku yang terlanjur berkobar. Rasanya aku ingin tenggelam dan tak mau lagi menemukanmu di dasar permukaan. Sayang, jika aku mengingatmu malam itu kau berkicau, rasa muakku kacau.
"Persiapkan beberapa pakaian yang akan kau bawa ke Jogja, Dek. Hubungi teman yang akan kau tempati untuk ditinggali di sana, dan—" kata-katamu tersendat. "Ah, prekdisikan berapa uang yang akan habis untuk makan, pagi makan sepuluh ribu, siang sepuluh ribu, malam sepuluh ribu, sehari tiga puluh ribu! Kalau membawa uang 150.000 untuk tiga hari, kemungkinan besar cukup!" Pesanmu saat kakiku hendak melangkah ke Yogyakarta. Malam-malam lalu kau tak seperhatian itu. Jika aku menelponmu, maka suaramu dibagi-bagi dengan temanmu di sana. Aku bukannya marah, aku hanya tidak suka jika terlalu sering diduakan dengan mereka. Aku ingin selalu dinomor satukan! Meski kenyataannya hal itu tidaklah mudah. Kau mensejajarkan sosialisasi bibir denganku juga dengan teman-temanmu. Itu serasa tidak adil! Dan itu membuat diri ini teranggap seperti KAWAN, bukan seorang kekasih apalagi calon istri. Sikapmu melunturi kepercayaanku akan rasa sayangmu kepadaku.
"Oh, kau ternyata perhatian juga, ya?" Kataku menyela pesanmu malam itu. Kau akhirnya diam. "Lelaki yang romantis!" Aku memuji. "Teruslah bersikap dingin namun perhatian seperti itu ya, itu akan membuatku bertambah menyayangimu!" "Dasar tukang gombal!" Lalu kau kembali bergurau dengan teman kerjamu. Aku menutup sambungan.
****
Kau senantiasa mencukupi kebutuhanku bukan keinginanku. Kau membantu dan memfasilitasi sesuatu yang tak mampu untukku gapai. Bahkan hatimu pun membuat hidupku menjadi berarti. Sosokmu tak pernah lenyap dari ingatanku. Kau adalah mentari yang ada sampai dunia mati. Nyawamu layaknya oksigen yang membuatku bertahan sampai detik ini. Tanpamu, bukan hanya duniaku yang hancur, namun jasadku ada, namun terasa tiada. Lenyap dalam kehakikian indah.
Jangan pernah merasa aku akan meninggalkanmu, juga jangan berpikir aku akan protes dengan pekerjaanmu. Karena aku tak melihat luarnya dirimu, melainkan dalamnya hatimu yang tak pernah ditutupi kedustaan. Kau jujur, ya! Benar-benar jujur mencintaiku. Perasaanmu terendap hingga mengeras, sukar untuk dipecahkan, meskipun perkataanmu terkadang membosankan juga menyebalkan. Aku memahami karaktermu, jadi pahamilah pula karakterku. Jika aku marah dan jika kau pun marah, itu hanya karena kita LELAH! Dan pahami aku, jika aku protes kau tak memperdulikanku, itu artinya aku sedang lelah dengan masalah yang aku hadapi. Pada akhirnya, aku menyalahkan sesuatu yang tidak pantas untuk disalahkan. Jangan jadikan daya pemikiran yang berbeda dan hartaku yang rendah sebagai pembatas hubungan kita melangkah ke pelaminan. Percayalah, kelak Allah akan memberikan jalan, jika waktu itu telah tiba. Sebagaimana Ia yang memberiku jalan saat aku ditampar susah, melewati jalurmu yang tak sanggup aku prediksi sebelumnya.
Selamat siang, Sayang! Jaga dirimu baik-baik di sana! I love you.
Memo, 03 April 2016. Kamar reot Magelang.
Kau selalu merasa bersalah karena merasa belum mampu memberiku apa-apa. Sementara aku, cukup diam dengan kesenanganku pada perasaan bersalahmu yang tak sanggup memberiku apa-apa. Bukan pada apa-apa yang aku harapkan, tapi pada rona wajahmu yang penuh penyesalan itu, kau lukiskan sebuah cinta yang jarang dimiliki oleh orang lain.
Mungkin—
Kau acuh. Lebih egois, bagimu jauh dari kata romantis. Memberiku bunga adalah khayalan tingkat tinggi. Bahkan kau akan membiarkanku dipeluk dingin, enggan memakaikan jaket di tubuhku tatkala hujan menjamahku. Kau sering membuat bibirku tertekuk maju.
Suaramu terkadang terdengar hambar. Saat aku marah, kau bahkan mengabaikan. Seolah, aku tak pernah menjadi apa-apa di hidupmu. Itu membuatku terpuruk, jatuh pada lubang perasaan yang menyakitkan. Kau membuatku membencimu. Aku kesal dibuatmu. Tak jarang pula, kau mengacuhkan pesanku. Mungkin itu hanya pesan biasa bagimu. Tapi aku? Aku selalu menunggumu mengirimiku pesan. Dari malam sampai malam kemudian. Setiap waktu tak pernah aku berselingkuh dengan waktu. Di sini, aku setia menunggu balasanmu, juga sosokmu. Aku belajar untuk tidak lelah dengan karaktermu yang dingin. Aku bersabar pada dirimu yang tidak sanggup menemaniku setiap saat seperti teman-temanku. Aku tak marah kau belum meluangkan waktu mengajakku mengelilingi dunia. Juga rela mendengarkan mulutmu yang berkicau dengan kata-kata kotor. Aku bersabar. Amat bersabar. Hingga pada titik akhir. Lelah itu datang dengan sendirinya.
"Kapan kita putus?" Sebuah kata yang terucap tanpa kesadaran berarti. Aku berbaring menatap atap rumah lusuhku. Kau yang jauh di seberang sana, sedang berpikir hal-hal yang tidak mungkin terlaksanakan.
"Kamu ngomong apa, Dek? Serius?" Entahlah. Aku pun masih meragukan kata-kata tersebut. Jika perasaan sayangku tidak besar, jelas kata-kata itu tidak akan terucap, dan aku tak akan pernah sakit hati. Kau tahu mengapa? Sebab aku tidak akan mempedulikan hidupmu. Aku mencintaimu, itu sebabnya aku marah karena merasa tidak dipedulikan olehmu. Aku ingin menjadi orang yang senantiasa menghiasi hari-harimu, ingin menjadi hal yang berharga dalam hidupmu, terakhir aku ingin menjadi bagian hidupmu, Mas.
"Kalau memang itu pilihan yang terbaik, dan kamu memang menginginkan hal itu, Mas diputus juga tidak papa." Jawabmu enteng. Aku menarik napas. Sesak rasanya. Pesanku kau balas lamban. Ucapanku selalu kau bantah. Terakhir aku minta putus pun kau membiarkanku begitu saja!
"Jadi kau benar tidak mencintaiku?" "Lalu, aku harus bilang apa? Melarang? Tidak mungkin, aku orang buruk. Terkadang aku merasa kasihan karena kau mendapatkan orang buruk yang tidak tahu apa-apa sepertiku ini, Dek."
"Kau benar-benar tidak mencintaiku?" "Dek, aku sayang. Tapi kalau memang kau menyudahi hubungan ini, apalagi yang sanggup aku perbuat? Kau yang memutusku!" "Aku tidak mau putus! Aku sayang sama kamu, Mas. Aku hanya merasa tidak dipedulikan! Kalau ditelpon, mas selalu berbicara dengan orang lain, bercanda dengan teman-temanmu, padahal aku sudah meluangkan waktu untukmu, aku lelah, aku kirimi pesan, kau lama sekali membalasnya, padahal aku memberimu pesan di jam-jam istirahat, terkadang aku iri dengan teman-temanku yang setiap saat diberi kabar oleh kekasihnya, aku? Apa karena aku miskin lalu aku diabaikan? Apakah aku tidak penting bagi hidupmu?" Batinku menjerit menahan sakit.
Begitulah yang aku rasakan. Tatkala embusan angin di pepohonan pinus yang rindang menyerap tubuhku. Pada hamparan tanah lembab yang kita injak bersaksikan kegagahan gunung Sumbing aku memahat wajahmu. Wajah tertekuk datar, dengan perasaan yang hambar. Kaos birumu. Celana panjangmu. Terakhir sepeda motormu yang kujatuhkan hingga stangnya menggerus tanah. Kau tak menolongku. Hanya menghampiri mendirikan sepeda motormu. Aku merasa, sepeda itu lebih penting daripada nyawaku. Kau bahkan tak bertanya manakah yang sakit. Padahal jantungku berasa mau putus karena takut. Kau tak memerhatikanku! Mungkin— aku tidak tahu sebenarnya kau berpikir apa. Lalu tawamu meledakkan hening yang mengelilingi lapangan.
"Majulah, aku mau bilang sesuatu." Katamu membuat tubuhku tertarik mendekatimu. Kau duduk di atas motormu. "Lihat, tanganku gemetaran!" Aku merajuk. Suaraku lirih manja. Bak anak kecil yang meminta diperhatikan usai jatuh saat berlatih jalan. Kau mengatupkan dua tanganku. Membelainya lembut.
"Hanya jatuh dari sepeda motor begitu saja gemeteran! Jadi anak kok berlebihan!" "Aku TIDAK BERLEBIHAN! AKU KAGET!" Geretakku seraya memukul bahumu. Kau berkelit. Menggeliat seperti ulat kepanasan. Reflek kau turun dan jongkok begitu saja. "Sebenarnya Ayahku pernah bilang—" kau gantung kalimat di urat lehermu. Aku jongkok di hadapanmu. Kau menatapku, namun aku memalingkan wajah. Sepeda motormu berdiri tegak di belakang tubuhmu. Angin mengobrak-abrik lipatan kerudungku. Tangan kugunakan untuk menggurat-gurat tanah dengan ranting kering untuk mengusir suasana kaku.
"Bilang apa?" "Setelah pulang dari rumahmu, Ayah menanyakan suasana rumahmu, lantas aku menceritakannya dengan jujur."
Tanda buruk akan terjadi. Rambu-rambu telah memperingatkan dengan jelas. Aku harus menabahkan batin jika lampu menyala merah.
"Lalu?" "Tapi adek jangan sakit hati, ya?" Aku mengangguk. Penyataan pahit jelas akan membuatku terluka.
"Janji?" "Tenang saja, aku tidak akan kenapa-napa." Kataku berbohong. Jika hal itu menyakitkan, tentu aku pun akan merasakan sakit. Realitas terkadang membuatku harus berkata busuk dengan kebohongan.
"Ayah meresponinya dengan kalimat, 'kenapa kau bisa mencintainya? Jika kenyataanya dia benar-benar orang tidak punya, dan sama sekali tidak mempunyai rumah! Dengan apa kalian akan hidup kelak nanti?'"
Hatiku luluh lantah. Nyawaku serasa binasah. Aku diam sejenak memandang langit. Berdiri menguatkan hati. Jemariku rapuh gemeteran. Kakiku menghendaki lari dari hadapanmu. Aku hanya sanggup menjauh beberapa langkah darimu, membelakangi tubuhmu. Berusaha sekuat tenaga menyembunyikan airmata yang tumpah dasyat. Aku menyalahkan diriku, mengapa aku harus menangis di hadapanmu. Sungguh, aku tak sanggup menutupi kenyataan pilu yang menyesakkan dadaku. "Dek, jangan menangis. Aku bilang, "aku mencintainya bukan menginginkan hartanya, Yah!" Jangan salah paham, Dek!"
"Ya! Itu tidak salah, semua orang tua ingin memberikan hal yang terbaik untuk anak-anaknya. Orang miskin sepertiku hanya akan memberikan beban untuk hidup orang lain, aku tidak kaget dengan pernyataan itu, tapi, entah mengapa aku tidak sanggup kebal dengan takdir yang aku hadapi."
"Ayahku hanya ngetes aku, Dek!" Aku masih memunggungimu. Kau berdiri di belakangku. Angin masuk ke celah batinku. Suasana bertambah hening. Hutan pinus di sekitar memandang iba. Dengung kendaraan di jalan raya seberang di bawah lapangan menginstrumeni kegetiran jiwa.
"Kau bohong!" "Tidak, Dek. Ayahku cukup mendapatkan menantu yang sanggup mengaji," "Tapi, apa-apa membutuhkan uang! Ingin sekolah dengan uang, hidup dengan uang, bahkan cinta pun dengan uang! Sementara aku tak punya persyaratan itu!"
"Apakah kau pikir aku ini orang berada?" "TIDAK!" Aku menjawab lantang. 'Kau sama sekali tidak punya apa-apa! Rumah kau tak punya, itu hanya milik ayahmu, dan milik ayahmu adalah miliknya Allah! Jadi salah, jika cinta dikaitkan dengan uang, sementara zat yang menciptakan perasaan adalah Tuhan semesta alam. Kita tidak lebih hanyalah sebuah boneka yang tidak akan bergerak, jika Ia tidak meridhoinya!' Batinku memekik. Namun suaraku bungkam.
"Tahu kau akan menangis, aku tidak akan menceritakan kata-kata Ayahku, apa pun yang terjadi aku tetap mencintaimu, Dek! Aku akan berjuang untukmu!" "Aku sanggup mencari uang sendiri! Aku akan membuktikan kepada Ayahmu dan juga semua orang, jika hal yang amat berguna bukan hanya uang," kalimatku masih digiring sembilu. Airmata tak henti memeras pilu. "Jangan berkata seperti itu, itu akan melukaiku!" Katamu. Aku tak tahu apa yang kau maksudkan. Kau menarik tubuhku lembut. Mendekapku sejenak. "Jangan menangis, hatiku sakit melihatmu seperti ini."
Kenyataan menjadi orang miskin selalu menyakitkan! Haruskah aku meninggalkanmu? Ada pembatas yang menyekat perasaan ini. Dan sikapmu! Sikapmu terkadang membuat emosiku jinak!
"Aku juga sayang sama kamu, Dek. Tapi aku tidak tahu, harus dengan apalagi aku meyakinkan perasaan ini," katamu di balik telpon. Kau akhirnya diam. Sejenak aku luluh. Hatiku terenyuh. "Jika aku disuruh jujur, aku tidak ingin kehilanganmu, sangat tidak ingin! Aku ingin hidup bersamamu!" Kemudian kata-kata itu mendinginkan emosiku yang sebelumnya panas. "Kau paham bukan sekarang Mas di mana, bekerja dengan siapa, dan tentu kau juga paham waktuku amat terbatas, maaf jika aku tak pernah sanggup meluangkan waktu untukmu!"
Maafkan aku, aku selalu membuat batinmu menderita. Aku selalu membuatmu bersalah. Aku hanya takut kau meninggalkanku, sebab aku adalah gadis miskin! Jika aku mengingat egomu pada raut wajahmu yang menyematkan penderitaan, aku enggan memaknai perasaanku yang terlanjur berkobar. Rasanya aku ingin tenggelam dan tak mau lagi menemukanmu di dasar permukaan. Sayang, jika aku mengingatmu malam itu kau berkicau, rasa muakku kacau.
"Persiapkan beberapa pakaian yang akan kau bawa ke Jogja, Dek. Hubungi teman yang akan kau tempati untuk ditinggali di sana, dan—" kata-katamu tersendat. "Ah, prekdisikan berapa uang yang akan habis untuk makan, pagi makan sepuluh ribu, siang sepuluh ribu, malam sepuluh ribu, sehari tiga puluh ribu! Kalau membawa uang 150.000 untuk tiga hari, kemungkinan besar cukup!" Pesanmu saat kakiku hendak melangkah ke Yogyakarta. Malam-malam lalu kau tak seperhatian itu. Jika aku menelponmu, maka suaramu dibagi-bagi dengan temanmu di sana. Aku bukannya marah, aku hanya tidak suka jika terlalu sering diduakan dengan mereka. Aku ingin selalu dinomor satukan! Meski kenyataannya hal itu tidaklah mudah. Kau mensejajarkan sosialisasi bibir denganku juga dengan teman-temanmu. Itu serasa tidak adil! Dan itu membuat diri ini teranggap seperti KAWAN, bukan seorang kekasih apalagi calon istri. Sikapmu melunturi kepercayaanku akan rasa sayangmu kepadaku.
"Oh, kau ternyata perhatian juga, ya?" Kataku menyela pesanmu malam itu. Kau akhirnya diam. "Lelaki yang romantis!" Aku memuji. "Teruslah bersikap dingin namun perhatian seperti itu ya, itu akan membuatku bertambah menyayangimu!" "Dasar tukang gombal!" Lalu kau kembali bergurau dengan teman kerjamu. Aku menutup sambungan.
****
Kau senantiasa mencukupi kebutuhanku bukan keinginanku. Kau membantu dan memfasilitasi sesuatu yang tak mampu untukku gapai. Bahkan hatimu pun membuat hidupku menjadi berarti. Sosokmu tak pernah lenyap dari ingatanku. Kau adalah mentari yang ada sampai dunia mati. Nyawamu layaknya oksigen yang membuatku bertahan sampai detik ini. Tanpamu, bukan hanya duniaku yang hancur, namun jasadku ada, namun terasa tiada. Lenyap dalam kehakikian indah.
Jangan pernah merasa aku akan meninggalkanmu, juga jangan berpikir aku akan protes dengan pekerjaanmu. Karena aku tak melihat luarnya dirimu, melainkan dalamnya hatimu yang tak pernah ditutupi kedustaan. Kau jujur, ya! Benar-benar jujur mencintaiku. Perasaanmu terendap hingga mengeras, sukar untuk dipecahkan, meskipun perkataanmu terkadang membosankan juga menyebalkan. Aku memahami karaktermu, jadi pahamilah pula karakterku. Jika aku marah dan jika kau pun marah, itu hanya karena kita LELAH! Dan pahami aku, jika aku protes kau tak memperdulikanku, itu artinya aku sedang lelah dengan masalah yang aku hadapi. Pada akhirnya, aku menyalahkan sesuatu yang tidak pantas untuk disalahkan. Jangan jadikan daya pemikiran yang berbeda dan hartaku yang rendah sebagai pembatas hubungan kita melangkah ke pelaminan. Percayalah, kelak Allah akan memberikan jalan, jika waktu itu telah tiba. Sebagaimana Ia yang memberiku jalan saat aku ditampar susah, melewati jalurmu yang tak sanggup aku prediksi sebelumnya.
Selamat siang, Sayang! Jaga dirimu baik-baik di sana! I love you.
Memo, 03 April 2016. Kamar reot Magelang.
Komentar
Posting Komentar