![]() |
| Jangan Pernah Menyesal! |
Ini
untuk yang terakhir! Aku tak akan pernah menjadi diriku lagi jika di hadapanmu!
Dan aku tak akan pula membicarakan hal-hal yang besar. Satu hal yang ingin aku sampaikan
kepadamu! Jangan pernah berharap
impianmu akan terwujud jika kau tak mau mengorbankan sesuatu untuk meraihnya.
Kau takut! Selalu takut dan bingung! Padahal BERKALI-KALI aku bilang, jika
besar impian yang akan kita raih jalan yang perlu ditempuh tidak akan pernah
mudah. Menurutku itu sudah menjadi hukum alam! Kau mungkin selalu berpikir aku
memperjuangkan impianku pada jalan yang aku kehendaki. TIDAK! Semua yang aku
lakukan terkadang bertolak belakang dengan keinginanku. Tapi dari situlah jalan
yang indah terbuka. Siapa yang menyangka? TAK ADA! Bahkan aku merasa aku sedang
bermimpi di tempat tidur!
Asalkan
kamu tahu, Nita! Aku tidak pernah mengharapkan kamu menjadi seperti diriku! Aku
hanya mengusahakan agar kamu menemukan jalan dengan caraku! Dengan lingkungan
yang aku miliki. Aku selalu yakin jalan ALLAH ada di mana saja dan di tempat
apa saja. Hanya saja kita dituntut untuk menemukannya! Kau takut ambil resiko!
Kau tak pernah mau berjuang apalagi berkorban. Hanya otakmu saja yang sibuk
memikirkan peluang, bagaimana, apa yang harus dilakukan, tapi kau tak pernah
mendapatkan jawaban. Giliran ada kawan yang hendak membantumu, justru kau
berpikiran bodoh! ‘Takut menjadi sepertiku karena mengikuti alurku!’ PAYAH!
Amat payah. Pikiranmu itu kacau! Tidak berguna nilai orang-orang tinggi, jika
karakternya selalu menjadi seperti dirimu. Aku pikir kau berbeda dari orang
lain! Ya, memang berbeda namun rasa takutmu itu membuatku muak! Kau tahu? Aku
tak pernah menyesal dengan keputusanmu, aku juga tidak marah dengan sikapmu,
namun tetap ada hal yang aku sesali.
KENAPA AKU HARUS BERKATA UNTUK MEYAKINKANMU? Jika dari awal aku cuek dan menganggapmu
sama dengan orang lain, mungkin sampai sekarang aku tak akan pernah dipersibuk
dengan memikirkanmu!
Seharusnya
aku sudah sanggup mengambil pelajaran dari caramu menarik gas motor. Ragu-ragu!
Di mataku itu adalah jaminan sikap yang akan kau bawa ke depannya. Karena waktu
itu aku berkata tentang impian, bukan sekadar menyuruh latihan! Aku mengetes
nyalimu untuk maju ke depan! Tapi kau berhenti, tak sanggup melampuinya! INILAH
aku, terlalu yakin dan percaya kepadamu bahwa kau mampu!
Kau
tahu? Aku selalu memikirkanmu! Mengusahakan agar pikiranmu terbuka dengan
kalimat-kalimatku! Dengan kemampuanku yang terbatas. Baik, aku akui kau
mendengarkan, namun kau jarang mau mencernanya dalam-dalam. Kau tak pernah
paham!
Mungkin
ini hanya sekadar emosiku! Sampai kapan pun aku tak akan pernah lagi
mempercayai ucapan lisanmu! Apa pun alasannya. Kau bilang akan datang bimbel?
Alasanmu itu tak bisa aku terima begitu saja, meskipun itu hal yang benar dan
rasional. Kau tahu mengapa? Karena kau tak pernah merencanakan sesuatu pada
hari sebelumnya.
Harus
aku taruh mana wajahku? “Mbak, mana temanmu? Katanya temanmu mau bimbel kita?”
Ingin sekali aku menjawabnya. “Sudahlah, Pak tak usah dibahas!” Namun aku masih sanggup meredam emosiku dengan tersenyum manis. CUKUP SAMPAI DI SINI! Aku cabut kata-kataku untuk menawarimu masuk ke lembaga pendidikan. Resikonya besar. Kesulitan yang berat akan menghadang. Dan aku tak mau mengambil resiko dengan orang yang TIDAK BERANI mengambil resiko. Itu hanya akan mencelakakanku.
Ingin sekali aku menjawabnya. “Sudahlah, Pak tak usah dibahas!” Namun aku masih sanggup meredam emosiku dengan tersenyum manis. CUKUP SAMPAI DI SINI! Aku cabut kata-kataku untuk menawarimu masuk ke lembaga pendidikan. Resikonya besar. Kesulitan yang berat akan menghadang. Dan aku tak mau mengambil resiko dengan orang yang TIDAK BERANI mengambil resiko. Itu hanya akan mencelakakanku.
Kau
masih punya kesempatan. Carilah teman yang menurutmu sanggup membantu. Ingat
Nita, dalam pelajaran PKN kita ini termasuk makhluk sosial, tak akan sanggup
apa-apa tanpa bantuan orang lain! Dan
hukum itu telah tertulis secara NYATA dalam meraih cita-cita. Kau bahkan tak
akan menyangka jika orang yang dulu menjadi penolongku adalah IBUNYA mantan
para anak-anak PELACUR! Kau pikir aku menyukai dunia yang aku tinggali? TIDAK!
Aku berontak!
Analoginya,
impianmu itu ada di puncak pegunungan, kau kata akan meraihnya, sayang, kau
tersesat, justru turun dari gunung, lalu berhenti di tengah-tengah kota. PASIF
kebingungan. Tak tahu arah dan tujuan. Ada orang yang hendak menunjukkan jalan
pintas namun rintangannya tak mudah. Dan kau menolaknya mentah-mentah. Orang
itu pun jelas akan mengabaikanmu. Ia tidak membencimu, karena sejak hari itu ia
berpikir kau bukan lagi orang yang membutuhkannya, juga bukan lagi orang yang
perlu petunjuk arah. Jadi, buat apa membencimu, ia pikir itu hanya akan
membuatnya menderita!
Terakhir,
jangan datang padaku untuk meminta maaf. Karena aku akan menganggap tak pernah
terjadi hal serius di antara kita. Juga, jangan pernah lagi berkata tentang
impianmu, atau kebingunganmu padaku! Aku menutup diri! Aku ingin fokus pada
sesuatu yang hendak aku capai. Lupakan kata-kata yang pernah aku ucapkan!
Dengan
tulisan ini, jangan pernah berpikir aku tak berani menegurmu dengan lisanku.
Hanya saja mungkin cara ini yang paling tepat, sebab aku tahu kesibukan waktumu
nyaris seperti pegawai PNS yang lembur.
TTD
Titin
Widyawati.

Komentar
Posting Komentar