Langsung ke konten utama

ENOUGH HERE! (MAR'A QONITA)




https://myownworldishere.files.wordpress.com/2012/02/muslimah_v02_by_yip872.jpg
Jangan Pernah Menyesal!
Ini untuk yang terakhir! Aku tak akan pernah menjadi diriku lagi jika di hadapanmu! Dan aku tak akan pula membicarakan hal-hal yang besar. Satu hal yang ingin aku sampaikan kepadamu! Jangan pernah berharap impianmu akan terwujud jika kau tak mau mengorbankan sesuatu untuk meraihnya. Kau takut! Selalu takut dan bingung! Padahal BERKALI-KALI aku bilang, jika besar impian yang akan kita raih jalan yang perlu ditempuh tidak akan pernah mudah. Menurutku itu sudah menjadi hukum alam! Kau mungkin selalu berpikir aku memperjuangkan impianku pada jalan yang aku kehendaki. TIDAK! Semua yang aku lakukan terkadang bertolak belakang dengan keinginanku. Tapi dari situlah jalan yang indah terbuka. Siapa yang menyangka? TAK ADA! Bahkan aku merasa aku sedang bermimpi di tempat tidur!
Asalkan kamu tahu, Nita! Aku tidak pernah mengharapkan kamu menjadi seperti diriku! Aku hanya mengusahakan agar kamu menemukan jalan dengan caraku! Dengan lingkungan yang aku miliki. Aku selalu yakin jalan ALLAH ada di mana saja dan di tempat apa saja. Hanya saja kita dituntut untuk menemukannya! Kau takut ambil resiko! Kau tak pernah mau berjuang apalagi berkorban. Hanya otakmu saja yang sibuk memikirkan peluang, bagaimana, apa yang harus dilakukan, tapi kau tak pernah mendapatkan jawaban. Giliran ada kawan yang hendak membantumu, justru kau berpikiran bodoh! ‘Takut menjadi sepertiku karena mengikuti alurku!’ PAYAH! Amat payah. Pikiranmu itu kacau! Tidak berguna nilai orang-orang tinggi, jika karakternya selalu menjadi seperti dirimu. Aku pikir kau berbeda dari orang lain! Ya, memang berbeda namun rasa takutmu itu membuatku muak! Kau tahu? Aku tak pernah menyesal dengan keputusanmu, aku juga tidak marah dengan sikapmu, namun tetap  ada hal yang aku sesali. KENAPA AKU HARUS BERKATA UNTUK MEYAKINKANMU? Jika dari awal aku cuek dan menganggapmu sama dengan orang lain, mungkin sampai sekarang aku tak akan pernah dipersibuk dengan memikirkanmu!
Seharusnya aku sudah sanggup mengambil pelajaran dari caramu menarik gas motor. Ragu-ragu! Di mataku itu adalah jaminan sikap yang akan kau bawa ke depannya. Karena waktu itu aku berkata tentang impian, bukan sekadar menyuruh latihan! Aku mengetes nyalimu untuk maju ke depan! Tapi kau berhenti, tak sanggup melampuinya! INILAH aku, terlalu yakin dan percaya kepadamu bahwa kau mampu!
Kau tahu? Aku selalu memikirkanmu! Mengusahakan agar pikiranmu terbuka dengan kalimat-kalimatku! Dengan kemampuanku yang terbatas. Baik, aku akui kau mendengarkan, namun kau jarang mau mencernanya dalam-dalam. Kau tak pernah paham!
Mungkin ini hanya sekadar emosiku! Sampai kapan pun aku tak akan pernah lagi mempercayai ucapan lisanmu! Apa pun alasannya. Kau bilang akan datang bimbel? Alasanmu itu tak bisa aku terima begitu saja, meskipun itu hal yang benar dan rasional. Kau tahu mengapa? Karena kau tak pernah merencanakan sesuatu pada hari sebelumnya.
Harus aku taruh mana wajahku? “Mbak, mana temanmu? Katanya temanmu mau bimbel kita?”
Ingin sekali aku menjawabnya. “Sudahlah, Pak tak usah dibahas!” Namun aku masih sanggup meredam emosiku dengan tersenyum manis. CUKUP SAMPAI DI SINI! Aku cabut kata-kataku untuk menawarimu masuk ke lembaga pendidikan. Resikonya besar. Kesulitan yang berat akan menghadang
. Dan aku tak mau mengambil resiko dengan orang yang TIDAK BERANI mengambil resiko. Itu hanya akan mencelakakanku.
Kau masih punya kesempatan. Carilah teman yang menurutmu sanggup membantu. Ingat Nita, dalam pelajaran PKN kita ini termasuk makhluk sosial, tak akan sanggup apa-apa tanpa bantuan orang lain!  Dan hukum itu telah tertulis secara NYATA dalam meraih cita-cita. Kau bahkan tak akan menyangka jika orang yang dulu menjadi penolongku adalah IBUNYA mantan para anak-anak PELACUR! Kau pikir aku menyukai dunia yang aku tinggali? TIDAK! Aku berontak!

Analoginya, impianmu itu ada di puncak pegunungan, kau kata akan meraihnya, sayang, kau tersesat, justru turun dari gunung, lalu berhenti di tengah-tengah kota. PASIF kebingungan. Tak tahu arah dan tujuan. Ada orang yang hendak menunjukkan jalan pintas namun rintangannya tak mudah. Dan kau menolaknya mentah-mentah. Orang itu pun jelas akan mengabaikanmu. Ia tidak membencimu, karena sejak hari itu ia berpikir kau bukan lagi orang yang membutuhkannya, juga bukan lagi orang yang perlu petunjuk arah. Jadi, buat apa membencimu, ia pikir itu hanya akan membuatnya menderita!
Terakhir, jangan datang padaku untuk meminta maaf. Karena aku akan menganggap tak pernah terjadi hal serius di antara kita. Juga, jangan pernah lagi berkata tentang impianmu, atau kebingunganmu padaku! Aku menutup diri! Aku ingin fokus pada sesuatu yang hendak aku capai. Lupakan kata-kata yang pernah aku ucapkan!
Dengan tulisan ini, jangan pernah berpikir aku tak berani menegurmu dengan lisanku. Hanya saja mungkin cara ini yang paling tepat, sebab aku tahu kesibukan waktumu nyaris seperti pegawai PNS yang lembur.
                                                                             TTD

                                                                 Titin Widyawati.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kado Spesial

Pisbon.blogspot.com      Kasih Ibu kepada Beta, tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, bagaikan surya menyinari dunia. Kasih ibu sepanjang jaman. Kasih anak sepanjang penggalan. Mentari menyeruak dalam balutan kabut. Di ufuk Timur itu, bolamnya dunia menerangi awan yang kalang kabut. Cicit burung yang bersenda gurau di tiang-tiang listrik mengendar di daun telinga. Nuansa gedung penembus langit kembali  memantulkan cahaya mentari yang tak terlalu terik karena terhalau laju kabut. Sesekali nampak, sesekali tak memeta jejak. Namun walaupun begitu, tetap saja pagi menjadi awal mula bagi kehidupan.             Di sudut kota, tepat di balik gedung-gedung yang menerobos langit ke tujuh. Pemuda berambut gondrong dan awut-awutan itu, memerosotkan tubuhnya di dinding tembok. Sudah tiga minggu dia tidak pulang ke penaungan ibunda. Lantaran kantong sakunya belum tertimbun logam untuk...

WHERE ARE YOU, DAD?

Kau di mana? Aku selalu menunggu kau pulang ke rumah k ita . Aku menyibak tirai jendela. Melamun memandang ke jalan sempit di lantai bawah. Kala itu tak ada airmata yang jatuh menitik. Aku tidak paham maknanya pedih. Aku hanya ingin kau hadir. Namun kau tak ada, kau kayu rapuh yang dimakan rayap. Kau buah segar yang digigiti ulat. Terus berkeliaran kampung tanpa mengingatku.  Kini aku beranjak dewasa. Kenangan termanisku denganmu, saat kau menggendongku, membelikanku es lilin. Mengajakku menangkap capung. Menyabit rumput di hutan. Mencari ubi di ladang. Dan tak akan pernah terlupakan saat jemarimu membelai ubunku seraya mengulurkan bunga hutan yang sering dijuluki "KEMBANG GENI" oleh penduduk. Kau menyelipkannya di telinga. Lantas tubuh ini riang berlari keluar rumah melanjutkan mainanku membangun gedung tinggi dengan menumpuk tanah.  Ayah! aku memanggilmu dalam sunyi. Aku ingin kau memelukku seperti dulu lantas kau berkata bahwa aku cantik jelita. Ayah! Tanpamu aku ...

Senyum ini!

Senyum ini... Senyum yang mekar kaya dengan impian-impian. Pikiranku menerbangkan sejuta kisah yang tak akan pernah terlupakan. Kukikis waktu yang mungkin teranggap habis. Meski jarak kelak akan memisahkan, namun aku tak pernah sekali pun membayangkan kau di dekat lembaran j.a.u.h. Bagiku kau di sini, di sisi, mengukir cita yang nyaris remuk ditelan asa. Dan mengingatmu, adalah salah satu motivasi dalam hidupku. Kawan! Aku tak akan pernah mengecewakanmu. Aku menuliskan namamu dalam dinding hatiku. Zaman dan cintaku tak akan mampu menggerogoti untuk membuatnya punah. Tanpamu aku maju, sayang langkahku layu. Memoar.16 Agustus 2016.