![]() |
| Tersenyumlah seperti itu selamanya! |
Hapus airmatamu, adikku Sayang! Jangan pernah kau suburkan pedih yang mengakar dalam sanubarimu. Cabutlah ia sekuat tenagamu, jika memang di kemudian hari akan tumbuh kembali, jangan biarkan ia berkembang biak bebas. Buatlah ia menderita, jangan pernah membuatnya bangga dengan perasaanmu yang hancur. Segala aura negatif akan mencintaimu jika kau terus memanjakannya dengan sikapmu yang mengeluh.
Sayang, kemarilah, mendekatlah di bahuku, bayangkan jika kau berada dalam posisi ribuan anak jalanan Indonesia yang bermata sayu. Langkah layu tertatih-tatih di emperan kota. Mengaduh kesakitan jika perut belum diisi oleh makanan. Pernahkah kau melihat anak ecil mengosek-ngosek sampah? Atau mereka yang menjual koran dan majalah di lampu merah. Kulit hitam, keringat bercucuran. Di mana Ibu dan Ayah? Sempatkah memikirkan ego mereka untuk bermain-main? Bahkan teman pun belum tentu semenyenangkan yang kau milliki. Bukankah di sekelilingmu kau banyak mengenal orang-orang yang berpakaian rapi, tersenyum menawan? Lihatlah canda mereka. Menarik bukan? Kau bahkan sanggup duduk di instansi pendidikan karena jerih payah orangtuamu. Mereka? Mereka yang di jalanan atau di pedalaman-pedalaman kampung yang belum diperhatikan pemerintah bahkan sulit menerima pengetahuan, Sayang. Mereka miskin, kesulitan mencari pangan, kusilitan mencari perhatian, kebingungan mencari kasih sayang, sebab orangtua sibuk bekerja keras seharian. Yang dihasilkan belum tentu tersisa untuk esok nanti.
Selanjutnya kau renungi pelajar-pelajar yang terjerumus dalam dunia pergaulan yang bebas. Narkoba menjadi santapan, miras dijadikan minuman wajib, sek sudah tak mengenal kata nikah. Bukankah dirimu lebih baik dari mereka? Bersyukurlah Allah menempatkanmu dalam lingkungan yang baik. Jangan menyerah apalagi bersedih dengan keadaan yang tidak menyenangkan. Setidaknya Dzat yang menciptakan langit dan bumi menganugerahi dirimu pikiran normal, hati yang suci, kesempatan untuk meraih ilmu. Sanggupkah kau membayangkan ribuan pasien yang terkurung di rumah sakit jiwa? Bahkan mereka tidak paham dengan nikmatnya rasa pedas, manisnya kue, asamnya belimbing. Susahnya sedih, senangnya bahagia. Andaikan mereka diberi kesempatan untuk sadar, mungkin mereka akan bersyukur karena masih sanggup merasakan rasa sedih. Jangan kau pupuk kata putus asa dalam kamus hidupmu, jangan kau ukir penyesalan di masa depan mulai dari sekarang. Hidup ada di tanganmu, hanya kau yang mampu menentukan ke mana kakimu hendak melangkah. Bukan aku, bukan juga Allah yang maha Esa. Aku pernah mendengar nasihat dari seorang guru. Bahwa Allah tidak akan mengubah suatu kaum, jika ia tak mau berusaha mengubahnya sendiri. Allah ada di hati kita. Berpikirlah yang baik, maka kebaikan akan mendekap diri kita.
Masalah tak akan menjadi beban yang berat jika kau mampu menyikapinya dengan sudut pandang yang berbeda. Percayalah. Bukankah jika kau tersenyum manis, itu amat menyenangkan? Bercerminlah, lihat sosokmu yang malang jika kau hapus tawa dan senyummu secara mendadak. Secara tidak langsung kau membiarkan setan menguasai dirimu. Kau mendudukkan mereka di kursi kerajaan kesedihanmu. Jangan salahkan takdir jika kau terluka, sebab kau kalah di medan perang. Bangkitlah sebelum kau terlambat!
Jangan membuatku sedih, Sayang. Aku tidak ingin anak bangsa Indonesia berputus asa di usia muda.
Jangan membuatku sedih, Sayang. Aku tidak ingin anak bangsa Indonesia berputus asa di usia muda.
Memoar. 06 Oktober 2016.

Makasi kakak... Gak akan ngeluh lg kak. Makasi sama semua motivasi kakak. Setidaknya asta masi punya orang2 terkasih d sekeliling asta sperti kakak. ����
BalasHapus