Langsung ke konten utama

Cahaya Kebenaran 2



Dari gadis yang sering mengenal kata putus asa, namun ia tak pernah berputus asa.

Gambar terkait
Aku selalu mengenangmu dalam hujan.

Aish... Kenapa aku harus mengingatmu di sini? Kau tahu? Aku akan mengecewakan banyak orang! Karenamu, aku menelan liur yang pernah aku muntahkan. Tak ada yang lebih pahit, saat aku melihat emosimu di ujung tanduk. Lantas sukmamu kalut, hendak menelan wajahku dalam barzah. Kuterangkan langkah gelapmu. Sekali lagi kukatakan padamu, aku tak pernah sanggup bermain-main dengan ucapan yang pernah aku luncurkan di hadapan batinmu. 


                Ada ribuan tetes air hujan yang menjadi saksiku menatap parasmu. Kau menggigil, aku kedinginan. Kita tak berpelukan, aku tahu ada jarak yang menghalangi untuk melakukan hal tersebut. Namun kau tak menunduk saat airmataku bercucuran, meski kau tak menyadari sebab cairan itu dileburkan oleh titik-titik hujan yang mengalir bebas di pipiku. Kau ucap perpisahan, setelah membekaliku dengan impian yang kurasakan paling manis. Dan aku yakin, bahwa pergimu juga untukku. Getir kurasakan perasaan yang menusuk ulu hatiku. Aku tak memahami mengapa hal itu sanggup terjadi padaku. Yang jelas saat punggungmu berbalik hendak meninggalkanku. Aku ingin berteriak. “Jangan tinggalkan aku sendirian!” Sayang, waktu tak memberiku kesempatan. Kau lenyap ditimbun milyaran hujan yang berguguran dari langit. Gelap. 

                Tak pernah aku lupakan segenggam flasdish yang kau berikan untukku. Ia adalah tisu yang menghapus airmataku dulu. Lantas kukenang senyummu yang langka dalam memori giganya. Ketahuilah, sampai kini aku masih menggenggamnya erat. Maka, ia adalah barang yang paling berharga di hidupku. Intan tak menarik lagi dalam pandanganku, sebab aku tak mempunyainya. Wajah rupawan pria lain pun tak membuat jiwaku gentar. Hanya kaulah yag berarti bagi embusan napasku. 


                Kapan lagi kau akan mengajakku berjalan di pesisir pantai. Semula kita memang tak bergandengan tangan, sungguh apa yang kau perbuat jauh dari kesan romantis. Namun tubuhmu yang senantiasa di belakangku, mempunyai makna yang lebih dari kata romantis, karena matamu tak berkedip memerhatikan setiap jengkal langkahku. Bukankah kau takut aku terjatuh? Wajahmu memang datar, tuturmu menandingi suhu di kutub utara. Senyummu seakan punah. Ketahuilah, semua itu justru membuatku semakin yakin bahwa kau adalah manusia yang paling lembut. Sosok yang baru saja kukenal. 


Kau marah jalanku lamban, namun kau meminjamkan sandalmu untukku, sementara sepatuku kau masukkan ke dalam ransel. Kau siap terluka karenaku, menginjak karang yang runcing, melintasi jalanan becek yang licin sebelum masuk ke dalam pantai. Kau ingat bukan? Saat jalan setapak menjadi kenangan, sementara malam yang hinggap memotret kita dari langit. Tak ada pencahayaan, kau berusaha keras melindungiku agar aku tak terjerembab. “Pegang tanganku erat-erat! Cepetan jalannya, keadaan akan semakin mengerikan jika langit sudah gelap.” Katamu. Kau menghardikku. “Nanti kamu tidak bisa jalan! Nanti kamu jatuh! Jangan lamban seperti keong!” Akhirnya aku menggandeng tanganmu.
            

    Untuk yang ke beberapa kalinya kau menggigil di bawah guyuran hujan. Aku merasakan getaran tubuhmu saat menyetir sepeda motor. Lalu kau berhenti sejenak. Melepas sweatermu memakaikannya untukku. Berkali-kali aku menolak dengan tindakan konyol tersebut. Namun kau tak mendengarkanku. Acuh tak acuh langsung melanjutkan perjalanan. Apakah kau pernah berpikir bahwa aku sakit melihatmu kedinginan seperti itu? 


                “Pakai saja, udaranya sangat dingin!’ 


                Suatu ketika aku tertawa di hadapanmu. Hujan masih berirama di luar rumah adikmu. Aku melamunkan masa depan, kau membuyarkannya. Mengagetkanku dengan suara tidak bagusmu. “Lihatlah, sekarang aku pantas jika tak mempunyai uang!” Kataku seraya membuka dompetku yang kosong. Hanya KTP, dan kartu tanda pernah masuk rumah sakit yang menjadi penghuningya. ATM pun malas singgah di dalamnya. “Jadi..” aku menatap wajahmu. “Jika suatu saat nanti aku masih tidak punya uang saat kau sudah menjadi suamiku! Itu artinya sangat mengenaskan dan menyedihkan!” Kau merebut dompetku dengan paksa. Aku hendak mengambilnya kembali, namun tanganmu menghalangi. Mendadak kau keluarkan dompetmu, mengambil kertas yang bernilai rupiah, menyelipkannya di dompetku, lantas memberikannya padaku. “Simpan saja!”
                Aish.. aku hanya bercanda! Aku tidak bermaksud untuk itu!”
                “Simpan saja!”
                “Tapi...”
                “Sudah! Aku bilang simpan!”
                “Aku tahu kau sedang tidak punya uang! Jadi, jangan membuat diriku merasa bersalah karena kau memberikan uangmu kepadaku!” Hardikku.
                “Sttttttt. Diam! Aku bisa mencarinya besok!”
                Aku hanya dapat menghela napas. 

                Pernahkah kau bayangkan bahwa aku sangat senang dapat bertemu dengan ke dua orangtuamu? Meski waktu itu suasananya menjadi sedikit cangung, karena bibirku hanya diam. Tetap saja, sepulang dari rumahmu aku melayang ke negeri khayal. Kupikir aku telah mati langsung masuk surga dibuatmu. Aku gila, sepanjang perjalanan aku tersenyum sendiri. Ada sayap indah yang tiba-tiba tumbuh di bawah ketiakku. Lalu beberapa bulan kemudian kau kukenalkan dengan wanita yang melahirkanku ke dunia ini. Kau tertunduk malu, aku tersenyum meledekmu. Senja itu, saat azan maghrib berlalu, aku merangkum kenangan terindah yang tak akan kubiarkan terhapus oleh kepedihan. 


                Berangsur kenangan terngiang. Lapangan baru menjadi saksi kelabu. Kau berdiri di belakang tubuhku. Aku jongkok memeluk lutut. Sinar mentari tenggelam. Senyum kita padam. Kabut tak hinggap, namun suasana memucat. Airmataku menitik. Kau menelan getir. Menyesal mengapa kata yang seharusnya tak terucap terlempar. Sebab, waktu membuatmu bingung, antara menahan membuatmu menderita, atau melontarkan namun batinku tersiksa? Pasrah, kau menuliskah kisah dalam lembaran yang kupikir abadi indah. 


                “Aku sudah menceritakan semuanya tentangmu kepada Ayah dan Ibuku! Mereka berdua sempat bingung karena kau tidak memiliki rumah, Ayah bilang padaku. ‘Lantas kamu mau tinggal di mana suatu saat nanti?’ Katanya.” 


                Aku tak menyangka jika perkataan itu akan muntah dengan sempurna. Aku masih sangat ingat, wajahmu yang kusut, auramu yang tampak kelelahan, lari dari kampungmu tanpa makan siang menuju tempat pertemuan yang kutentukan. Satu jam kemudian kau akan melesat ke Jakarta, perih yang kau toreh sebagai nostalgia itu tak akan pernah aku lupakan dari alam pikiran. 


                Aku menangis sesenggukan. Jiwaku remuk, amat kacau berantakan. Sesak napasku. Jantungku mulai berdetak cepat tak beraturan. Napasku tersendat-sendat. Aku remas dadaku menahan luka. Sembilu terus menghujamku. Cinta tak pantas bahagia bagi orang-orang yang miskin harta! Mungkinkah aku sedang berasumsi? Senyumku dicuri oleh intan yang mustahil kurengkuh di masa depan.
              

  “Tapi, percayalah aku sangat menyayangimu! Jangan menangis! Aku akan selalu memperjuangkanmu!” Aku meragukan kata-katamu. Kenyataan bahwa aku miskin membuatku buta dengan perasaanmu yang menjadi-jadi. Aku limbung, namun bertahan dengan kasihnya yang tak terbatas. Aku telah menempatkan cintaku padamu pada denyut nadiku, kusuntikkan ia agar mengalir setiap detik dalam darah hidupku. Setia telah menjadi keputusanku sejak awal kau mengucapkan kata rindu. Maka, aku akan melirik pria lain, itu normal, namun tak akan pernah menyimpan rasa pada mereka. Begitulah aku menggariskan takdir rasaku yang mungkin membuat Tuhan cemburu. 


Apalah dayaku? Aku tak sanggup mengelak perasaanku, bahwa hanya dirimulah yang ingin aku temui, juga dirimulah yang hanya ada dalam hati ini, tak pernah ada orang lain, jika ada yang singgah, maka itu wajah Ibu, dan ke dua adikku, sisisanya hanya berkas keraguan yang sekejab akan lenyap, kuarsipkan menjadi kenangan yang tak pantas untuk dikenang. Mungkin seratus tahun yang akan datang baru akan aku buka, itu pun jika di dalam barzah aku mengenangnya!                


                “Jika pun, Ayah dan Ibumu ragu padaku karena aku miskin! Aku tidak peduli! Jika pun kau tak lagi mencintaiku karena aku miskin, aku pun juga tidak akan peduli! Hanya saja, satu hal,” aku memandang wajahmu waktu itu. Dua mata yang sedikit kau redupkan itu merona susah. “Aku akan selalu mencintaimu dan menyayangimu! Aku sudah tak bisa lagi memberikan perasaanku kepada orang lain, hanya dirimu yang aku inginkan!” Airmataku terus bercucuran. 


                Kau selalu saja menyebutku jelek. Padahal aku ingin menjadi wanita tercantik dalam hidupmu. Mampukah? Wajahku kurang bersih. Beberapa jerawat tumbuh menggoda debu di pipi kusamku. Gigi berantakan sebab pernah mencium aspal. Kulit yang kering jarang lembab bersinar. Rambut yang sering rontok. Pakaianku yang jauh dari kesan rapi di matamu, membuat nyaliku bertambah ciut. Aku takut kehilanganmu! Namun aku tak mempunyai alasan untuk membuatmu bertahan di sisiku. Sebab kenyataan begitulah aku adanya. Terlengkapi dengan fiskku yang sakit-sakitan. Kau mungkin akan mempertimbangkan kehiduan masa depanmu jika yang menemani langkahmu adalah aku. “Apa pun yang terjadi aku tetap akan berusaha untuk menjadi yang terbaik di matamu!” Keputusan yang telah aku bulatkan. 


                Senja itu, jemarimu mencubit pipiku kasar. Aku menggerutu muram. Namun, saat aku mengenangmu kini, justru aku merasa senang.  Kita duduk di beranda masjid. Embun melambai-lambai tenang. Kendaraan lengang. Senja mekar di ufuk Barat. Kabut mengendap-endap sedikit. Hendak menghalangi seluruh wajah langit, namun ia tak mampu menjangkau keseluruhannya. Jadi, tetaplah keindahan yang akan memanjakan sudut-sudut matamu. Gerimis menemani. 


                “Kau pakai bedak?” Protesmu.
                “Tidak, aku tidak memakai bedak. Lihatlah wajahku! Apakah di tasku juga ada bedak?”
                “Barangkali tadi sebelum berangkat ke Magelang kamu memakai bedak!”
                Hei! TIDAK! Aku tidak punya bedak! Aku ingin belajar menjadi diriku, tampil apa adanya! Aku tidak ingin menutup-nutupi wajah burukku!”

                Sebab aku ingin menampakkan diriku yang sebenarnya di hadapanmu. Jika kelak kau memujiku cantik. Begitulah aku seterusnya.
                Ah, gadis jelek! Jerawatan!” Itulah kata pemungkas dalam kenanganku. Apa pun yang terjadi, kau adalah sosok yang kurindu dan akan selalu kucinta. Nurul Yaqin (Cahaya Kebenaran).
                Maka, aku acuh dengan orang-orang yang membaca tulisanku. Mereka akan berpikir aku sudah gila dimabuk cinta. Bagaimana mungkin, aku sanggup menulis kata rindu dan cinta? Sudahlah abaikan saja, yang jelas waktu ini aku hanya ingin mengingatmu dalam cerita.
                20 November 2016.
Tentang Penulis. Titin Widyawati lahir di Magelang 16 Juli 1995. Kegemarannya adalah melamun dan tidur.






                                                                                                                                                                           

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kado Spesial

Pisbon.blogspot.com      Kasih Ibu kepada Beta, tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, bagaikan surya menyinari dunia. Kasih ibu sepanjang jaman. Kasih anak sepanjang penggalan. Mentari menyeruak dalam balutan kabut. Di ufuk Timur itu, bolamnya dunia menerangi awan yang kalang kabut. Cicit burung yang bersenda gurau di tiang-tiang listrik mengendar di daun telinga. Nuansa gedung penembus langit kembali  memantulkan cahaya mentari yang tak terlalu terik karena terhalau laju kabut. Sesekali nampak, sesekali tak memeta jejak. Namun walaupun begitu, tetap saja pagi menjadi awal mula bagi kehidupan.             Di sudut kota, tepat di balik gedung-gedung yang menerobos langit ke tujuh. Pemuda berambut gondrong dan awut-awutan itu, memerosotkan tubuhnya di dinding tembok. Sudah tiga minggu dia tidak pulang ke penaungan ibunda. Lantaran kantong sakunya belum tertimbun logam untuk...

WHERE ARE YOU, DAD?

Kau di mana? Aku selalu menunggu kau pulang ke rumah k ita . Aku menyibak tirai jendela. Melamun memandang ke jalan sempit di lantai bawah. Kala itu tak ada airmata yang jatuh menitik. Aku tidak paham maknanya pedih. Aku hanya ingin kau hadir. Namun kau tak ada, kau kayu rapuh yang dimakan rayap. Kau buah segar yang digigiti ulat. Terus berkeliaran kampung tanpa mengingatku.  Kini aku beranjak dewasa. Kenangan termanisku denganmu, saat kau menggendongku, membelikanku es lilin. Mengajakku menangkap capung. Menyabit rumput di hutan. Mencari ubi di ladang. Dan tak akan pernah terlupakan saat jemarimu membelai ubunku seraya mengulurkan bunga hutan yang sering dijuluki "KEMBANG GENI" oleh penduduk. Kau menyelipkannya di telinga. Lantas tubuh ini riang berlari keluar rumah melanjutkan mainanku membangun gedung tinggi dengan menumpuk tanah.  Ayah! aku memanggilmu dalam sunyi. Aku ingin kau memelukku seperti dulu lantas kau berkata bahwa aku cantik jelita. Ayah! Tanpamu aku ...

Senyum ini!

Senyum ini... Senyum yang mekar kaya dengan impian-impian. Pikiranku menerbangkan sejuta kisah yang tak akan pernah terlupakan. Kukikis waktu yang mungkin teranggap habis. Meski jarak kelak akan memisahkan, namun aku tak pernah sekali pun membayangkan kau di dekat lembaran j.a.u.h. Bagiku kau di sini, di sisi, mengukir cita yang nyaris remuk ditelan asa. Dan mengingatmu, adalah salah satu motivasi dalam hidupku. Kawan! Aku tak akan pernah mengecewakanmu. Aku menuliskan namamu dalam dinding hatiku. Zaman dan cintaku tak akan mampu menggerogoti untuk membuatnya punah. Tanpamu aku maju, sayang langkahku layu. Memoar.16 Agustus 2016.