Dari gadis
yang sering mengenal kata putus asa, namun ia tak pernah berputus asa.
| Aku selalu mengenangmu dalam hujan. |
Aish... Kenapa aku harus mengingatmu di
sini? Kau tahu? Aku akan mengecewakan banyak orang! Karenamu, aku menelan liur
yang pernah aku muntahkan. Tak ada yang lebih pahit, saat aku melihat emosimu
di ujung tanduk. Lantas sukmamu kalut, hendak menelan wajahku dalam barzah.
Kuterangkan langkah gelapmu. Sekali lagi kukatakan padamu, aku tak pernah
sanggup bermain-main dengan ucapan yang pernah aku luncurkan di hadapan
batinmu.
Ada
ribuan tetes air hujan yang menjadi saksiku menatap parasmu. Kau menggigil, aku
kedinginan. Kita tak berpelukan, aku tahu ada jarak yang menghalangi untuk
melakukan hal tersebut. Namun kau tak menunduk saat airmataku bercucuran, meski
kau tak menyadari sebab cairan itu dileburkan oleh titik-titik hujan yang
mengalir bebas di pipiku. Kau ucap perpisahan, setelah membekaliku dengan
impian yang kurasakan paling manis. Dan aku yakin, bahwa pergimu juga untukku.
Getir kurasakan perasaan yang menusuk ulu hatiku. Aku tak memahami mengapa hal
itu sanggup terjadi padaku. Yang jelas saat punggungmu berbalik hendak
meninggalkanku. Aku ingin berteriak. “Jangan tinggalkan aku sendirian!” Sayang,
waktu tak memberiku kesempatan. Kau lenyap ditimbun milyaran hujan yang
berguguran dari langit. Gelap.
Tak
pernah aku lupakan segenggam flasdish yang kau berikan untukku. Ia adalah tisu
yang menghapus airmataku dulu. Lantas kukenang senyummu yang langka dalam
memori giganya. Ketahuilah, sampai kini aku masih menggenggamnya erat. Maka, ia
adalah barang yang paling berharga di hidupku. Intan tak menarik lagi dalam
pandanganku, sebab aku tak mempunyainya. Wajah rupawan pria lain pun tak
membuat jiwaku gentar. Hanya kaulah yag berarti bagi embusan napasku.
Kapan
lagi kau akan mengajakku berjalan di pesisir pantai. Semula kita memang tak
bergandengan tangan, sungguh apa yang kau perbuat jauh dari kesan romantis.
Namun tubuhmu yang senantiasa di belakangku, mempunyai makna yang lebih dari
kata romantis, karena matamu tak berkedip memerhatikan setiap jengkal
langkahku. Bukankah kau takut aku terjatuh? Wajahmu memang datar, tuturmu
menandingi suhu di kutub utara. Senyummu seakan punah. Ketahuilah, semua itu
justru membuatku semakin yakin bahwa kau adalah manusia yang paling lembut.
Sosok yang baru saja kukenal.
Kau marah
jalanku lamban, namun kau meminjamkan sandalmu untukku, sementara sepatuku kau
masukkan ke dalam ransel. Kau siap terluka karenaku, menginjak karang yang
runcing, melintasi jalanan becek yang licin sebelum masuk ke dalam pantai. Kau
ingat bukan? Saat jalan setapak menjadi kenangan, sementara malam yang hinggap
memotret kita dari langit. Tak ada pencahayaan, kau berusaha keras melindungiku
agar aku tak terjerembab. “Pegang tanganku erat-erat! Cepetan jalannya, keadaan
akan semakin mengerikan jika langit sudah gelap.” Katamu. Kau menghardikku.
“Nanti kamu tidak bisa jalan! Nanti kamu jatuh! Jangan lamban seperti keong!” Akhirnya
aku menggandeng tanganmu.
Untuk
yang ke beberapa kalinya kau menggigil di bawah guyuran hujan. Aku merasakan
getaran tubuhmu saat menyetir sepeda motor. Lalu kau berhenti sejenak. Melepas
sweatermu memakaikannya untukku. Berkali-kali aku menolak dengan tindakan
konyol tersebut. Namun kau tak mendengarkanku. Acuh tak acuh langsung
melanjutkan perjalanan. Apakah kau pernah berpikir bahwa aku sakit melihatmu
kedinginan seperti itu?
“Pakai
saja, udaranya sangat dingin!’
Suatu
ketika aku tertawa di hadapanmu. Hujan masih berirama di luar rumah adikmu. Aku
melamunkan masa depan, kau membuyarkannya. Mengagetkanku dengan suara tidak
bagusmu. “Lihatlah, sekarang aku pantas jika tak mempunyai uang!” Kataku seraya
membuka dompetku yang kosong. Hanya KTP, dan kartu tanda pernah masuk rumah
sakit yang menjadi penghuningya. ATM pun malas singgah di dalamnya. “Jadi..”
aku menatap wajahmu. “Jika suatu saat nanti aku masih tidak punya uang saat kau
sudah menjadi suamiku! Itu artinya sangat mengenaskan dan menyedihkan!” Kau
merebut dompetku dengan paksa. Aku hendak mengambilnya kembali, namun tanganmu
menghalangi. Mendadak kau keluarkan dompetmu, mengambil kertas yang bernilai
rupiah, menyelipkannya di dompetku, lantas memberikannya padaku. “Simpan saja!”
“Aish.. aku hanya bercanda! Aku tidak
bermaksud untuk itu!”
“Simpan
saja!”
“Tapi...”
“Sudah!
Aku bilang simpan!”
“Aku
tahu kau sedang tidak punya uang! Jadi, jangan membuat diriku merasa bersalah
karena kau memberikan uangmu kepadaku!” Hardikku.
“Sttttttt. Diam! Aku bisa mencarinya
besok!”
Aku
hanya dapat menghela napas.
Pernahkah
kau bayangkan bahwa aku sangat senang dapat bertemu dengan ke dua orangtuamu?
Meski waktu itu suasananya menjadi sedikit cangung, karena bibirku hanya diam.
Tetap saja, sepulang dari rumahmu aku melayang ke negeri khayal. Kupikir aku
telah mati langsung masuk surga dibuatmu. Aku gila, sepanjang perjalanan aku
tersenyum sendiri. Ada sayap indah yang tiba-tiba tumbuh di bawah ketiakku.
Lalu beberapa bulan kemudian kau kukenalkan dengan wanita yang melahirkanku ke
dunia ini. Kau tertunduk malu, aku tersenyum meledekmu. Senja itu, saat azan
maghrib berlalu, aku merangkum kenangan terindah yang tak akan kubiarkan terhapus
oleh kepedihan.
Berangsur
kenangan terngiang. Lapangan baru menjadi saksi kelabu. Kau berdiri di belakang
tubuhku. Aku jongkok memeluk lutut. Sinar mentari tenggelam. Senyum kita padam.
Kabut tak hinggap, namun suasana memucat. Airmataku menitik. Kau menelan getir.
Menyesal mengapa kata yang seharusnya tak terucap terlempar. Sebab, waktu
membuatmu bingung, antara menahan membuatmu menderita, atau melontarkan namun
batinku tersiksa? Pasrah, kau menuliskah kisah dalam lembaran yang kupikir
abadi indah.
“Aku
sudah menceritakan semuanya tentangmu kepada Ayah dan Ibuku! Mereka berdua
sempat bingung karena kau tidak memiliki rumah, Ayah bilang padaku. ‘Lantas kamu mau tinggal di mana suatu saat
nanti?’ Katanya.”
Aku
tak menyangka jika perkataan itu akan muntah dengan sempurna. Aku masih sangat
ingat, wajahmu yang kusut, auramu yang tampak kelelahan, lari dari kampungmu
tanpa makan siang menuju tempat pertemuan yang kutentukan. Satu jam kemudian
kau akan melesat ke Jakarta, perih yang kau toreh sebagai nostalgia itu tak
akan pernah aku lupakan dari alam pikiran.
Aku
menangis sesenggukan. Jiwaku remuk, amat kacau berantakan. Sesak napasku.
Jantungku mulai berdetak cepat tak beraturan. Napasku tersendat-sendat. Aku
remas dadaku menahan luka. Sembilu terus menghujamku. Cinta tak pantas bahagia
bagi orang-orang yang miskin harta! Mungkinkah aku sedang berasumsi? Senyumku
dicuri oleh intan yang mustahil kurengkuh di masa depan.
“Tapi,
percayalah aku sangat menyayangimu! Jangan menangis! Aku akan selalu memperjuangkanmu!”
Aku meragukan kata-katamu. Kenyataan bahwa aku miskin membuatku buta dengan
perasaanmu yang menjadi-jadi. Aku limbung, namun bertahan dengan kasihnya yang
tak terbatas. Aku telah menempatkan cintaku padamu pada denyut nadiku,
kusuntikkan ia agar mengalir setiap detik dalam darah hidupku. Setia telah
menjadi keputusanku sejak awal kau mengucapkan kata rindu. Maka, aku akan
melirik pria lain, itu normal, namun tak akan pernah menyimpan rasa pada
mereka. Begitulah aku menggariskan takdir rasaku yang mungkin membuat Tuhan
cemburu.
Apalah dayaku?
Aku tak sanggup mengelak perasaanku, bahwa hanya dirimulah yang ingin aku
temui, juga dirimulah yang hanya ada dalam hati ini, tak pernah ada orang lain,
jika ada yang singgah, maka itu wajah Ibu, dan ke dua adikku, sisisanya hanya
berkas keraguan yang sekejab akan lenyap, kuarsipkan menjadi kenangan yang tak
pantas untuk dikenang. Mungkin seratus tahun yang akan datang baru akan aku
buka, itu pun jika di dalam barzah aku mengenangnya!
“Jika
pun, Ayah dan Ibumu ragu padaku karena aku miskin! Aku tidak peduli! Jika pun
kau tak lagi mencintaiku karena aku miskin, aku pun juga tidak akan peduli! Hanya
saja, satu hal,” aku memandang wajahmu waktu itu. Dua mata yang sedikit kau
redupkan itu merona susah. “Aku akan selalu mencintaimu dan menyayangimu! Aku
sudah tak bisa lagi memberikan perasaanku kepada orang lain, hanya dirimu yang
aku inginkan!” Airmataku terus bercucuran.
Kau
selalu saja menyebutku jelek. Padahal aku ingin menjadi wanita tercantik dalam hidupmu.
Mampukah? Wajahku kurang bersih. Beberapa jerawat tumbuh menggoda debu di pipi
kusamku. Gigi berantakan sebab pernah mencium aspal. Kulit yang kering jarang
lembab bersinar. Rambut yang sering rontok. Pakaianku yang jauh dari kesan rapi
di matamu, membuat nyaliku bertambah ciut. Aku takut kehilanganmu! Namun aku
tak mempunyai alasan untuk membuatmu bertahan di sisiku. Sebab kenyataan
begitulah aku adanya. Terlengkapi dengan fiskku yang sakit-sakitan. Kau mungkin
akan mempertimbangkan kehiduan masa depanmu jika yang menemani langkahmu adalah
aku. “Apa pun yang terjadi aku tetap akan berusaha untuk menjadi yang terbaik
di matamu!” Keputusan yang telah aku bulatkan.
Senja
itu, jemarimu mencubit pipiku kasar. Aku menggerutu muram. Namun, saat aku mengenangmu
kini, justru aku merasa senang. Kita
duduk di beranda masjid. Embun melambai-lambai tenang. Kendaraan lengang. Senja
mekar di ufuk Barat. Kabut mengendap-endap sedikit. Hendak menghalangi seluruh
wajah langit, namun ia tak mampu menjangkau keseluruhannya. Jadi, tetaplah
keindahan yang akan memanjakan sudut-sudut matamu. Gerimis menemani.
“Kau
pakai bedak?” Protesmu.
“Tidak,
aku tidak memakai bedak. Lihatlah wajahku! Apakah di tasku juga ada bedak?”
“Barangkali
tadi sebelum berangkat ke Magelang kamu memakai bedak!”
“Hei! TIDAK! Aku tidak punya bedak! Aku
ingin belajar menjadi diriku, tampil apa adanya! Aku tidak ingin menutup-nutupi
wajah burukku!”
Sebab
aku ingin menampakkan diriku yang sebenarnya di hadapanmu. Jika kelak kau
memujiku cantik. Begitulah aku seterusnya.
“Ah, gadis jelek! Jerawatan!” Itulah kata
pemungkas dalam kenanganku. Apa pun yang terjadi, kau adalah sosok yang kurindu
dan akan selalu kucinta. Nurul Yaqin
(Cahaya Kebenaran).
Maka,
aku acuh dengan orang-orang yang membaca tulisanku. Mereka akan berpikir aku
sudah gila dimabuk cinta. Bagaimana mungkin, aku sanggup menulis kata rindu dan
cinta? Sudahlah abaikan saja, yang jelas waktu ini aku hanya ingin mengingatmu
dalam cerita.
20
November 2016.
Tentang Penulis. Titin Widyawati lahir di Magelang 16 Juli
1995. Kegemarannya adalah melamun dan tidur.
Komentar
Posting Komentar