Langsung ke konten utama

AYAH

Hujan, izinkan aku menitip rindu dengan perangko keabadian yang kutulis menggunakan tinta airmata. Sampaikan padanya, bahwa aku tak sanggup membendung perasaan ini. Dua tahun ia pergi dari tempat yang dijadikan surga sesaat, dua tahun pula aku masih menangis. Keputusan takdir ini tak dapat aku terima. Aku setia berharap ia akan hadir dalam impianku.

 Ia membuatku merasa sangat bersalah. Aku belum pernah membuatnya bangga. Selalu menyusahkannya. Namun, ia tabah dalam mendidikku. Bagaiamana mungkin aku sanggup melupakan perhatian orang yang aku anggap hebat di dunia ini?


Ia adalah seseorang yang tak pernah menuntutku, bahkan saat aku mendapatkan nilai buruk sekali pun, ia senantiasa melindungiku, Selama ini bukannya aku sukar menangkap pengetahuan, hanya saja aku tidak suka dengan suasana di dalam ruangan. Aku bosan, itu membuat kosentrasiku buyar. Aku akan melamun di dalamnya. Semakin lama terkurung, mataku tak lama kemudian pasti terjebak dalam kantuk.
Orang lain akan memberiku banyak ceramah tentang anjuran belajar rajin, dan lebih memerhatikan penjelasan guru-guru. Aku merasa orang dewasa itu sangat menyebalkan. Mereka tidak mengerti apa yang aku inginkan.

Aku pernah berpikir jika tuntutan akan mati usai aku duduk di kelas sembilan, rupanya tidak, semuanya justru bertambah mengerikan. Aku stress, karenanya aku menemukan cara untuk menulis. Lantas kutanamkan tekad, membuat buku untuk membuatnya senang. Aku berusaha keras. Mencari teman dan guru yang berkenan mengajariku. Terkadang aku sampai kurang memerhatikan kondisi kesehatanku sendiri demi dirinya. Saat aku di puncak ujian belajar, AAllah mengambil nyawanya dari sisiku. Aku hancur.

Tak kutemukan cara menulis kembali. Raga, pikiran, selalu ingin menyendiri. Banyak orang yang menanyakan hasil karyaku, buah tangan kegemaranku. Aku semakin menutup diri. Kusumpal telingaku dengan sering bercanda. Jarang lagi jemariku menorehkan kata-kata. Aku rapuh dalam sepi yang kubuat.
Tragis, orang tak pernah mengerti apa yang diinginkan oleh akal dan jiwaku. Orang pandai menuntutku menulis kisah-kisah unik, jika tidak persoalan remaja, aku juga sering diceramahi agar sering membuat puisi. Dan asalkan mereka mengerti, selama ini aku justu fokus pada kisah unik, padahal bukan itu tujuanku menulis. AKU MENULIS UNTUKNYA! Untuk Ayahku!

Diriku selalu ingin bercerita pada Ibu dan Ayah, sayang bibir bungkam. Melalui tinta aku hendak mengungkapkan rindu yang kucaampur dengan cinta. Mengapa, orang mengacaukan impianku? Dengan mengadudombakan memberikan nasehat juga masukan? 

Ajari aku menulis! Dan izinkan aku berkisah menggunakan caraku, bukan cara orang lain! Semua itu hendak kulakukan demi Ayah dan Ibuku! Apakah mereka sanggup mengerti?




27/09/2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kado Spesial

Pisbon.blogspot.com      Kasih Ibu kepada Beta, tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, bagaikan surya menyinari dunia. Kasih ibu sepanjang jaman. Kasih anak sepanjang penggalan. Mentari menyeruak dalam balutan kabut. Di ufuk Timur itu, bolamnya dunia menerangi awan yang kalang kabut. Cicit burung yang bersenda gurau di tiang-tiang listrik mengendar di daun telinga. Nuansa gedung penembus langit kembali  memantulkan cahaya mentari yang tak terlalu terik karena terhalau laju kabut. Sesekali nampak, sesekali tak memeta jejak. Namun walaupun begitu, tetap saja pagi menjadi awal mula bagi kehidupan.             Di sudut kota, tepat di balik gedung-gedung yang menerobos langit ke tujuh. Pemuda berambut gondrong dan awut-awutan itu, memerosotkan tubuhnya di dinding tembok. Sudah tiga minggu dia tidak pulang ke penaungan ibunda. Lantaran kantong sakunya belum tertimbun logam untuk...

WHERE ARE YOU, DAD?

Kau di mana? Aku selalu menunggu kau pulang ke rumah k ita . Aku menyibak tirai jendela. Melamun memandang ke jalan sempit di lantai bawah. Kala itu tak ada airmata yang jatuh menitik. Aku tidak paham maknanya pedih. Aku hanya ingin kau hadir. Namun kau tak ada, kau kayu rapuh yang dimakan rayap. Kau buah segar yang digigiti ulat. Terus berkeliaran kampung tanpa mengingatku.  Kini aku beranjak dewasa. Kenangan termanisku denganmu, saat kau menggendongku, membelikanku es lilin. Mengajakku menangkap capung. Menyabit rumput di hutan. Mencari ubi di ladang. Dan tak akan pernah terlupakan saat jemarimu membelai ubunku seraya mengulurkan bunga hutan yang sering dijuluki "KEMBANG GENI" oleh penduduk. Kau menyelipkannya di telinga. Lantas tubuh ini riang berlari keluar rumah melanjutkan mainanku membangun gedung tinggi dengan menumpuk tanah.  Ayah! aku memanggilmu dalam sunyi. Aku ingin kau memelukku seperti dulu lantas kau berkata bahwa aku cantik jelita. Ayah! Tanpamu aku ...

Senyum ini!

Senyum ini... Senyum yang mekar kaya dengan impian-impian. Pikiranku menerbangkan sejuta kisah yang tak akan pernah terlupakan. Kukikis waktu yang mungkin teranggap habis. Meski jarak kelak akan memisahkan, namun aku tak pernah sekali pun membayangkan kau di dekat lembaran j.a.u.h. Bagiku kau di sini, di sisi, mengukir cita yang nyaris remuk ditelan asa. Dan mengingatmu, adalah salah satu motivasi dalam hidupku. Kawan! Aku tak akan pernah mengecewakanmu. Aku menuliskan namamu dalam dinding hatiku. Zaman dan cintaku tak akan mampu menggerogoti untuk membuatnya punah. Tanpamu aku maju, sayang langkahku layu. Memoar.16 Agustus 2016.