Hujan, izinkan aku menitip rindu dengan perangko keabadian yang kutulis menggunakan tinta airmata. Sampaikan padanya, bahwa aku tak sanggup membendung perasaan ini. Dua tahun ia pergi dari tempat yang dijadikan surga sesaat, dua tahun pula aku masih menangis. Keputusan takdir ini tak dapat aku terima. Aku setia berharap ia akan hadir dalam impianku.
Ia membuatku merasa sangat bersalah. Aku belum pernah membuatnya bangga. Selalu menyusahkannya. Namun, ia tabah dalam mendidikku. Bagaiamana mungkin aku sanggup melupakan perhatian orang yang aku anggap hebat di dunia ini?
Ia adalah seseorang yang tak pernah menuntutku, bahkan saat aku mendapatkan nilai buruk sekali pun, ia senantiasa melindungiku, Selama ini bukannya aku sukar menangkap pengetahuan, hanya saja aku tidak suka dengan suasana di dalam ruangan. Aku bosan, itu membuat kosentrasiku buyar. Aku akan melamun di dalamnya. Semakin lama terkurung, mataku tak lama kemudian pasti terjebak dalam kantuk.
Orang lain akan memberiku banyak ceramah tentang anjuran belajar rajin, dan lebih memerhatikan penjelasan guru-guru. Aku merasa orang dewasa itu sangat menyebalkan. Mereka tidak mengerti apa yang aku inginkan.
Aku pernah berpikir jika tuntutan akan mati usai aku duduk di kelas sembilan, rupanya tidak, semuanya justru bertambah mengerikan. Aku stress, karenanya aku menemukan cara untuk menulis. Lantas kutanamkan tekad, membuat buku untuk membuatnya senang. Aku berusaha keras. Mencari teman dan guru yang berkenan mengajariku. Terkadang aku sampai kurang memerhatikan kondisi kesehatanku sendiri demi dirinya. Saat aku di puncak ujian belajar, AAllah mengambil nyawanya dari sisiku. Aku hancur.
Tak kutemukan cara menulis kembali. Raga, pikiran, selalu ingin menyendiri. Banyak orang yang menanyakan hasil karyaku, buah tangan kegemaranku. Aku semakin menutup diri. Kusumpal telingaku dengan sering bercanda. Jarang lagi jemariku menorehkan kata-kata. Aku rapuh dalam sepi yang kubuat.
Tragis, orang tak pernah mengerti apa yang diinginkan oleh akal dan jiwaku. Orang pandai menuntutku menulis kisah-kisah unik, jika tidak persoalan remaja, aku juga sering diceramahi agar sering membuat puisi. Dan asalkan mereka mengerti, selama ini aku justu fokus pada kisah unik, padahal bukan itu tujuanku menulis. AKU MENULIS UNTUKNYA! Untuk Ayahku!
Diriku selalu ingin bercerita pada Ibu dan Ayah, sayang bibir bungkam. Melalui tinta aku hendak mengungkapkan rindu yang kucaampur dengan cinta. Mengapa, orang mengacaukan impianku? Dengan mengadudombakan memberikan nasehat juga masukan?
Ajari aku menulis! Dan izinkan aku berkisah menggunakan caraku, bukan cara orang lain! Semua itu hendak kulakukan demi Ayah dan Ibuku! Apakah mereka sanggup mengerti?
27/09/2016
Ia membuatku merasa sangat bersalah. Aku belum pernah membuatnya bangga. Selalu menyusahkannya. Namun, ia tabah dalam mendidikku. Bagaiamana mungkin aku sanggup melupakan perhatian orang yang aku anggap hebat di dunia ini?
Ia adalah seseorang yang tak pernah menuntutku, bahkan saat aku mendapatkan nilai buruk sekali pun, ia senantiasa melindungiku, Selama ini bukannya aku sukar menangkap pengetahuan, hanya saja aku tidak suka dengan suasana di dalam ruangan. Aku bosan, itu membuat kosentrasiku buyar. Aku akan melamun di dalamnya. Semakin lama terkurung, mataku tak lama kemudian pasti terjebak dalam kantuk.
Orang lain akan memberiku banyak ceramah tentang anjuran belajar rajin, dan lebih memerhatikan penjelasan guru-guru. Aku merasa orang dewasa itu sangat menyebalkan. Mereka tidak mengerti apa yang aku inginkan.
Aku pernah berpikir jika tuntutan akan mati usai aku duduk di kelas sembilan, rupanya tidak, semuanya justru bertambah mengerikan. Aku stress, karenanya aku menemukan cara untuk menulis. Lantas kutanamkan tekad, membuat buku untuk membuatnya senang. Aku berusaha keras. Mencari teman dan guru yang berkenan mengajariku. Terkadang aku sampai kurang memerhatikan kondisi kesehatanku sendiri demi dirinya. Saat aku di puncak ujian belajar, AAllah mengambil nyawanya dari sisiku. Aku hancur.
Tak kutemukan cara menulis kembali. Raga, pikiran, selalu ingin menyendiri. Banyak orang yang menanyakan hasil karyaku, buah tangan kegemaranku. Aku semakin menutup diri. Kusumpal telingaku dengan sering bercanda. Jarang lagi jemariku menorehkan kata-kata. Aku rapuh dalam sepi yang kubuat.
Tragis, orang tak pernah mengerti apa yang diinginkan oleh akal dan jiwaku. Orang pandai menuntutku menulis kisah-kisah unik, jika tidak persoalan remaja, aku juga sering diceramahi agar sering membuat puisi. Dan asalkan mereka mengerti, selama ini aku justu fokus pada kisah unik, padahal bukan itu tujuanku menulis. AKU MENULIS UNTUKNYA! Untuk Ayahku!
Diriku selalu ingin bercerita pada Ibu dan Ayah, sayang bibir bungkam. Melalui tinta aku hendak mengungkapkan rindu yang kucaampur dengan cinta. Mengapa, orang mengacaukan impianku? Dengan mengadudombakan memberikan nasehat juga masukan?
Ajari aku menulis! Dan izinkan aku berkisah menggunakan caraku, bukan cara orang lain! Semua itu hendak kulakukan demi Ayah dan Ibuku! Apakah mereka sanggup mengerti?
27/09/2016
Komentar
Posting Komentar