![]() |
| Senyum Getir Titin Widyawati |
Sirrus bertebaran di langit. Mengajak keluarga kumulus bercanda. Mentari mengedipkan mata. Bunga-bunga di halaman
rumah warga mengangguk tergoda. Pesona alam riang, seriang burung gereja yang
berkicau di kabel-kabel listrik jalanan. Kokok ayam lelap, mereka sudah
berkemas mencari makan di emperan selokan, atau tumpukan sampah. Kucing
tetangga mengusir cintanya tadi malam. Ia melenggok lunglai di gang-gang
sempit, hendak loncat ke dapur mencari kepala ikan. Lidi beristirahat. Tuannya
sibuk mengantre di warung bubur Bu Siti.
Anak-anak belia yang senyumnya masih tanpa dosa digendong. Matanya
sayup-sayup, malas menyibak dunia. Mereka juga belum terganggu dengan kupu-kupu
dan kumbang yang hinggap di bunga mawar. Malas mendengarkan bisingnya knalpot
hilir-mudik. Tak tertarik dengan langkah-langkah riang anak-anak pergi ke
sekolah, bergerombol, tertawa, saling menjawil, menarik tas, melempar kertas,
lantas kejar-kejaran hingga depan pintu gerbang. Renta yang tadi pagi terkantuk-kantuk
di sandaran tubuh musola, kini duduk manis di beranda rumah, mengemis sinar
mentari agar memberikan kehangatan tubuhnya. Mereka tersenyum, menyapa
anak-anak sekolah, tersenyum pula menyapaku yang melintas di hadapannya.
“Berangkat, Rara?”
Aku mengangguk membalas
senyuman. “Iya, Nek.”
Ingin sekali aku bertanya. Sedang apakah, Nek? Kutafsir jawabannya,
memikirkan kematian? Sayang, nyaliku
ciut, tetangganya sudah memelototiku.
Ibu-ibu setengah muda,
menyiapkan bekal ke bibit cabai di belakang kampung. Mereka hendak memasukkan
tanah ke dalam plastik setengah ons untuk pot benih cabai. 150 pot, senilai
dengan upah tiga ribu rupiah. Kawan, bayangkan berapa puluh peluh yang harus
mereka pertaruhkan demi saku anak-anaknya? Duduk berjam-jam di sisi gundukan
tanah gempur, berceloteh membicarakan aib tetangga sebelah. Jika telinga takdir
mendengar, murkalah ia. Hendak menelan bibir mereka, percuma, suami tak akan
mengizinkan. Jangan tertawakan, jika takdir cemburu di ujung saga.
Jika pagi, Fani sibuk menyirami
tanaman di teras rumahnya, menyapu halaman, juga mencabuti halma rumput yang
tumbuh liar, ibunya meracik bumbu di dapur, ayah pergi sebelum subuh tadi ke
Semarang, dinas di kantor negara. Ia cantik, senyumnya menggoda kumbang yang
sedang tertidur. Namun, ia tunduk, tak jelalatan seperti perempuan di emperan
malam. Siang, ia bergegas ke kampus tersayang, senja saat mega berhamburan di
langit yang diaduk oleh warna keemasan
alam abu, jingga, biru, dan ungu, ia akan merajuk di hadapanku, menyumpah-serapahkan
isi otaknya yang seharian penuh keluh. Aku bagaikan tong sampah argumennya.
Gerobak bakso keluar menyusuri gang-gang
sempit perkampungan. Kursi pembeli nongkrog di atasnya, kaca baru saja dilap
mengkilap, senyum penjualnya menandingi kemanisan gula, bau parfum mencekik
hidung, mengaduk perut. Kaos oblong dengan celana pendeknya menampilkan kesan
yang pas bagi pedagang keliling. Tujuh bakso kerikil senilai dengan limaribu
rupiah. Jika senja, ia mangkal di depan aula kampung, menggoda para penunggu
anak mengaji dengan aroma kuahnya yang sukses membuat cacing pencernaan
tergiur. Maka anak yang keluar dari aula menyandang iqro; merajuk, menarik rok ibunda, meminta bakso tusuk limaribuan,
mereka tak berkutik, akhirnya tersenyum licik mendekati tukang bakso, pelan,
berbisik-bisik, tak rela sehelai daun kersen yang tumbuh di halaman aula
mendengarkan ucapannya. Ia juga angkuh dengan tatapan awan-gemawan di atas
kepalanya. Egois pada cibiran mulut lain tetangganya. Tetap, melanjutkan
proposal perdamaian untuk mendapatkan bakso demi wajah melas anaknya.
”Pak. Baksonya tiga ribu aja,
ya?”
Kening penjual mengkerut, ia
menelan ludah. Lantar tersenyum. GETIR.
“Ya, tidak apa-apa.” Anaknya
nyengir senang.
“Bayarnya besok ya? Lagi tidak
bawa uang,”
Kiamat lima menit. Tukang bakso
tersenyum getir.
Tukang ojek mulai memanaskan
sepeda motornya di beranda rumah, mengelapnya kinclong. Mentari melecit, tubuh
mereka melesat. Imajinasikanlah mereka adalah seeorang pembalap. Setiba di
pangkalan, berdoa kepada pemberi ruh supaya ada satu mangsa yang mau singgah di
joknya. Matanya tajam, mengamati puluhan pejalan kaki yang melintas di
hadaapannya. Berkali-kali asap rokok dikepulkan, berusaha menelan getir
berjam-jam lamanya penumpang langka. Diasingkan oleh kredit sepeda motor yang
terpikir melenakan. Mereka tak berputus asa, tetap menawarkan jasa, dengan
senyum kecut yang dipaksakan lembut.
“Mari Mbak, ojeknya, antar
sampai depan rumah. Murah meriah.”
Seseorang hanya menatap sinis,
tanpa merespon. Atau, “mau ke mana Ibu? Ojeknya...”
“Lagi nunggu jemputan!”
Tukang ojek menelan air liur.
Tersenyum getir menatap orang tersebut. Kembali asap rokok diembuskan.
Kucing yang sedang mencari makan di
selokan-selokan pasar mentertawakannya. ‘Meong!’
Tukang ojek senasib dengan
sopir-sopir angkutan. Penumpangnya punah! Para pelajar sekolah saja yang
memenuhi, itu pun bayarnya mendapatkan dispensasi. Sebagian orang kampung telah
lupa dengan keberadaannya. Dulu, mereka adalah kekasih yang selalu dinantikan
kesetiannya mengantarkan pulang. Beribu-ribu ucapan terimakasih didapatkan.
Namun, kini meski susah payah membeli parfume ruangan mobil, mengelap kaca
sampai tembus pandang, tersenyum manis setiap saat, berpakaian rapi menandingi
pekerja kantoran.
Tetap saja, penumpangnya adalah makhluk abstrak, tak terlihat. Maka
jangan heran, jika banyak kepulan asap rokok setiap hari. Sejujurnya mereka
adalah pahlawan yang dilupakan zaman. Frustasi dilarikan pada hisapan nikotin
yang melegakan dada. Mereka mengenang keramaian penumpang yang berdesak-desakan.
Mengecup kening waktu mendengar keusilan penumpang jahil. Jika beruntung, ada
wanita ramah yang memberikan satu senyuman gratis. Jemari keriputnya menyetel
tombol tip di samping setirnya. Menelan air liur getir, usai mendengar lagu
dangdut bersenandung. ‘Masa lalu, biarlah masalalu...’
Pedagang sayur menggelar tikar.
Ibu-ibu yang tidak lari ke bibit cabai berebut sayur-mayur. Tawar-menawar
menjadi pusat perhatian para sopir angkutan umum dan ojek-ojek yang tak
mendapatkan penumpang. Mereka ngotot meminta potongan harga, tak diperhatikan
keringat penjual yang menetes. Bahkan malas peduli dengan perjuangan petani
yang merawatnya dari benih sampai tumbuh dewasa. Mereka menghapus ingatan punggung
etani membungkuk, memberi pupuk, yang baunya akan busuk, membuatmu mabuk. Tidak
disimpan memoar petani yang dipanggang di luasnya lahan, terkadang pun basah kuyup dengan triliunan
titik hujan. Pulang, membawa cangkul sebatangkara, mencuci kaki di irigasi
sawah yang keruh.
Malam, di balik dinding bambu mereka berdoa, bukan agar jika panen
mendapatkan keuntungan yang banyak, melainkan. ‘Semoga tanamanku tidak dimakan
hama.’ Esok kembali datang, jejak dilayangkan, ke sawah juga ke ladang.
Rerumputan dicabut dengan tangannya sendiri, hama disemprot. Lelah. Tudung
dilepas, dikipas-kipaskan sembari bersandar pada tubuh pepohonan yang rindang.
Baginya, melihat tanamannya tumbuh subur dengan dedaunan hijau segar, cukup
menyenangkan. Begitupun juga dialami para petani yang menanam padi di sawahnya
yang luas. Bukan hanya mereka yang akan bahagia, burung-burung alam pun
tersenyum bangga. Namun, perdebatan menyakitkan terjadi di pasar pagi.
“Bu, kubisnya satu kilo berapa?”
Tawar seorang yang berpakaian rapi. Wajahnya dibubuhi bedak lima senti. Bibir
merah darah. Tas chanel tersampir manja di lengannya. Gelang melingkar di
lengannya. Empat cincin tersiman di jari-jarinya. Anting panjang nyangkut di
rambutnya. Kalung dengan intan besar menggelayut di lehernya.
“Empat ribu, Buk!”
“Halah, dua ribu saja ya, Buk!”
Burung yang bertengger di
kabel-kabel listrik hambur, tak tega melihat pedagang menelan air liur kecut. Lantas
tersenyum. GETIR.
“Tidak bisa, Ibu. Empat ribu,
pas!”
Ingin sekali ia menghardik, Anda
tidak susah payah menanmnya! Sayang, ia tidak berani melawan kegagahan tentara
berlian di tubuhnya.
“Kalau begitu tiga ribu saja,
ya?”
“Empat ribu pas, Buk!”
“Tiga ribu setengah bagaimana?”
Terpaksa, dengan senyum getir,
pedagang sayur mengangguk. “Yasudah tidak papa, Bu!”
“Timbangkan setengah kilo ya,
Bu!”
Lemas. Jantung nyaris kejang.
Namun pedagang yang baik hati selalu bersabar.
Saat waktu maghrib memanggil.
Semuanya serentak, dari anak sampai bapak, nenek, juga kakek,
berbondong-bondong meninginjakkan kaki ke musola kampung. Orang dewasa bersujud
khuysuk, belia lari ke sana-kemari. Anak-anak remaja duduk di beranda musola,
melempar pesan dengan teman sebangkunya.
Setiap hari aku merekam
kejadian-kejadian mereka. Samakah dengan di tempatmu? Cobalah ceritakan, Kawan.
Aku siap mendengarkan.
23 Desember 2016.

Komentar
Posting Komentar