![]() |
| Pelangi di Malam Hari |
Di otak yang masih belum dipoles noda. Ia selalu berpikir bahwa akan
sanggup terbang memetik bunga di batas senja. Menggapai bintang. Meniup bola
api mentari. Duduk di pangkuan rembulan. Meluncur di cekungan pelangi.
Khayalannya kaya akan keindahan surgawi. Tak pernah memperpusingkan dosa. Tidak
tahu makna cinta remaja. Tak memahami tiupan angin topan membawa bencana.
Sejelasnya jikalau keinginannya
meminta boneka, meminta ice cream,
meminta mainan wanita, meminta uang saku lebih, tak diberikan. Menurutnya Bumi
telah meledak. Luapan danau airmata pun akan ia semburkan membasahi jagat raya.
Teriakannya akan mengganggu kedamaian malam. Tangisnya menjelegar layaknya maut
yang tak bisa ditunda kemauannya memangsa nyawa, jika sudah dititahkan untuk mencabutnya.
Inilah dia otak sang belia.
Tidak ada sesuatu yang tidak mungkin di dunia ini. Sesulit apa pun
pasti dapat digenggamnya, dengan doa maksimal, dan tidak pernah mengenal kata
putus asa. Never give up. Itulah
kalimat yang selalu mengendap di benak Pika
Varisa. Bocah berumur sembilan tahun yang masih duduk di kelas 3 SD. Anak manis
berpipi tembem ini selalu membuat kepala orangtua berdenyut-denyut. Jika tak
dituruti kemauannya, mogok makan menjadi ancaman.
Suatu hari Pak Latif Guru Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), memberikan
materi pelajaran tentang pelangi. Mulai dari jumlah warna yang dimilikinya,
hingga bentuk beserta proses terjadinya. Beliau menunjukkan warna dan bentuknya
dengan menggunakan prisma, kaca, dan air sebaskom yang diletakkan di atas meja
guru. Di dalam ruangkelas yang sederhana itu, permukaan meja guru bagaikan
sedang dihuni barang belanjaan di benak Pika. Imajinasinya menari ke sana
kemari. Pupil matanya yang hitam arang itu tak pernah lelah memelototi prisma
yang dipegang Pak Latif. Ia berkhayal jika mampu menjadi liliput dan berdiri di
puncak prisma tersebut. Sepertinya itu akan menjadi humor tersendiri bagi orang
lain. Pikirnya konyol!
Waktu itu Pika, gadis cadel yang menggemaskan itu, belum mampu
memahami keterangan yang disampaikan oleh Pak Latif. Kata yang terangkai
menjadi kelimat lantas dilontarkan oleh Pak Latif bukannya membuat kebodohannya
musnah, malah membuat keningnya berkerut-kerut. Otaknya dibuat Pak Latif
mendidih karena kebingungan. Reflek jari telunjuknya terangkat, tanpa menunggu
respon dari sang guru, gadis mungil itu mengungkapkan pernyataan.
“Bapak kok
aneh sih? Pelangikan di langit, bukan
di atas meja. Pelangikan cekung di udala
dengan alami, bukan kalena pantulan dali kaca dan plisma. Walna pelangi ya,
melah, jingga, kuning, hijau, bilu, nila, dan ungu… kok
walnanya ditambah disebut
MEJIKUHIBINIU sih? Ih Bapak aneh! Setahu Pika walna itu cuma ada dua macam. Satu walna dasal dan yang kedua walna
tulunan. Walna dasal hanya ada
tiga. Melah, kuning, dan bilu. Yang lainnya disebut walna tulunan. Enggak ada tuh walna MEJIKUHIBINIU dalam pelajalan Seni Budaya.” Protesnya dengan nada cadelnya yang has.
Cerdik otaknya, hingga berani memprotes keterangan gurunya. Oh
anak kecil yang polos. Pak Latif terkekeh kecil mendengar kalimat jenius yang
keluar dari mulut Pika. Beliau memaklumi pernyataan konyol itu, karena ia masih
duduk di bangku 3 SD. Itu bukan kekonyolan! Itu adalah kecerdasan Pika yang
luar biasa. Keberaniannya mengeluarkan pendapat untuk menyanggah keterangan Pak
Latif, sudah mendapatkan nilai tambahan tersendiri di mata beliau. Wajar kalau
anak manis itu belum bisa menangkap dan mencerna keterangan guru dengan cepat.
Beliau lalu menghampirinya, duduk di kursi sebelah kiri Pika, gadis yang belum
paham itu refleks menggeser tubuhnya sedikit.
“Betul, pelangi memang di langit, bapak
hanya menjelaskan menggunakan prisma supaya Pika dan teman-teman lainnya paham.
Itu sekadar perumpamaan. Misalnya seperti tahu, bapak umpamakan bentuknya
seperti penghapus yang kotak, kan
enggak mungkin bapak masuk ke kelas bawa tahu. Nah benar kata Pika, warna hanya ada dua macam,” kata Pak Latif memberi jeda pada
keterangannya untuk menghirup udara.
“Warna dasar dan warna turunan.
MEJIKUHIBINIU itu bukan termasuk macam warna… tapi singkatan dari warna-warna pelangi yang hanya diambil huruf
depannya saja. Misal merah, ya hanya Me, jingga ya hanya Ji… kenapa seperti itu? Supaya Pika dan
teman-teman mudah menghafal warna-warna pelangi yang jumlahnya ada tujuh.
Begitu sayang, sudah paham?” beliau menjelaskan
dengan pelan dan lembut.
“Kata Bu Nani, gulu IPS Pika,
di dunia ini nggak ada yang nggak mungkin. Nyatanya Indonesia bisa mengalahkan
Belanda, yang sudah menjajah negala
Indonesia selama 3 abad lebih. Belalti
mungkin saja dong, Bapak bawa tahu ke
kelas, Bapak aja yang malas, telus
bilang nggak mungkin.” Ia berkata dengan
nada menuntut.
Kata-katanya mampu membuat guru yang mengajar IPA itu mati kutu.
Sementara murid-murid lainnya bertepuk tangan, tertawa ria sambil meledek. Suasana
kelas mendadak ramai. Tawa renyah membuat kelas sebelah merasa terganggu.
“Huu… Pak Latif aneh, pinteran Pika. Pak Latif
pemalas pinter Pika… huu,” mereka bersorak-sorak ramai mengikuti ucapan Pika yang mengatakan Pak
Latif aneh.
“Hehehe, otak kamu memang jenius, bapak bangga
sama kamu Pik, ya sudah apa sekarang Pika sudah paham?” tanya Pak Latif simpatik sambil
mengembangkan senyumnya.
“Paham Pak, tapi sedikit.”
“Biar paham seratus persen, entar kalau
sudah sampai rumah, Pika belajar lagi ya!” perintah beliau.
“Iya Pak, Pika akan belajal sungguh-sungguh, asalkan
Bapak besok tidak malas bawa tahu ke kelas. Kan
di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin. Belalti
kalau Bapak tidak bawa, Bapak belum bisa mencelminkan
sikap peljuangan Bangsa Indonesia
melawan penjajah Belanda. Coba Bapak pikil,
Bangsa Indonesiakan cuma sedikit, uda gitu senjatanya juga enggak lengkap. Tapi
dengan niat yang belkobal dalam
jiwa," Pika menunjuk dadanya sendiri.
"...meleka belsatu melawan penjajah dan menang.
Kalau dipikil kan enggak mungkin Indonesia akan menang, tapi nyatanya Indonesia
menang. Nah kata Bu Nani, itu
membuktikan bahwa di dunia ini tidak ada yang nggak mungkin. Asalkan kita belusaha dengan sungguh-sungguh. Masak
cuma bawa tahu ke kelas saja enggak mungkin, hah… belalti
Bapak pemalas dong!” Ujar Pika dengan cerdiknya.
Lelaki separuh baya yang mengajar IPA itu, hanya mengangguk bangga
sambil menyudutkan bibirnya untuk tersenyum. Beliau yang berjiwa samudera,
tidak marah dikatakan aneh dan pemalas. Beliau malah kagum dengan Pika yang
berani mengoreksi kesalahannya dengan teliti. Jarang anak kelas 3 SD yang mampu
berpikir seperti dirinya. Hanya seribu satu.
“Oke, besok bapak akan bawakan tahu
sepesial buat Pika. Asalkan Pika belajar sungguh-sungguh.”
“ Asyiiik…” teriaknya girang kemudian melanjutkan kalimatnya,
“O iya Pak, bisa nggak Pika lihat pelangi
di malam hali?”
Pertanyaan Pika belum terjawab karena bel kedua telah berbunyi.
Petanda waktu pulang telah tiba. Pak Latif mengakhiri pelajaran hari itu.
Beliau memimpin anak-anak berdoa. Membiarkan Pika yang masih berkhayal dengan
pertanyaannya yang tidak masuk akal. Gadis mungil itu pun hanya sanggup
mengerucutkan bibirnya. Protes pun tak sanggup, lantaram waktu sudah tak
berkenan.
*****
Pika duduk manis di
kursi tamu, usai melepas seragamnya lalu mengganti pakaian sekolahnya dengan
blus biru Winnie The Pooh kesukaannya. Ia
sengaja menunggu kedatangan ayahnya pulang kerja, dari toko tanaman hias milik
beliau. Duduk sambil memeluk boneka abu-abu Shoun
The Sheep. Meletakkan dagunya di atas kepala bonekanya.
Pika termasuk anak
yang hiperaktif. Tutur katanya suka ceplas-ceplos. Pemikirannya cerdik, mampu
mengalahkan guru. Ia menuruni watak ibunya yang jenius namun kasar dan keras kepala. Tak jarang kata-kata kasar
sering keluar dari mulut ibunya, seperti Pika tolol, nakal, pemalas, goblok,
aneh, tidak sopan, dan lain sebagainya. Jadi
wajar jika anak itu berkata ketus kepada gurunya. Berani mengatakan
beliau pemalas, karena kata-kata itulah yang selalu terdengar di telinga Pika.
Sementara ayah Pika, memiliki jiwa seluas samudera. Tutur katanya lembut.
Beliau penyayang dan sangat perhatian.
Pelangi yang indah
berwarna-warni terbayang dalam angannya. Ia ingin sekali melihat pelangi yang
menghias angkasa setelah turunnya butiran air dari langit. “Kenapa halus hujan dulu, kenapa hanya nampak di waktu telang saja, kenapa enggak di malam hali, bial bisa belteman dengan bulan dan bintang?” ia menggumam sambil menggerakkan jari
telunjuknya untuk menonyong-nonyong dahinya. “Kenapa ya?” ia terus
bertanya-tanya.
Tak disadari, lelaki
separuh baya yang ditunggunya sudah berdiri tegak di depannya. Ayah Pika
membelai lembut rambut putri tercintanya yang sedang melamun bingung memikirkan
pelangi.
“Sayang, anak ayah kok ngelamun. Enggak boleh loh,
entar kesurupan terus Pika ketawa-ketiwi sendiri kayak orang gila.” Ujar beliau sambil menaikkan anaknya di
pelukannya.
“Ayah kapan pulangnya sih? Pika uda nungguin lama sama Adik Sheep (boneka kesayangannya,
Shoun The Sheep) dali tadi tauuuk.”
“Pika sih,
ngelamun terus, jadi enggak tahu kapan ayah masuk rumah. Kenapa Pika enggak
masuk ke dapur nemuin ibu?” beliau mendudukkan
gadis kecil itu kembali.
“Malas ah
Yah, ibu bawel,” rajuknya.
“Oh ya Yah, Pika ingin
lihat pelangi di malam hali,”
Ayah Pika mengerutkan
dahi. Permintaan Pika sungguh tidak masuk akal.
“Aduh sayang, mana ada. Kalau malam
pelangi ya nggak kelihatan meskipun sehabis hujan!”
“Kata Gulu
IPS Pika di dunia ini nggak ada yang nggak mungkin Yah…” katanya penuh antusias.
“Tapi kalau pelangi di malam hari ya
enggak ada sayang,” beliau coba meyakinkan.
“Pokoknya Ayah halus ngajakin lihat pelangi ental
malam! Titik… kalau
enggak Pika enggak mau makan satu minggu.” Anak itu turun dari kursi lari menggendong bonekanya menuju kamar.
Pika terkenal dengan sifatnya yang keras kepala. Ia selalu mogok makan jika apa
yang diinginkannya tidak terpenuhi. Ancaman tersebut, membuat lelaki separuh
baya itu pusing tujuh keliling.
“Hmm… apa yang harus aku lakukan untuk anak
itu, aku takut dia enggak mau makan beneran seperti kejadian yang sudah-sudah.” Ungkap beliau dalam hati, dengan raut
wajah yang cemas.
*****
Malam begitu cepat
mengembuskan napasnya, namun Pika belum mau mengisi perutnya yang sedari siang
belum dimasuki apa-apa. Hal itu membuat
khawatir perasaan ayahnya. Beliau sangat menyayangi buah hatinya yang keras kepala.
Beliau takut anak itu sakit gara-gara tidak makan. Berkali-kali beliau membujuk
anaknya untuk makan, sayang usahanya tetap nihil.
Beliau berpikir
sejenak sambil membelai lembut rambut putrinya yang sedang duduk di atas ranjang dengan memeluk bonekanya.
Tiba-tiba muncul ide dari benak beliau. Ayah Pika keluar, menelpon karyawan
yang bekerja di toko beliau. Menyuruhnya untuk menata semua jenis tanaman hias
membentuk cekung seperti pelangi dan mengelompokkan warnanya berurutan seperti
warna pelangi. Beliau juga menyuruh karyawannya untuk memasang lampu hias di
setiap tepi tanaman hias itu. Baris pertama bunga yang berwarna merah, baris
kedua bunga yang berwarna jingga dan seterusnya, menyerupai warna pelangi.
Setelah semuanya selesai, beliau mengajak Pika ke toko tanaman hias
tersebut. Sesampainya di sana, mata Pika terbelalak kagum. Sungguh indah
pemandangan yang ada di depannya. Sayang, masih ada yang menjanggal di
pikirannya.
“Ayah, ini memang sepelti pelangi, dan ini sangatlah indah. Tapi kenapa pelangi ini
tidak di langit, dan kenapa pelangi ini dibuat dali bunga, Ayah?” anak mungil itu
masih tetap protes. Dengan santai ayah Pika berkata,
“Sayang, di dunia inikan tidak ada yang tidak mungkin, jadi mungkin
saja dong kalau ada pelangi di Bumi.
Sewaktu terang pelangi ada di langit, tapi jika malam datang, pelangi itu akan
nampak seperti ini.” Tutur beliau
dengan mantap, dihiasi senyuman semanis mungkin.
“Emm… iya juga di dunia ini tidak ada yang
tidak mungkin. Yaudah deh nggak papa,
yang penting Pika uda bisa lihat pelangi di malam hali. Heee… holeeee,” teriaknya bahagia sambil lari
mengelilingi cekungan bunga-bunga tersebut.
Ayah Pika menghirup napas lega, karena telah berhasil menakhlukkan
hati putrinya yang cerdik itu. “Entar pulang
langsung makan ya!” ungkap ayah Pika,
“Pasti Yah, Pika kan cuma
akting bial Ayah nulutin pelmintaan Pika, hee… lagian Pika sudah lapal
buangeeet.” Anak itu
berhasil membuat ayahnya memasang ekspresi geram. Walaupun begitu,
beliau tetap bangga dengan putrinya yang sangat cerdik.
Bermimpilah setinggi langit. Jangan pernah takut hal itu mustahil,
yakinlah mimpi itu akan terwujud. Jika mau terus berusaha dan tak mau mengenal
kata putus asa. Terjanglah terus ombak di lautan. Hancurkanlah batu kerikil
yang menghalangi langkah, kuburlah rasa malas dan hapuslah perasaan takut.
Jangan pernah memupuk hal keji yang dapat menghalangi langkah meraih mimpi. Dan
ingat, jadikanlah celaan serta hinaan sebagai motivasi yang membangun. Let’s reach our dream…..!!!!!!!!!
Karya ini juga dimuat di Suara Lidik dan pernah dibukukan.
Karya ini juga dimuat di Suara Lidik dan pernah dibukukan.

Komentar
Posting Komentar