Jika ia punya otak......
Aku melihatnya!
"Tapi, ia membuat jantung ini
malas berdetak!" jiwaku menyeringai tersambut buliran airmata.
Kusingkap ujung daun di tengah
rerimbunan semak-semak, dengan rumput yang daunnya melengkung panjang, nyaris
kutatap menjamah bibir langit. Embun membutir jernih di pucuk dedaunan. Kuintai
makhluk itu. Riak-riak kali menjadi saksi. Beberapa daun yang dihanyutkan
melambai-lambai ke arahku. Mengajakku hanyut ke hilir kali yang berujung pada
laut luas. Tumbuhan pakis yang hidup di pinggiran tebing melengkung congkak
menatapku. Beberapa makhluk melata bersembunyi di balik tubuhnya. Raksasa ular,
saudara kelabang, musuhnya cacing, semut-semut juga keluargaku, mungkin
dirangkup di dalam belukarnya yang hangat. Mentari pagi ikut menyirami bumi
ini. Lenteranya menembus dedaunan di sekitar kali. Gemericik air kali mengusik
ketenangan akalku.
Aku bertengger di sini sendirian,
tanpa ada sepotong lensa insan yang memelototi. Tak ada yang tahu, saat salah
satu jemariku merombak pucuk dedauan hijau yang masih berklorofil segar untuk
mengintipnya. Tubuh makhluk yang kausebut sebagai wanita itu putih mulus. Tak
ada noda sedikit pun yang menempel pada lekuk-lekuknya, kecuali ribuan gelembung
busa sabun yang baru saja ia lulurkan. Rambutnya basah terurai. Jemarinya
mengambil air dari pinggiran kali, diratakan ke atas kepala. Setengah tubuhnya
sampai dada, ia lilit menggunakan selendang. Basah, kakinya ditekuk, membuat
selendang batik cokelat itu sedikit tersingkap. Itulah bidadari tepian kali
Belan. Kali yang menjadi peraduan hidupku dari lahir sampai detik ini.
Aku membencinya. Ingin aku tikam
lehernya. Kutusuk perutnya sampai usus-ususnya terburai. Kusembelih denyut
nadinya. Kutendang hatinya yang tak berperasaan. Jika lensa ini sudah beradu
dengan jantungnya, maka akan aku lahap mentah-mentah sampai ia MAMPUS! Aku
ingin membunuhnya. Ia tak tahu diri! Apa guna rupa elok dipampangkan kepada
dunia? Jikalau hatinya busuk, sementara ia mengaku mempunyai akal? Ia makhluk tersempurna. Berbeda dari yang
lain. Tapi, muka bumi ini malah luluh lantah karenanya.
Senasib dengan hidup kekasihku yang
baru saja tewas di tangannya. Aku tak bisa melukiskan kepedihan ini! Muak!
Jikalau laut Selatan dihiasi ribuan ombak yang tertiup angin, meliuk-liuk
menghantam daratan, atau bahkan saat kali ini ditanami jutaan mawar yang
menghadirkan warna-warni indah, tubuhnya pun nikmat menggiurkanku, tetap saja
itu tak mampu membuatku sanggup memaafkan kesalahan makhluk itu! Aku tak bisa!
Kekasihku pergi bermandikan darah
karena ulah tangannya. Ususnya robek, isinya muncrat. Wajah rupawan kekasihku
pun ia pecahkan. Kaki dan tangannya ia buat terpisah dari badannya. Lantas
dilempar ke tepian jurang yang paling curam. Aku tak sanggup menangkapnya.
Airmataku pun menetes bersaksikan dedaunan pakis yang bertengger di tepian
tebing kelam. Semak belukar yang dihuni ribuan rakyat melata mengutusku untuk
membalas dendamkan perbuatannya. Ia manusia, namun ia tak berperi kemanusiaan.
Tepatnya, ia bukan manusia! Ia adalah binatang menjijikkan! Binatang yang
pantas untuk dibunuh.
Aku tak tahu apa salahku, kenapa
mereka membenciku? Padahal, bukankah kau tahu? Aku dan mereka sama-sama makhluk
ciptaan Tuhan. Ia punya hak untuk bernapas, aku pun juga. Ia makan dedaunan, Tuhan pun menakdirkanku untuk itu.
Ia mempunyai rumah yang megah, aku pun juga. Di tepian kali ini, di sebuah
dedaunan yang kugulung untuk persinggahan hidupku saat letih menghantam yang
tak terkasap mereka, tapi mengapa saat mereka tahu, mereka menghancurkannya
tanpa ampun? Padahal, kau tahu sendiri bukan? Adakah sebagian dari makhlukku
yang menghancurkan rumah mereka? Singgah pun kami enggan, jika bukan angin yang
menggiring kami untuk terbang. Apa salah
kami?
Generasi kami selalu musnah.
Kepingan bangkai kami terbang ke sana kemari tanpa ada yang memedulikan. Di
mata makhluk yang berakal itu, kehidupan kami sama sekali tak dihargai.
Jika tubuhku tergiring sepoi angin,
lantas tampak oleh dua kornea mata mereka, maka tak akan pernah ada kata ampun
untukku. Mereka akan mengambil senjata. Melempar batu. Memukulku dengan kayu.
Lebih tajam, menelindas tubuhku bagaikan beras yang dimasukkan ke mesin
penggiling untuk dijadikan tepung. Hancur leburlah raga ini jika aku tak berhasil
meloloskan diri. Sudah berkali-kali nyawaku terancam. Lebih dari dua puluh
kali. Terakhir beberapa jam lalu, aku dan kekasihku sedang berjemur di atas
cadas kali, menikmati kehangatan siraman tubuh mentari. Mendadak ia datang, aku
pun tergagap. Keromantisan kami musnah.
"Pergi! Pergi! Selamatkan
keturunan kita!" katanya masih mengendap dalam ingatanku.
"Tidak bisa, tidak bisa! Kita
harus hidup bersama, kita akan terbang memutari dunia ini dengan bersama-sama.
Kalau kau mati, aku pun harus mati!"
"Jangan bodoh! Tak ada yang
akan menghiasi taman, jika kau pun mati!"
"Aku tak bisa
meninggalkanmu!"
"Pergi! Pergiiii... ia
menghampiri kita!!!" keadaan genting. Tubuhnya semakin mendekat. Ia
menangkap kami dengan sorot matanya.
"Aku tidak bisaaaa....!!!!"
aku terisak. Airmataku meluap. "Aku mencintaimu!"
"Kita akan bertemu di surga,
percayalah. Kau harus tetap hidup untukku!" kalimat terakhir kekasihku.
Kekasihku mendorong tubuhku. Aku terjungkal ke
kali. Selembar daun kering menghantarkanku ke tepian. Arus tak terlalu deras
ini menyelamatkanku, namun kekasihku terkena tikamannya.
Aku memerhatikan dengan seksama saat
tangan makhluk itu mengambil ranting kayu kering, memukulkan ujungnya ke kepala
kekasihku, lalu berpindah ke tubuhnya, rusaklah semua tulang-belulang
kekasihku, putus terburai. Disekop menggunakan daun, sebelum akhirnya makhluk
itu berjalan ke tepian semak-semak, menuju sebuah jurang di pinggiran kali. Aku
mengekorinya dengan langkahku yang tersendat-sendat. Airmataku terus meleleh.
"Tidaaaaakkkkk!!!!"
"Tuhan! Mengapa Kau pisahkan
aku dengannya? Aku tak sanggup!" pekikku saat kerongkonganku asin akan
airmata.
"Selamat jalan, kasih."
Doaku panjatkan. Waktu meraut pucat.
Hening seketika. Riak air sungai yang terbentur dengan cadas kali
menjadi melodi penghantar jasad kekasihku. Ia tewas sebagai pahlawan hidupku.
Kulihat ia menyeringai seraya
mengibas-ngibaskan tangannya. Ia berkicau. Suaranya mendengung mengalahkan air
kali. Aku tak tahu bahasa makhluk itu.
Bagaimanapun juga, hari ini ia
haruslah mati di tanganku. Aku tak terima nenek moyangku selalu dibasmi oleh
kawannya. Sepi sudah generasi kami sang penopang keindahan. Sayap kami gugur.
Tak ada yang mampu terbang.
"Kau tampak bersedih,
Kawan!" Coco, kawanku yang baru saja selesai memakan dedaunan di belakang
tubuhku membuyarkan emosiku. "Tentang kekasihmu?"
"Itulah sebabnya, makhluk itu
yang membunuhnya!"
"Aku tahu perasaanmu, Kawan!
Tapi coba renungkan, apalah daya kita untuk melawannya?"
"Kita bisa menggigit, kita bisa
mengumpulkan saudara-saudara kita untuk membunuhnya. Memang saat aku sendiri,
aku lemah dan tentu aku akan kalah, namun saat bersamaan?" aku tak mau
kalah. Aku loncat ke daun yang ditenggeri oleh Coco. Ia mengenduskan kepalanya
ke tubuhku. Bulu-bulu lembutnya memberikan kehangatan bagi jiwaku. Menyapu
lembut airmataku. Tubuhnya yang hijau segar serupa dedaunan yang kami singgahi
membuatku iri karena aku tak sanggup sepertinya. Aku kurus kering tak
berdaging.
"Tubuhmu kecil, mahkluk itu
besar, jika kau mengumpulkan saudara kita, dan ia mengumpulkan saudaranya,
apakah itu solusi?"
Aku menggeleng. Perutnya yang gemuk
dipamerkan ke depan mataku. Sekejab aku bungkam. Kepala kutundukkan.
"Makanlah sebanyak-banyaknya, berpuasalah agar kau tak marah! Tuhan
menciptakan kita seperti ini, tak boleh protes, takdir ada di tangan-Nya."
"Aku tidak tahu kenapa kita
selalu dibunuh, makhluk itu memandang kita sebagai hama saja, jarang dari
mereka yang memerhatikan sisi keindahan kita saat menjadi kupu-kupu."
Kutuang isi batinku. Pandanganku lurus mengamati aliran kali yang tak deras.
Aku tampak begitu kecil dari bebatuan yang menonjol di tepian kali. "Aku
tak bisa menjadi kupu-kupu tanpa kekasihku! Aku tidak bisa! Kau lihat tadi
bukan? Makhluk itu!" aku kembali menyibak daun. Kuperlihatkan ia kepada
Coco. Tubuhnya sedang dibalut dengan baju. "Ia baru saja membunuh
kekasihku!" suaraku bergetar. Airmata kembali mekar. Merobek keindahan
pagi ini. Meluluh lantahkan senyum mentari.
"Kalau kau ingin balas dendam,
maka kau sama halnya dengan makhluk itu, Kawan! Ia punya nafsu untuk berbuat
angkara, tak seperti kita! Kita diciptakan oleh Tuhan untuk menjadi makhluk
penerima apa adanya, tak boleh protes! Kita bukan mereka, biarlah mereka
berbuat sekehendak mereka!" nasehat Coco amat teduh. Aku menyadari
kebringasanku. Kuatur napas. Kutatap langit. Awan berarak-arak. Sinar mentari
amatlah terang. Merenungi kekuasaan Tuhan. Coco benar.
"Kita diciptakan oleh Tuhan
sebagai makhluk pemakan daun sebanyak-banyaknya untuk menciptakan keindahan.
Itulah sebabnya makhluk itu tidak menyukai kita."
"Bukankah mereka sudah amat
sempurna dari kita? Juga bukankah kita tidak meminta daging mereka? Memakan
makanan di istana mereka? Kita memakan daun, mereka juga memakannya! Tuhan amat
adil karena menciptakan tumbuhan banyak sekali! Kita hanya memakan sebagian
buah-buahan dan dedaunan di bumi ini, kelopak bunga di bumi ini, ingat Coco,
hanya sebagian! Tapi mereka bringas membunuh kita! Mereka meracuni generasi
kita, bukankah kau tahu, Coco? Jika kita sudah kenyang, tak akan menambah lagi,
kita akan puasa menjadi kepompong!" aku menahan airmataku yang akan
meluncur. Coco iba menatapku. Ia menghela napasnya. "Lebih kejam, makhluk
itu baru saja membunuh kekasihku! KEJAM! KEJAAAMMM!! Aku tidak terima, Coco!
TIDAK! Mereka rakus!" kuluapkan segenap emosiku di depan Coco. "Atau
mungkin karena rupa kita, mereka membenci kita, Coco?"
"Aku harap tidak, Kawan.
Bagaimana mereka membenci kita karena keburukan wajah kita? Sementara mereka
tercipta jauh lebih indah daripada kita. Seharusnya mereka bersyukur, tak baik
menghina ciptaan Tuhan. Kau juga tak boleh merasa bangsa kita buruk rupa, cabut
omonganmu, Kawan!"
"Hah, aku khilaf. Maafkan aku, Coco." Kalimatku terputus. Aku
mengambil oksigen. Mentari bertambah semangat menyambar-nyambarkan lenteranya
ke lorong-lorong pepohonan yang tinggi. Aku bahkan tak mampu mendaki sampai
puncaknya. Dedaunan rimbun menutupi permukaan langit. Hanya melalui rongga perbatasan
pohon satu dengan yang lainnya, aku sanggup menatap langit. Jauh sekali di
mataku. Jauuuuhhhh!! Amat jauh! Aku tak kuat mengkhayalkan seberapa tingginya.
Kekasihku telah mendahuluiku terbang ke atas sana. Menembus langit ke tujuh.
Duduk di singgasana yang disediakan oleh Tuhan. Kuharap ia telah tenang di
sana. "Aku hanya sedih karena ditinggalkan oleh kekasihku, Coco."
"Kau akan bertemu dengannya di
surga!"
"Kuharap begitu." Aku mau
tak mau menyunggingkan senyuman.
Coco menatapku puas. Ia lantas
beranjak. Menaiki ranting pohon. Mencari tempat aman untuk lelap berhari-hari.
"Sampai jumpa di pertemuan selanjutnya saat kita menjadi kupu-kupu."
Sebentar lagi ia akan menjadi kepompong.
"Baiklah Coco, aku akan memakan
daun sebanyak-banyaknya sekarang! Kau duluan!"
Kukubur emosiku. Pinta ampunku
menguap lebar. Semoga Tuhan memberikan kebaikan untuk makhluk itu.
Aku memakan daun sebanyak-banyaknya.
Pandanganku sudah tak tertuju pada wanita itu. Aku tak ingin membuang-buang
waktu. Harus secepat mungkin berubah menjadi kupu-kupu.
Gendang telingaku menangkap suara
ranting rumput yang patah. Aku tak peduli, terus kulumat daun yang baru saja
aku gigit. Suara itu semakin mendekat. Lagi-lagi aku tak peduli. Barulah saat
aku sadar di atas kepalaku terdapat permukaan kaki makhluk itu, mataku pun
nyaris lompat.
"COCO! SELAMATKAN AKU!"
berusaha untuk lari? Ah, ilusi!
Langkahku lambat. Coco telah terlelap. "APA SALAHKU?" Kurasakan ngilu
yang meremukkan tulang-belulangku. Napasku megap. Sebelum perutku rata dengan
tanah, saat kesadaranku masih tersisa. Meski rasanya sudah setengah hidup
setengah mati, aku berdoa. 'Temukan aku
dengan kekasihku, Tuhan!' Lambat laun, dunia gelap. Malaikat maut baru saja
singgah di kali Belan.
Itulah yang akan ia pekikkan! Ulat yang
malang.
28
April 2015. Toko Biru. Kaliangkrik!
11:36.

Komentar
Posting Komentar